“Ketika kau merasa dikecewakan atau disakiti oleh sahabatmu,
sampai pada satu titik kau ingin meninggalkannya;
memutus tali silaturahmi dengannya,
coba pikirkan ini:
Mungkin, sudah sejak lama ia juga merasa banyak dikecewakan
dan tersakiti dengan sikapmu.
Namun, ia memilih untuk tetap bertahan;
ia memilih untuk tetap disisimu, menemanimu.”
-Anonymous
Aku pernah berkata, sahabat adalah jodoh yang dipilihkan
Allah untuk kita. Baru kusadari, sama halnya dengan cinta, persahabatan adalah sesuatu yang
tidak akan didapatkan dengan mudahnya. Perlu perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan untuk mempertahankan
persahabatan karena begitu banyak cobaannya.
Ada hari-hari ketika kita bercanda tawa, seolah hidup tanpa
beban. Ada hari-hari dimana kita saling menyemangati satu sama lain walaupun
jalan kita masing-masing berbeda. Ada suatu hari dimana kita saling beradu
argumen, berdiri angkuh diatas ego yang tidak mau kalah. Ada malam-malam ketika
kita mengelus dada, dengan airmata yang menetes, menahan sabar yang terasa semakin
berat.
Namun, selalu ada doa
rabithah yang terucap, terkirim ke langit. Berharap ikatan ini bisa terus
dieratkan oleh-Nya.
Ada rahasia-rahasia yang tidak pernah
diungkapkan satu sama lain. Ada prasangka yang tidak pernah dipastikan kebenarannya.
Ada kecewa di hati yang tidak terucapkan, dipendam saja. Tidak pernah
diungkapkan, namun semakin lama semakin menumpuk. Banyak orang yang
berprasangka buruk kepada sahabatnya, tapi tidak pernah mau memastikan
kebenarannya. Namun, apa
kabar nurani kita, jika berprasangka sedemikian buruk kepada sahabat kita
sendiri? Banyak orang yang
ketika disakiti oleh sahabatnya, menolak mengungkapkannya terus terang, dengan
alasan tidak mau menyakiti sahabatnya. Namun, sