Rabu, 12 November 2014

Rumah Putih Besar Part 1


”Rara, jangan cepet-cepet dong jalannya!” aku mengeluh, setengah berseru kepada saudara kembarku. Rara, yang berada beberapa meter di depanku, memperlambat kayuhan sepeda gunungnya.
”Riri payah, ah! Baru segini aja dibilang kecepetan.” Rara mengejekku. Aku melengos. Memang salahku, yang lebih suka menghabiskan sore hari degan membaca buku di kamar daripada berolahraga naik sepeda. Berbeda dengan Rara, yang tomboy dan memang hobi naik sepeda.
Hari minggu yang cerah ini, Rara mengajakku bersepeda keliling kompleks. Sudah beberapa tahun keluargaku tinggal di komplek ini, namun aku belum pernah mengelilingi lingkungan rumah kami ini. Aku mengayuh sepedaku semakin cepat, berusaha menyusul Rara. Udara pagi yang sejuk berhembus semilir, membuat cardigan biru muda yang kukenakan melambai-lambai.
Aku berhenti di sebuah persimpangan. Terlihat sebuah rumah besar putih bergaya minimalis.
Refleks aku menghentikan sepedaku. Aneh. Ada perasaan familier saat melihat rumah itu. Seakan aku pernah melihatnya sebelumnya.
Rasanya seperti deja vu.
Bukan, ini bukan deja vu, bisikku dalam hati.

Aku memang benar-benar pernah melihat rumah itu sebelumnya—di dalam mimpi.
Ya, mimpi itu. Mimpi yang sering muncul diantara sekian banyak mimpi-mimpi burukku.
Aku sedang berjalan, ketika melintasi belokan itu. Sebuah rumah putih besar berdiri persis di persimpangan jalan. Rumah itu bergaya minimalis, dihiasi uliran berbentuk lingkaran di luar pagarnya. Aku menghentikan langkahku di depan rumah itu. Seakan ada kekuatan yang tak terlihat, yang memanggil-manggilku untuk mendekati rumah itu.
Aku sedang menatap balkon rumah berlantai tiga yang megah itu, ketika tiba-tiba tirai yang menutup jendela di balik balkon itu bergerak-gerak. Ketika tirai itu tersingkap, terlihat seorang anak laki-laki seusiaku memandang keluar. Ia berwajah tampan, dengan alis yang melengkung indah, hidung yang mancung, dan rambutnya yang ikal dan tebal. Garis wajahnya mengingatkanku pada pemain bola dari Italia yang posternya dipajang di kamar Rara, Fransisco Totti. Ia terlihat pucat, atau mungkin itu memang warna asli dari kulitnya yang putih?
Tiba-tiba, ia menengok ke bawah, seakan menyadari kehadiranku. Merasa tertangkap basah, aku berusaha mengalihkan pandanganku. Tetapi sulit rasanya. Seakan ada magnet tak terlihat yang menarik-narikku untuk terus memandangnya.
Ia menatapku, kemudian tersenyum lemah. Senyumnya sangat manis. Detik berikutnya, ia sudah menghilang seiring dengan tirai yang tertutup.

”Ri? Kamu kenapa?! Kok bengong, sih?!” suara Rara menyadarkanku dari lamunanku. Aku tersentak kaget.
”Uh, nggak papa kok, Ra. Cuma inget sesuatu.” jawabku gelagapan.
”Inget sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Rara penasaran.
”Bukan apa-apa kok. Ngomong-ngomong, kamu tau nggak, siapa yang tinggal di rumah ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil menunjuk rumah putih besar yang menjulang tepat di hadapan kami.
Rara mengerutkan keningnya. ”Setahu aku, rumah ini nggak ada yang nempatin, deh. Emangnya kenapa, Ri?” tanyanya lagi.
”Hmm.. Nggak papa. Ya udah, jalan lagi yuk!” aku kembali mengayuh sepedaku, diikuti Rara, menjauhi rumah itu. Firasatku mengatakan, aku harus segera meninggalkan rumah putih besar itu. Entah mengapa, tetapi rumah itu seakan memiliki aura tersendiri, aura misterius yang melingkupinya.  Aku memandang rumah itu dari kejauhan, melalui bahuku.
Rumah itu hanya menatap punggungku, membisu.

***
Tidak banyak orang yang tahu bahwa aku sering mengalami mimpi-mimpi buruk. Mimpi-mimpi yang tidak pernah kuharapkan kehadirannya, yang selalu menyiksaku setiap malam.
Pernah suatu saat aku bermimpi, Sasa, teman baikku, tertabrak mobil. Keesokan harinya, mimpi itu jadi kenyataan. Sasa benar-benar meninggal karena kecelakaan. Di lain waktu, aku bermimpi melihat Dena, sepupuku, tenggelam di laut. Beberapa saat kemudian, aku mendapat telepon dari tanteku, yang mengabarkan bahwa Dena meninggal karena tenggelam di laut. Dan banyak lagi mimpi-mimpi burukku, yang semuanya menjadi kenyataan. Mimpi-mimpi yang mulai kudapat sejak umurku yang ke-15 tahun.
Gara-gara itu, aku menjadi takut untuk memejamkan mataku setiap malam. Aku takut, suatu saat aku akan memimpikan kematian Rara atau Ayah dan Ibuku. Tetapi, aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa-siapa, bahkan kepada Rara sekalipun. Aku tidak mau dianggap sinting, dan mimpi-mimpiku itu terlalu mengerikan untuk diceritakan.
Dari semua mimpi-mimpiku, hanya mimpi tentang rumah itulah yang terjadi berulang-ulang, dan selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatiku.
Siapa sebenarnya anak itu? Dengan siapa ia tinggal di rumah besar itu? Dan mengapa, tatapan matanya itu, dalam mimpiku, seakan memohon kepadaku, meminta tolong?
***

Pagi yang tenang. Di sebuah rumah putih besar, terlihat seorang anak laki-laki berparas latin, mengenakan piama, terduduk di ranjang kamarnya.
”Aku mau keluar.” bisiknya lemah.
Ia berjalan mengitari kamarnya yang luas, tapi terlihat sepi. Kemudian matanya terpaku pada pintu kamarnya. Ia menghampiri pintu itu, memutar gagangnya, mendorongnya sekuat tenaga. Tapi, pintu itu tidak bergeming. Tetap kokoh pada tempatnya. Anak laki-laki itu memukuli pintu itu. Wajah tampannya terlihat putus asa. Ia terduduk, bersandar pada pintu. Wajahnya menengadah, sarat akan kesedihan.
Kemudian, ia bangkit tiba-tiba. Ia berjalan melintasi ruangan, menghampiri pintu yang menuju balkon. Ia menggerakkan gagang pintu balkon, tetapi terkunci, seperti biasanya. Ia menghampiri jendela, kemudian membuka tirai biru tebal yang menyelubungi jendela tersebut. Seberkas sinar matahari yang masuk, membuatnya meringis kesakitan. Tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk terus memandang keluar. Ia melihat sepasang anak kembar yang sedang mengayuh sepeda di jalanan depan rumahnya, tertawa-tawa bahagia. Ia tersenyum lemah, menatap mereka dengan pandangan iri.
Namun tanpa disadarinya, sebuah tatapan tajam rupanya sedang mengawasinya.
”CARLO!” sebuah suara keras membuatnya terlonjak. Buru-buru ia menutup tirai, dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Seorang wanita cantik berparas latin yang mirip dengannya membuka pintu, memasuki ruangan. Carlo tampak gemetar melihat kehadiran wanita itu. Wanita itu berteriak-teriak dalam bahasa asing kepada Carlo.
”Stupido ragazzo! Non si può uscire!”
Carlo hanya menunduk, diam saja dibentak-bentak seperti itu. Ia pun hanya bisa diam saat wanita itu mendaratkan beberapa pukulan di tubuhnya. Setelah puas, wanita itu meninggalkan ruangan, meninggalkan Carlo, yang hanya bisa terisak pelan.
***

Aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah-engah. Mimpi buruk lagi. Tentang rumah itu. Tetapi, mimpi ini berbeda dengan mimpi-mimpiku sebelumnya.
”...Carlo..?” aku berbisik perlahan.

Aku berjalan menyusuri jalanan kompleks, mau berangkat ke sekolah. Hari ini Riri sudah berangkat duluan, karena dia ada eskul sebelum jam sekolah dimulai. Di tengah jalan, aku melihat sebuah plang besar menghalangi jalanku.
”Perbaikan jalan?” aku membaca plang itu. Huh, itu artinya aku harus memutar jalan untuk sampai ke halte bis. Nyape-nyapein aja, rutukku.
Aku pun memutar arah, mencari jalan lain. Sambil berjalan, perlahan aku merasakan degupan keras di jantungku. Kalau memutar jalan, itu artinya mau tidak mau aku harus melewati rumah itu. Rumah Carlo...
Rumah putih besar itu sudah terlihat dari kejauhan. Aku memantapkan hatiku, dan mempercepat langkahku. Anehnya, begitu aku sampai di depan rumah itu, segalanya terasa berjalan begitu lambat. Entah mengapa sulit sekali untuk mempercepat langkahku.
Tertarik oleh kekuatan aneh, aku menengadah, menatap balkon rumah itu. Dari balik jendela, seseorang sedang memperhatikanku.
Carlo menatapku sambil tersenyum misterius.
***

Selasa, 11 November 2014

Pasukan Langit Rumbel BEM UI

          Ini kisah tentang pengalamanku saat pertama bergabung dengan keluarga baruku: Rumah Belajar BEM UI.

          Sekitar bulan Februari 2014, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi pendidik di Rumbel BEM UI. Rumbel BEM UI adalah rumah belajar yang menampung anak-anak maupun karyawan di sekitar UI dan Depok untuk mendapatkan pelajaran SD, SMP, Paket B, dan Paket C. Kenapa harus Rumbel BEM UI? Sejujurnya, aku berminat untuk mendaftar di Rumbel BEM UI sejak zaman mahasiswa baru, namun dengan berbagai alasan aku tidak pernah bisa untuk mengajar di sana, entah karena sibuk (waktu mahasiswa baru aku ikut 3 organisasi), capek, malas hari sabtu pergi ke kampus, dan alasan-alasan lain. Padahal sebenarnya Rumbel BEM UI tidak terlalu berat, kegiatannya hanya dilakukan seminggu sekali.

         Tahun ini, aku mengenyahkan segala alasan-alasan yang muncul untuk tidak mendaftar Rumbel BEM UI. Akhirnya, aku mendaftarkan diri menjadi pendidik walau aku sebenarnya tidak yakin bakal diterima, hehe. Setelah melewati tahapan wawancara, tak disangka aku terpilih menjadi salah satu bagian dari pasukan langit—julukan bagi para pendidik di Rumbel BEM UI. Selain Pasukan Langit, ada juga Pasukan Awan, yaitu Panitia Rumbel yang mengurus semua kegiatan Rumbel secara keseluruhan.

         Sejujurnya, aku selalu kagum setiap melihat anak-anak Pasukan Langit dan Pasukan Awan Rumbel. Bagiku, mereka terlihat sangat sabar dan tangguh karena bisa menghadapi berbagai macam tingkah anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD dan SMP yang kami ajar sangat aktif berlari-lari dan menjerit-jerit. Jika tidak kuat menghadapi mereka, bisa-bisa stress sendiri.

        Di Rumbel, aku masih harus belajar banyak. Sebelumnya, aku biasa mengajar anak-anak SMA di Mabit Nurul Fikri. Jelas, berbeda sekali tantangannya mengajar anak-anak SMA dibandingkan mengajar anak-anak SD dan SMP yang nggak bisa diam. Belum apa-apa, sudah berkecamuk sejuta kecemasan di pikiranku. Duh, gimana ya kalo gue ngajarnya ngebosenin? Gimana cara menghadapi anak yang nakal? Gimana kalo nggak ada yang ngerti apa yang gue ajarin?

         Suatu ketika, aku mendapat tugas mengajar IPS untuk anak-anak kelas 3 dan 4 SD. Sebelumnya aku pernah mengajar, tapi yang kelas 1,2 SD dan 1,2 SMP. Mata ajar yang diberikan oleh Kak Rizky, wali kelasnya kelas 3 dan 4 kebetulan tentang Jual-Beli dan Alat Tukar. Otakku berputar mencari metode mengajar yang asyik buat anak SD. Tapi, sampai sehari sebelum waktu mengajar, belum ada ide apa-apa di benakku. Lalu aku teringat, waktu hari Rabu aku pulang ke Tangerang dan menemukan sebuah benda lucu di toko souvenir. Tau mesin penjual permen karet yang ada di luar negeri kan? Yap, mesin yang biasanya dimasukkin koin terus tuasnya diputar, untuk ngeluarin permen karet. Waktu ngeliat mesin seukuran mug itu, aku terpekik gemas dan bertekad, gue-nggak-akan-pulang-sebelum-beli-mainan-itu. Walaupun diledek oleh adik-adik dan kakak-kakakku, akhirnya aku beli juga mesin itu.

Unyu kan?

Apa hubungannya mesin permen sama Rumbel? Nah, rencananya, aku mau membuat games berhadiah permen. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang aku kasih, dapat kesempatan memutar tuas mesin itu sekali untuk mendapatkan permen sebagai reward. Namanya juga anak-anak, pasti mereka senang bisa main sambil belajar, pikirku.

        Hari sabtu, aku membeli dua bungkus permen cha-cha untuk mengisi mesin itu. Pertama-tama, aku harus mengajari anak-anak kelas 4 SD. Sesampainya di Rumbel, tepatnya di PKM lantai 2, ada beberapa anak yang sudah menunggu. Aku tersenyum dan mengajak mereka berkenalan satu-persatu. Kebanyakan murid-murid kelas 4 SD adalah perempuan, cuma satu orang laki-lakinya. Aku bernafas lega. Bukan apa-apa, kebanyakan anak cowok SD yang kukenal adalah trouble maker. *stereotipe banget sih fah*

         Aku menjelaskan kepada mereka tentang alat jual beli dan alat tukar yang ada di masyarakat dan ciri-cirinya. 
“Di sini siapa yang suka jajan?”
“Aku kak, aku kak!” Beberapa anak langsung mengangkat tangannya, beberapa lainnya masih malu-malu.
“Di mana biasanya kalian jajan?”
“Di Mall kaak.”
“Di warung.”
“Di Indomaret.”
“Coba, kakak mau denger kalian cerita satu-satu, kalian pernah jajan di mana, apa yang kalian beli? Terus, biasanya kalian bayar pakai uang receh, uang kertas, atau kartu kredit?”

          Beberapa anak  menjawab pertanyaanku dengan antusias. Ada satu anak dengan rambut dikuncir dua yang super antusias (sayangnya aku lupa namanya. Aku memang bukan pengingat yang baik, hiks.) sampai-sampai suara beberapa anak yang lain menjadi teredam. Anak-anak seperti ini selalu membuatku merasa gembira, jarang-jarang loh ada anak SD yang berani seperti dia. Namun aku juga memperhatikan ada seorang anak berkacamata yang pendiam dan jarang menjawab, makanya kucoba memberikan kesempatan lebih baginya untuk menjawab.

        Tiba saatnya kuis. Di papan tulis, aku menggambar panel 10x10 yang berisi huruf-huruf yang sekilas terlihat acak dan tidak berarti apa-apa.
“Nah ade-ade, coba cari nama-nama tempat melakukan jual-beli. Yang duluan nemu angkat tangan, ceritain ke kakak apa yang kalian tahu tentang tempat jual beli itu. Yang bisa jawab,” aku mengangkat mesin permen dan menggoyang-goyangkannya di depan mereka. “Dapat kesempatan untuk memutar tuas mesin ini dan mengambil permennya!”
“Aku kak, aku kak!” Mata mereka berbinar-binar, siap untuk menjawab.
“Oke, siapa yang mau jawab pertama!”

        Tidak lama kemudian, aku sudah asyik bermain dengan anak-anak kelas 4 SD. Mereka pun sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab pertanyaan. Aku mengajak mereka membentuk kelompok untuk bergantian berdialog memperagakan proses transaksi jual-beli, dan kelompok lainnya kuminta untuk menebak tempat jual-beli dilakukan dan alat transaksi apa yang digunakan. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat. Mereka terpekik kegirangan saat mendapatkan kesempatan menggunakan mesin permen dan mengambil permen cha-cha di dalamnya.

Setelah selesai mengajar, aku bersiap-siap memberikan materi yang serupa di kelas 3 SD. Saat aku mengakhiri kelas, beberapa anak bertanya, “Kakak kapan lagi ngajar kita?” Sejujurnya, hatiku berbunga-bunga mendengar pertanyaan itu. Apakah ini artinya aku berhasil merebut hati mereka?

          Another class, another challange.
Waktu aku mendatangi kelas 3 yang letaknya di bawah pohon, situasi chaos sudah menyambutku. Beberapa anak laki-laki sedang kejar-kejaran dan guling-gulingan. Sementara di sudut sana, kulihat Kak Rizky sedang membujuk seorang anak perempuan berkerudung. Tak jauh dari anak berkerudung itu, seorang anak cantik berambut panjang sedang memunggunginya sambil cemberut. Tangannya disilangkan di depan dada.

         Kak Rizky menghampiriku, “Fah, ini di kelas 3 lagi ada yang berantem, Sita sama Siti. Kamu tolong bantu mereka buat berbaikan, ya?”
Aku mengangguk, walaupun aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mendamaikan mereka. Selama ini, kelas yang kuajar belum pernah ada dinamika di muridnya.

         “Kak, itu isinya permen ya? Mau dong!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk mesin permen yang kubawa.
“Boleh, tapi nanti ya abis jawab soal.” Aku memasukkan mesin permen itu ke dalam tas-ku.

        Aku mulai memberikan materi yang sama dengan materi kelas 4. Namun, berbeda dengan kelas sebelumnya, kali ini tidak ada yang memperhatikanku. Sita dan Siti bertengkar, duduk berjauhan dan saling memunggungi satu sama lain. Dua orang anak cowok saling memukul sambil berguling-guling. Dua orang yang lain berkejar-kejaran. Sisa anak yang ada perhatiannya teralihkan karena menonton anak-anak yang berkelahi. Suasana chaos.

         Aku berusaha menarik perhatian mereka, namun hanya sebagian anak yang memperhatikan materi yang kuberikan. Anak-anak lainnya sudah tidak fokus. Aku menghela nafas panjang, merasa pusing. Aku berusaha memanggil anak-anak yang sibuk sendiri, namun aku diacuhkan.

       Akhirnya aku menuliskan soal-soal untuk bermain kuis di papan tulis. Salah satu anak berusaha mengintip kunci jawabannya, sehingga aku menyingkir untuk menuliskan soal di papan tulis.
Saat aku berbalik, tak kusangka salah satu anak, sebut saja Aril, sudah membongkar tasku dan mengambil mesin permenku. Ia memutar mesinnya dan mengambil permen dari dalamnya.
Emosiku sudah tidak dapat dibendung lagi. Tidak sopan, dan aku merasa privasiku dilanggar karena tasku dibuka-buka sembarangan.
Aku bergegas menghampiri mereka dan mengambil mesin permen itu. “Oke, adik-adik.” Aku tak dapat menahan nada marah dalam suaraku, “Yang nggak mau belajar, nggak usah di sini. Kalian main ke lapangan aja, jangan ganggu teman-teman yang mau belajar!”
Semua anak terdiam. Tidak ada yang bersuara. Mungkin mereka kaget dengan reaksiku.
Aku merasa menyesal telah marah-marah kepada anak kecil. Suaraku melunak.  “Siapa yang masih mau belajar sama kakak? Kalau masih mau, duduk yang tenang. Kakak janji, abis ini kita main games. Yang masih mau belajar, angkat tangan.”
Semua anak mengangkat tangan. Aku merasa heran, mengapa mereka tiba-tiba jinak? Syukurlah.

         Akhirnya aku melanjutkan pelajaran dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak disangka, Aril yang membuatku marah-marah ternyata pintar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan. Mungkin ia merasa bersalah telah membuatku marah, dan bertekad menebusnya dengan mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Aku mengapresiasinya, dan tidak segan memujinya ketika ia menjawab dengan baik.

        Waktu belajar sudah selesai. Aku mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama. Satu persatu anak-anak berpamitan kepadaku, dan beberapa orang bertanya, “Kakak minggu depan ngajar kita lagi kan?”. Aku hanya tersenyum.

        Pengalamanku mengajar di kelas yang berisi anak-anak aktif dan sulit diatur sangat berkesan. Ternyata, untuk dapat mengendalikan anak-anak, kita harus meraih hati mereka terlebih dahulu. Jika mereka sudah menganggap kita sebagai teman, mereka akan percaya dengan kita dan menuruti nasehat kita.

       Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak kelas 3, mereka mengenaliku dan selalu menyalamiku. Terkadang saat aku sedang mengajar di kelas lain, mereka ikut bergabung karena ingin diajar olehku. Sungguh, aku terharu dengan tingkah mereka. Aku merasa menyesal pernah marah-marah kepada anak-anak lucu ini.

        Menjadi Pasukan Langit Rumbel BEM UI memberiku pengalaman tak terlupakan. Dulu kupikir, aku bisa memberikan banyak hal untuk anak-anak di Rumbel BEM UI. Namun ternyata, mereka memberiku lebih banyak dari yang kuberikan kepada mereka. Karena mereka, aku belajar bersabar. Aku belajar untuk mencoba memahami anak-anak. Aku belajar untuk menjadi teladan yang baik karena mendapat teguran dari celotehan polos mereka, misalnya “Kak Iffah kok minumnya sambil berdiri?”. Aku belajar untuk memberi tanpa mengharap balas jasa apapun, hanya senyum anak-anak itu yang membuat hilang rasa lelahku karena mengajar anak-anak aktif seharian.

Iffah bersama bocil-bocil


Pengalamanku menjadi Pasukan Langit yang berkesan kemudian membawaku menjadi Pasukan Awan.

Tapi, itu cerita yang lain :)

Senin, 10 November 2014

Kisah Para Ponsel



Sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, sudah sejak lama aku belajar bahwa nggak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya kalau beli barang-barang, pantang bagiku untuk merengek-rengek minta dibelikan Umi. Soalnya, biasanya kalau salah satu anak dibelikan barang sama Umi, pasti anak-anak lain akan merengek meminta dibelikan yang sama. Nggak apa-apa sih sebenarnya kalau cuma minta dibelikan jajan, tapi bagaimana kalau yang diminta itu barang mahal? Apalagi gadget. Hitung saja, berapa biayanya kalau setiap anak minta dibelikan HP, dikali delapan orang anak. Bisa bangkrut, hahaha
Karena itu, setiap handphone yang aku punya bukanlah hasil dibelikan sama Umi. Kebanyakan dikasih, beli sendiri dari tabungan, atau pernah ada hadiah menang lomba. Dan bagiku, setiap handphone yang pernah aku miliki menyimpan kisah karena perjuangan untuk mendapatkannya nggak mudah.

HP Canggih Tahun 2007

Tahun 2007 sudah banyak teman-temanku yang memiliki HP canggih yang diidam-idamkan anak remaja, misalnya Nokia 7610 (yg bentuknya kayak daun panjang) atau Nokia N-Series lainnya. Namun, HP pertama yang kumiliki waktu kelas 1 SMA adalah sebuah HP monokrom, yang ringtonenya masih monofonik. Bentuknya kecil segenggaman tangan, layarnya bulat, kecil dan hanya bisa memuat tiga baris SMS. HP itu dikasih sama Iti, kakakku, karena udah nggak dia pakai lagi.
(PS: tadinya aku mau ngasih foto Hpnya, tapi pas digoogle tidak ditemukan gambarnya karena memang sangat langka haha)

Sebagai anak remaja yang sedang dalam masa pendewasaan (alias labil), handphone yang kita punya sangat berpengaruh terhadap diterima atau tidaknya kita dalam pergaulan. Karena minder punya HP yang cupu, aku hampir tidak pernah mengeluarkan HPku di sekolah. Kalau mau SMS, aku melakukannya dengan HP yang dimasukkan di dalam tas. Imbas dari punya hape berfitur jadul adalah tersisihnya aku dari pergaulan. Waktu itu, lagi rame-ramenya aplikasi chat di HP kayak Mig33, MXit, dan lain-lain. Setiap hari teman-temanku ramai bercerita tentang topik bahasan di MXit tadi malam, dan aku hanya bisa bengong karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang lebih apesnya lagi, aku gagal berkenalan dengan salah satu senior cowok yang kukagumi, dan dia malah didekati duluan sama temanku yang berkenalan dengannya lewat MXit, hahaha. 
Ketika akhirnya teman-temanku mengetahui seperti apa HP yang sudah kumiliki, seperti yang sudah kuduga, mereka menertawakan HP-ku. Bahkan HP-ku memiliki julukan ‘HP Alien’ karena bentuk layarnya bulat seperti helm astronot. Saat itu aku hanya bisa ikut tertawa bersama teman-teman, namun ledekan mereka membuatku bertekad untuk menabung demi membeli HP yang lebih canggih.

Waktu SMA, uang jajanku tidak terlalu banyak, hanya 10 ribu sehari. Setelah dipakai buat ongkos dan makan siang, hanya sebagian yang bisa aku sisihkan. Namun tekad untuk memiliki HP canggih membuatku rela bela-belain untuk tidak jajan. Disaat lebaran adik-adik atau kakak-kakakku berhura-hura dengan uang hasil THR, aku menahan diri untuk tidak membelanjakannya.
Setelah menabung sekian lama, kelas 2 SMA akhirnya aku memiliki uang yang lumayan untuk membeli HP yang agak bagus. Kebetulan saat itu Franklin, temanku di kelas sebelah mau menjual HPnya yang lama. Walaupun bekas milik Franklin, fitur-fiturnya yang sangat bagus membuatku tertarik dan memutuskan untuk membelinya.
Sony Ericsson T650

Ini adalah salah satu HP-ku yang paling kusayang karena canggih. Kameranya super bening, nggak kalah sama hasil aplikasi Camera360 sekarang. Pokoknya, apa yang difoto kamera HP-ku bisa lebih cantik daripada aslinya. Bahkan HP-ku sering dipinjam sama teman-temanku yang gaul untuk dipakai berfoto-foto. Beberapa kali di acara kelas, aku sering mendokumentasikan kegiatan kelas karena HPku itu. 
Mungkin karena perjuangan mendapatkannya berat, HP ini jadi HP-ku yang paling awet. Pernah hampir kecopetan tiga kali, namun aku berhasil memergoki pencopet-pencopet yang mau mengambilnya. HP kesayanganku ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya *halah* di awal Tahun 2011. Mati total dan tidak bisa menyala lagi.

Saat itu, kebetulan aku mengikuti Try Out SNMPTN Fusion yang diadakan oleh Mabit Nurul Fikri. Try Out Fusion memberikan hadiah kepada peserta Tryout dengan nilai tertinggi, dengan hadiah pertama Notebook (Laptop), hadiah keduanya HP, dan hadiah ketiganya Hard Disk. Waktu mengikuti Try Out aku tidak mengharapkan apa-apa, murni ingin mengetes nilai SNMPTNku saja. Alhamdulillah, hasil Try Out ternyata aku jadi juara II IPS dan Muthi jadi juara III IPS.
Aku mendapatkan hadiah HP Samsung Champ, yang kemudian menggantikan HP-ku yang rusak.
Saat menjadi mahasiswa baru Tahun 2011, aku masih menggunakan HP Samsung Champ. Namun, HP adalah gadget yang memiliki pergerakan tren sangat cepat. Saat itu, HP wajib yang dimiliki anak kuliah adalah Blackberry (BB). Setiap anak saling bertukar informasi tugas-tugas OSPEK dan tugas-tugas kuliah dengan cepat lewat Blackberry Messengger (BBM). Karena aku memang tidak memiliki BB, maka informasi yang kudapatkan tidak secepat anak-anak lain yang bergabung di grup BBM. Begitu pula dengan organisasi, banyak info organisasi yang terlambat kudapatkan karena tidak memiliki BB. Rasanya kejadian zaman SMA terulang. Aku menjadi kaum termarginalkan karena tidak punya BB *lebay*
Akhirnya aku merayu kakakku, Imah, yang sudah kerja dan gajinya lumayan. Aku merayu agar ia memberikan BBnya kepadaku. Awalnya Imah tidak mau memberikan begitu saja, tapi karena ia membeli BB yang baru, akhirnya BB lamanya berpindah tangan kepadaku. BB yang kumiliki saat itu adalah BB sejuta umat yaitu Blackberry Gemini.

 Semester 5, BB yang kumiliki sudah mulai ngadat, mulai mati-nyala sendiri tanpa sebab. Akhirnya ketika BB itu mati total, aku terpaksa merelakan uang tabunganku untuk membeli penggantinya. Sebab saat itu, kesibukanku yang lumayan padat menuntutku untuk memiliki alat komunikasi. Akhirnya aku membeli HP pengganti di Margo City, yaitu Samsung Galaxy Star.


Awalnya aku cukup puas ketika membeli HP itu karena HP itu kameranya 3 Megapixel, Touchscreen, dan OSnya sudah Android pula. Sayangnya, aku melakukan kesalahan fatal saat membeli karena aku tidak menyadari bahwa jaringan Galaxy Star adalah... 2G. Iya, 2G. Artinya sinyalnya akan sangat-sangat lelet karena tidak mencapai jaringan 2G. Di tempat-tempat tertentu, sinyalnya sama sekali hilang. Walaupun Android bisa mendownload banyak aplikasi, aplikasi itu akan sia-sia karena hanya bisa berjalan lancar saat aku menggunakan wi-fi kampus. Tanpa wi-fi, HP ku itu super duper lelet. Akhirnya hanya aplikasi Whatsapp yang bisa kugunakan dengan lancar.
Selain itu, HPku juga memiliki kekurangan karena tidak bisa membaca banyak dokumen. Padahal bagiku, HP tidak hanya sekedar alat komunikasi atau untuk buka social media, tetapi juga penggunaannya harus dimaksimalkan untuk segala aktivitas. Misalnya google maps untuk mencari alamat, membaca ebook ataupun slide, dan merekam kuliah dosen di kelas.
Mulai terpikir di benakku untuk mengganti HP. Aku mulai browsing, mencari spesifikasi HP yang kuinginkan yang sesuai dengan jumlah uang di tabungan. Sudah ada beberapa HP yang kuincar, misalnya Galaxy Ace III seperti punya Camila.
Suatu hari, Imah kakakku mengeluhkan HPnya, "Duh, HP Imah sering kebanting sama Alika jadi banyak lecet. Ganti HP aja kali ya?"
Alarm langsung menyala di kepalaku memberikan ide. Aku mulai merayu-rayu dan sedikit membujuk Imah untuk membeli HP baru. Beberapa kali aku browsing HP dan menunjukkannya kepada kakakku, "Mah, HP Samsung Galaxy Grand kayaknya bagus deh."
 Setelah beberapa kali bujukan halus, Imah membolehkanku untuk memiliki HPnya yang lama kalau dia mengganti HPnya. Dengan syarat, aku menjadi pesuruhnya. Pokoknya bila Imah punya kemauan, aku yang disuruh-suruh. Disuruh beli makanan, disuruh mengganti popok Alika, disuruh menjaga Alika, dan lain-lain. Kalau aku menolak, ia dengan entengnya berkata, "Yaudah kalau ga mau HP Imah, tinggal Imah jual." Aku pun terpaksa menurut.
Namun kakakku yang satu itu memang PHP. Sudah dua bulan ia memintaku jadi pesuruh, namun ia tak kunjung mengganti HPnya. Akhirnya aku sudah tidak mood dan sudah tidak menanggapinya lagi setiap kali ia bilang, "Duh, kapan ya mau ganti HP? Sibuk melulu nih." sambil melirikku.
"Basi."

Akhirnya, suatu hari aku dan keluarga berjalan-jalan di Mall. Ketika melewati counter HP, aku merayu-rayu Imah untuk membeli HP. Setelah memilih-milih, Imah melakukan transaksi dan membawa pulang HP Galaxy Grand. Aku tersenyum-senyum senang. "Mana HP LGnya?" Tanpa basa-basi aku meminta HPnya yang lama.
"Nggak sekarang Imah kasih. Imah masih make." Ternyata, SimCard Imah yang lama harus dipotong disesuaikan dengan ukuran SimCard HP baru. Namun mengurus SimCard tersebut harus di Gerai Telkomsel yang letaknya agak jauh. Dan Imah baru bisa melakukannya minggu depan.
Tak sabar menanti lebih lama, akhirnya aku berkata, "Yaudah ipah aja yang ngurus. Sini."
Lalu aku berpisah dari keluargaku dan pergi sendiri ke Gerai Telkomsel untuk mengurus SimCard baru. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya jadi juga SimCard yang diinginkan Imah.
Akhirnya prosesi serah-terima HP terjadi juga.

Finally

Minggu, 09 November 2014

Pertemuan dengan Si Pencuri Hati


Setahun yang lalu, tepatnya 10 Oktober 2013 adalah pertama kalinya aku bertemu dengan si pencuri hati. Di tengah padatnya agendaku saat itu—antara lain jadi Wakadept Pendidikan dan Keilmuan BEM FHUI 2013, mempersiapkan diri untuk mooting ujian Praktek Perdata, dan jadi tim sukses pemenangan pemilu untuk Andi-RD, aku dan keluarga sibuk menanti-nanti waktu pertemuan dengan si pencuri hati. Sampai suatu hari, aku mendapat telepon dari Umi, yang memintaku untuk segera ke Rumah Sakit bersama dengan yang lain. Setelah menunggu di bangku ruang tunggu RS kira-kira 12 jam, pada tanggal 10 Oktober 2013 saat azan subuh berkumandang, akhirnya aku menatap matanya untuk pertama kalinya.
Namanya Meyna Alika Wrestimurti.
“Pah, gimana muka ade bayinya? Cantik nggak?” tanya Nana, kakakku, saat melihatku keluar dari ruang operasi. Aku yang shock sehabis mengintai proses persalinan (serius, jangan pernah ngeliat proses persalinan. Bikin nggak mau kawin) dengan asal menjawab, “Yah, namanya juga bayi baru lahir, mukanya kayak gimana sih? Belum jelas bentuknya, masih kayak monyet.”
Gantian Nana yang shock, membayangkan punya keponakan mukanya kayak monyet.
Newborn Alika, ternyata nggak begitu mirip monyet kok...
Sambil menanti-nanti Alika di bawa pulang ke rumah, perasaan paranoid menghampiriku. Karena kebanyakan nonton sinetron, sempat ada perasaan cemas kalau Alika ditukar sama bayi lain di kamar bayi. Akhirnya aku berjaga di depan kamar bayi sambil memandangi Alika dari sela kaca, mengamati bayi kecil yang sedang tertidur saat dihangatkan di inkubator.
Gimana ya, rasanya jadi tante?

Berhubung Alika keponakan pertama dari anak pertama, jadilah tante-tante Alika super heboh memperebutkan Alika. Cuma untuk disayang-sayang ataupun dipakai sebagai properti objek foto “kode” (tau kan foto kode? Foto gadis manis menggendong bayi gitu deh). Namun, aku mengalami diskriminasi karena nggak ada satupun orang yang membolehkanku menggendong Alika. Alasan mereka, aku tidak boleh menggendong bayi karena aku careless, jadi takutnya Alika jatuh waktu digendong. Ketika aku bersikeras ingin menggendong Alika, semua saudaraku ramai-ramai meneriakiku karena cara gendongku salah, lalu langsung merebut Alika dari gendonganku. Hal ini sangat membuatku kesal. Logikanya, kalau cara gendongku salah, ya seharusnya aku diajari dong supaya bisa menggendong bayi dengan benar. Kalau aku nggak pernah dibolehin gendong Alika, gimana aku bisa tahu cara menggendong bayi yang benar?
Baru setelah Alika agak besar, aku diperbolehkan menyentuh Alika dan bermain dengan Alika. Sedikit banyak, aku belajar cara parenting dari Alika. Aku belajar bagaimana cara memandikan bayi, cara memakaikan baju bayi, cara mendiamkan tangisan bayi, dan cara mengganti popok (walaupun saat tahu Alika BAB, reaksi spontanku adalah kabur hahaha).
Senyum Alika yang bikin meleleh
Ketika Alika sudah berumur beberapa bulan, ia sudah dapat menunjukkan respon kepada orang lain. Alika tipe anak yang mudah tersenyum, ini yang membuat orang-orang gampang jatuh hati dengannya. Tapi yang paling membuatku iri, aku melihat tatapan mata Alika dan Mamanya satu sama lain seperti tatapan seseorang yang bertemu dengan cintanya setelah sekian lama. Bahkan Alika yang masih bayi dapat mengungkapkan rasa cinta kepada Mamanya hanya dengan senyuman. Ketika Mamanya kerja, Alika happy-happy aja tuh bermain di rumah dengan Umiku dan mbak-mbaknya. Tapi ketika melihat Mamanya pulang dari kantor, Alika langsung berakting menangis sedih seolah-olah ia menderita karena ditinggal seharian. Ia menjadi bayi yang manja hanya di depan Mamanya.
Mom & Daughters smile
Ternyata, Alika juga menyayangi tante-tantenya. Suatu hari aku sedang berbaring tertidur, Alika merangkak mendekatiku dan menatapku, lalu mencium keningku. So sweet. Terkadang ketika di pagi hari aku masih tertidur sementara Alika sudah bangun, Alika akan menepuk-nepuk (sebenarnya, menabok) wajahku agar aku terbangun. Sesekali disertai ucapan “Baaa!” yang mungkin maksudnya untuk mengagetkanku.
Sesungguhnya ini bukan foto kode
Kata orang, kehadiran seorang bayi dapat memberikan cahaya kebahagiaan di rumah. Itu juga yang aku rasakan sejak ada Alika. Dulu, aku dan kakak-kakakku biasanya baru larut malam sampai di rumah karena ada urusan ini-itu. Sampai di rumah pun biasanya kita langsung tertidur kecapekan. Rumah rasanya hanya sekedar tempat singgah. Sejak ada Alika, aku dan kakak-kakakku selalu tidak sabar untuk buru-buru pulang ke rumah, dimana ada sesosok bayi manis yang menyambut kedatangan kita sambil tertawa lebar. Keluargaku juga jadi sering berkumpul, untuk sama-sama memperhatikan tingkah polah Alika. Alika yang suka berjoget kalau ada lagu yang diputar, Alika yang sujud menirukan tante-tantenya yang sholat. Sadar atau tidak, sejak Alika ada, rumah terasa jauh lebih hangat.
Bagiku, Alika adalah pencuri hati.

Mungkin beberapa orang sudah muak melihatku yang tidak hentinya mengupload foto-foto Alika di beberapa social media-ku, seperti di instagram, line, atau path. Mungkin juga beberapa orang sudah bosan mendengar ocehanku yang isinya “Alika begini” atau “Alika begitu”. Sejujurnya, aku pun takut bila rasa cinta yang kurasakan kepada Alika sudah berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tante bahagia yang sedang jatuh cinta dengan keponakannya yang pertama. Aku menyayanginya dan ingin menjadi bagian dari masa-masa awalnya menjejak dunia, walaupun mungkin kalau Alika sudah besar, dia tidak ingat denganku yang waktu kecil sering mengajaknya main cilukba.
Anak Sholehah

Tidak terasa, sudah setahun Alika tinggal bersama keluargaku. Sebulan lagi, Papa Alika akan menyelesaikan masa studinya di Australia. Artinya, sebulan lagi keluarga kecil Alika akan pindah ke rumah mereka yang letaknya super jauh, dekat Bekasi (nah loh Bekasi. Kebayang kan sejauh apa?). Sejujurnya aku tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya rumah tanpa kehadiran Alika. Alika, yang biasanya tiap pagi kuhampiri begitu membuka mata, yang setiap sore kuajak bermain cilukba, yang setiap minggu kuajak bermain-main di taman, nantinya akan begitu jauh dari mata. Bahkan aku tidak tahu apakah aku akan punya kesempatan sekadar seminggu sekali untuk bertemu dengan Alika. Jujur, aku belum siap.
Alika, tante menyimpan harapan besar untuk kamu. Semoga kamu tumbuh jadi anak yang ceria, sholehah, penyanyang, cerdas, dan berguna buat bangsa ya. Terima kasih, karena kamu tante belajar banyak. Tante belajar gimana caranya ngasuh bayi. Tante belajar untuk mengurangi kebiasaan jelek tante karena khawatir kamu akan meniru kebiasaan tante (bayi memang peniru, bukan?). Tante akan berusaha jadi contoh yang baik untuk kamu, selama masa-masa emas pertumbuhan kamu. Nanti kalau tante punya anak, tolong jaga dan sayangi adik sepupu kamu ya? Jadilah teladan yang baik untuknya.
Tante sayang Alika.


PS: Tulisan ini adalah bagian dari Project #30HariNulisBlog Iffah. Jadi setiap hari, Iffah akan berusaha memposting tulisan di blog ini. Entah cerpen, puisi, atau sekedar curhatan alay. Harap maklum ya, apa saja akan saya publish untuk memenuhi target #30HariNulisBlog

Kamis, 25 September 2014

Rindu Bertepuk Sebelah Tangan



Kawan, tahukah apa siksaan yang bagiku paling menyakitkan? Bukan, bukannya ditampar, dikhianati, atau dihina. Bagiku, siksaan yang bisa membuatku menangis semalaman adalah ketika didera rindu yang bertepuk sebelah tangan.

Pernahkah kau mengalami rindu bertepuk sebelah tangan? Ya, itulah kondisi ketika rindumu tak terbalaskan. Bahkan bibirmu kelu untuk sekedar mengucap rindu, karena jauh di lubuk hatimu, kau takut. Kau takut ketika kau mengungkapkan kepada seseorang, “Aku rindu” , ia tidak membalas dengan luapan perasaan yang sama besarnya. Atau, ia bahkan membisu, tidak merespon ungkapan perasaanmu, karena... ia memang tidak rindu padamu.

Bagiku yang sulit untuk mengungkapkan perasaan, rindu sesulit itu untuk dikatakan. Akhirnya rinduku hanya bisa diungkapkan dengan sandi-sandi seperti, “Kamu lagi dimana?” , “Eh, kayaknya udah lama kita nggak ngobrol.” Atau sesimpel kata-kata, “Makan bareng, yuk.” Bodohnya aku, padahal aku tahu kamu bukanlah Kriptograf yang ahli menerjemahkan sandi. Akhirnya aku menyerah, membuang rasa maluku jauh-jauh dan berkata, “Aku rindu, tak bisakah kita bertemu?” Dan kamu, dengan sejuta permohonan maafmu bilang kamu tidak bisa. Aku sibuk, ada itu, ada ini. Ah, mungkin aku yang egois dan tidak mau memahami kesibukanmu, tapi bukankah seharusnya seorang teman akan meluangkan waktunya untuk menemui temannya, walau hanya sedetik? Padahal aku rela meluangkan waktuku berjam-jam untuk dapat menemuimu, berbagi cerita bersamamu. Tidak sadarkah engkau, rindu ini begitu mengganggu.

Siksaan berlipat ganda bagiku ketika aku bertatap muka dengan engkau yang kurindu. Dalam hatiku, aku ingin rasanya menjerit, menubrukmu, memelukmu. Menumpahkan kerinduan yang terpendam, menceritakan kisah yang tersimpan. Namun, melihat gesture-mu yang tidak menyambutku, aku ragu. Akhirnya luapan rindu kutahan, berganti dengan sekedar lambaian tangan dan senyuman canggung. Dan basa-basi yang benar-benar basi. Lalu kita saling berpisah jalan, berpura-pura ada urusan lain untuk menghindari percakapan canggung lebih lama lagi. Sepertinya, kamu benar-benar tidak rindu padaku. Tapi aku, tidak. Aku merindu.

Rindu bagiku bertambah rumit ketika merindukan teman-teman yang sudah lama tak bertemu. Kalian selalu bilang, aku rindu, ayo kita ketemu. Namun tidak ada usaha sedikitpun dari kalian untuk menyambut ajakan kerinduanku, padahal aku sudah mempersiapkan pertemuan. Ketika aku menanti-nanti dengan penuh harap, sampai petang menjelang, tidak satupun dari kalian yang datang. Sejuta alasan dikeluarkan, sejuta maaf diluncurkan. Sepertinya, rinduku memang bertepuk sebelah tangan. Sebab, hanya aku yang menginginkan dan berusaha agar kita bisa bertemu. Kalian? Tidak.

Pada akhirnya, ketika kau tidak membalas rinduku, aku hanya bisa menumpahkan rindu dengan menyusuri lini masa media sosialmu. Atau melihatmu dari kejauhan, hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Hanya untuk memastikan kamu sehat, kamu bahagia dengan kondisimu sekarang. Tanpa pernah berharap suatu saat kau akan menyambut rinduku yang bertepuk sebelah tangan.

Akankah suatu hari rinduku bersambut?

Pengalaman telah mengajariku untuk tidak terlalu berharap.

Teruntuk teman-teman yang selalu kurindu, tapi tidak pernah membalas rinduku. Ketahuilah, rindu itu menyiksa.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Wanita Luar Biasa di Balik Pria Luar Biasa



“Behind every great man, there is a great woman”

Entah siapa yang mencetuskan frasa ini pertama kali, tetapi saya setuju seratus persen dengan frasa ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peran wanita yang seolah harus “di belakang”, wanita memang memiliki sebuah tugas istimewa untuk menyokong seorang pria yang penting di kehidupannya.

“Great woman” yang akan saya bahas disini adalah wanita yang mendampingi seorang pria yang memiliki peran dan posisi penting, entah itu seorang Presiden Negara, seorang Menteri, atau bahkan seorang pemimpin organisasi kemahasiswaan.

Orang bilang, kesuksesan seorang pria tidak terlepas dari sentuhan tangan seorang wanita. Entah ibunya, isterinya, anaknya, atau kekasihnya. Apa peran “great woman” ini sesungguhnya?

Peran great woman sangat penting; Kadangkala, ia harus bersabar kala great man-nya terkena masalah. Bukan hanya itu, ia juga memiliki tugas untuk menguatkan great man-nya. Ia harus bisa menjaga sikap dan tata kramanya, karena jika ia salah bersikap, great man-nya bisa jadi ikut terkena masalah. Seorang great woman kadangkala ikut memikirkan masalah yang tengah dihadapi great man-nya, dan ikut memberi solusi atas masalah tersebut.

Tidak mudah bukan jadi great woman? Orang yang seringkali harus tampil di belakang layar daripada muncul dengan narsisnya ke pentas.

Saya baru menyadari betapa pentingnya peran “great woman” ini ketika melihat beberapa peristiwa yang terjadi di sekitar saya: Ibu Ani Yudhoyono, Michelle Obama, dan teman-teman perempuan saya, sebut saja namanya Mawar dan Melati.

Seperti yang sudah kita ketahui, Ibu Ani Yudhoyono sering menimbulkan kontroversi dengan akun instagram kesayangannya. Tentu saja, menurut saya kemarahan Ibu Ani sangat manusiawi mengingat beberapa komentar yang menjadi masalah di instagramnya seringkali tidak penting, bahkan seolah-olah memancing Ibu Negara untuk mengamuk. Namun ketika mengamuk, Ibu Ani tampaknya lupa bahwa ada yang lebih penting dibandingkan menanggapi komentar iseng di instagramnya: menjaga kehormatan suaminya, Pak SBY sebagai kepala negara RI. Tentu saja, sikap Ibu Ani yang reaktif menjadi bulan-bulanan media massa. Sikap Ibu Ani seolah menampakkan bahwa Pak Presiden bahkan tidak bisa menjaga sikap istrinya, di rumah tangga yang ia pimpin sendiri. Apalagi menjaga sebuah negara?

Kasus kedua, kasus malang yang menerima Ibu Negara AS yaitu Michelle Obama. Seorang great man seperti Barrack Obama seringkali memancarkan kharisma yang dapat membuat wanita-wanita terpesona. Tentu saja, berat sekali bagi seorang great woman seperti Michelle Obama untuk membiarkan great man-nya didekati oleh wanita lain, atau bahkan direbut oleh wanita-wanita yang mungkin tidak seluarbiasa Michelle Obama. Salah satu tantangan menjadi great woman adalah selalu meng-upgrade dirinya untuk dapat mengimbangi dan melengkapi sang great man. Entah dari segi spiritual, kecerdasan, penampilan, atau kekayaan. Jika tidak, mungkin saja sang great man akan mencari great woman-great woman yang lain (sejujurnya, great man yang seperti itu dimata saya akan turun derajatnya menjadi ordinary man).

Lalu, ada juga kisah tentang Mawar. Mawar adalah kekasih salah seorang pimpinan organisasi kemahasiswaan di kampus. Namun, sepertinya ia suka sekali mengekspos apapun yang ia rasakan kepada kekasihnya—yang pejabat itu—di sosial media. Misalnya, saat mereka sedang bertengkar, tak segan-segan ia menyindir great man-nya itu di social media twitter. Dengan me-mention akun twitter great man-nya di akhir kalimat, tentu saja ia tidak bermaksud menyembunyikan drama mereka dari khalayak ramai. Yah, mungkin ia lupa kalau banyak followernya yang merupakan orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada great man-nya, dengan memilihnya menjadi pemimpin mereka. Pernah sekali, ia mengupdate status, “Ditemani Dia membeli br*”. Entah huruf apa yang disensor oleh tanda bintangnya, tapi tindakannya tak urung menimbulkan suudzon di pikiran banyak orang. Ia, entah sengaja atau tidak sengaja, telah menghancurkan harga diri great man-nya di depan khalayak ramai. Menurut opini saya, ia telah gagal menjadi great woman.

Ada seorang wanita lain bernama Melati, juga kekasih seorang great man. Lucunya, sepertinya Melati tidak suka jika kekasihnya menjadi great man. Disaat great man-nya harus mengikuti agenda-agenda untuk meningkatkan kapasitas dirinya sebagai great man, Melati sering tidak memberikan izin. Terkadang ia malah mengganggu agenda great man-nya itu dengan mengajaknya ke pesta, ke Mall, atau hal-hal lain yang sesungguhnya tidak lebih penting daripada agenda sang great man saat itu. Melati membuat great man-nya bingung harus memilih: antara mengikuti ajakan great woman-nya atau mengikuti agenda-agenda penting. Menurut saya, Melati belum siap untuk menjadi seorang great woman. Ia menghalang-halangi keinginan great man-nya untuk berkembang.

Kasus-kasus tersebut mau tidak mau saya merenung. Ternyata bukan perkara mudah menjadi seorang wanita luarbiasa di balik pria luarbiasa. Banyak yang harus dipelajari, banyak yang harus dipersiapkan. Tidak semua wanita bisa memerankan posisi yang sesunggunya sangat mulia itu. Padahal kita semua suatu saat akan menyokong seorang pria yang penting dalam hidup kita: entah itu suami ataupun anak.
Semoga, iman, ilmu, dan sifatku akan cukup baik untuk menyokong great man-ku kelak...

-Iffah, who still learn to be a great woman for my future great man.

Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Inggris (2)


Program camp di Kampung Inggris setiap malam menurutku lumayan seru. Hari selasa, tiga orang speaker wajib presentasi di camp masing-masing. Topiknya bebas, yang penting dalam bahasa Inggris. Rabu, kita berkumpul di camp pusat, gabung laki-laki dan perempuan, untuk debat. Selain debat, hari rabu adalah hari hukuman buat pelanggar aturan terbanyak di camp. Yang melanggar wajib speaking, dan harus di depan gerombolan camp lawan jenisnya. Pelanggar terbesar wajib speaking di tengah-tengah aula dengan microphone. Hari kamis adalah hari wajib baca yasin, dan salah satu murid dipilih untuk pidato dalam bahasa Indonesia di depan teman-teman.
Aku selalu bersemangat mengikuti semua program camp, hitung-hitung sambil belajar. Alhamdulillah selama di pare, ada aja kesempatan untuk mencoba semua program camp. Aku kebagian tugas presentasi hari selasa, dalam dua kali sesi debate pun aku menjadi speaker. Di dalam beberapa kesempatan, aku mencoba jadi peserta yang paling aktif dan menonjol, walaupun bahasa inggris masih belepotan. Soalnya kupikir, udah jauh-jauh ke Pare, sayang banget kalau aku nggak memanfaatkan setiap kesempatan sebaik-baiknya, apalagi waktu yang kupunya cuma dua minggu. Yah, sejujurnya nggak semua speech atau debate yang kujalani berjalan sukses, tapi at least aku sudah berani mencoba :)
Camila dan beberapa anak di camp mendapat tugas sebagai Miss Punishment. Tugasnya, mencatat setiap pelanggaran bahasa yang dilakukan oleh anak-anak, dan menuliskannya di papan punishment beserta jumlah denda-nya. Yang membuatku terkadang terheran-heran, nominal denda-ku di papan punishment setiap hari bertambah. Kok mereka tau ya kalau aku diam-diam suka ngobrol pake bahasa Indonesia?
Apa Camila yang ngelaporin? Huahahaha tidaak mungkiin. Soalnya, aku biasanya seenaknya ngobrol bahasa Indonesia di kamar bareng Camila dan Liv. Dengan pintu tertutup tentunya, takut Miss Punishment yang lain denger. Kita berdua sudah kongkalingkong, Camila nggak akan melaporkan aku dan aku nggak akan melaporkan Camila (nepotisme ceritanya, hahaha). Buat Camila, ancaman itu lebih menakutkan karena jika Miss Punishment melanggar, denda mereka dua kali lipat.
Hari demi hari, tumpukan denda kita semakin bertambah. Iya, karena mungkin banyak yang nge-gap kita ngobrol pakai bahasa Indonesia. Puncaknya di Rabu berikutnya, aku, Camila, dan Liv terpilih jadi terhukum yang wajib speaking saat agenda camp bersama.
Aku dibawa oleh mentor camp ke sebuah sudut, dan ia menyuruhku speech di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok. Mereka menyorakiku, mungkin kegirangan ada bahan untuk diledekin. Perasaan grogi merambatiku, maklum aja, speaking di depan cewek aja terkadang aku masih grogi, apalagi di depan gerombolan cowok-cowok yang memasang wajah iseng ini.
Aku mulai membuka mulut, memaparkan speech-ku yang berisi kampanye untuk tidak Golput dalam pemilihan presiden. Dalam bahasa Inggris, tentunya. Muka-muka iseng tadi berubah menjadi bengong, setengah menganga.
Rasain, nggak ngerti kan gue ngomong apa. Makanya jangan main-main sama anak hukum. Batinku.
Setelah speech, berlangsung tanya jawab antara aku dan audiens-ku. Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan kosakata yang masih pas-pas-an. Setelah selesai, buru-buru aku hengkang dari hadapan mereka sebelum diledekin lagi.
Selama di Pare, aku, Camila, dan Liv memutuskan untuk menjadi anak yang ambisius. Ya iyalah, Cuma dua minggu ini, nanggung kalau nggak ambi, pikirku. Setiap malam setelah selesai acara camp, kita mencari cafe-cafe untuk latihan soal-soal TOEFL sambil makan malam. Begitu juga di setiap waktu luang, kita menyempatkan untuk belajar bersama. Keambisiusan kita membawa hasil, setidaknya nilai TOEFL kita lumayan bagus. Aku mencapai nilai TOEFL tertinggi 600, Camila 500-an, Liv 400-an (yang sebenarnya gede banget, mengingat Liv baru lulus SMP). Kita ambi dan kita bangga!
Oh iya, ada satu hal yang sangat kucinta dari Kampung Inggris. Apa itu? Makanan di sini murah-murah banget suer nggak bohong. Suatu ketika, aku menyantap menu ayam penyet + nasi + telur + minuman, harganya Cuma sepuluh ribu. Mungkin murah atau mahal itu relatif buat semua orang, namun buatku yang tinggal di Jakarta dan biasa makan di kantin FH yang sekali makan bisa 20 ribuan, harga segitu benar-benar bikin terharu. Setiap malam, kita makan di tempat yang berbeda-beda, namun nggak ada yang menguras kantong. Jajan paling hedon aja cuma abis 15 ribu. Menu favoritku di Pare adalah ayam penyet, tempe penyet, dan telur penyet, pokoknya segala sesuatu yang dipenyet deh. Hidup makanan Pare yang murah dan enak!
Oh iya, cuaca di Pare sangat nggak enak, khususnya buat perempuan. Pertama, mataharinya terik sepanjang waktu. Jadi yang nggak mau item, sedia aja alat-alat pelindung dari matahari kayak sunblock, masker, sarung tangan, dan topi lebar. Jangan khawatir, di Pare banyak yang jual barang-barang tersebut dengan harga terjangkau. Selain itu, udaranya kering dan berpasir. Seringkali, kita cewek-cewek harus sering keramas karena rambut jadi lepek karena udara yang kering dan berpasir itu.  
Overall, selama di Pare, banyak pengalaman yang meningkatkan skill bahasa Inggris-ku. Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, “Fah, belajar bahasa Inggris di Pare ngaruh nggak sih?”, gue akan jawab, “Bagi gue, sangat ngaruh.” Setidaknya walaupun aku belajar di Pare Cuma dua minggu, atmosfir berbahasa Inggris yang dibangun berhasil membuat gue berani untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dulu, cuma ngeliat baris-baris tulisan berbahasa inggris aja aku udah alergi duluan, nggak sanggup bacanya. Sekarang, aku bahkan bisa melahap novel-novel dan buku berbahasa Inggris. Dulu, kalau denger listening bahasa Inggris atau orang bule ngomong, rasanya kayak denger orang kumur-kumur. Sekarang, aku bisa menonton puluhan series HIMYM tanpa subtitle.
Sejujurnya, masih ada satu kekuranganku, yaitu aku masih kagok speaking dalam bahasa Inggris. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan ke Kampung Inggris lagi untuk meningkatkan skill speaking-ku. Pare, wait for me! :)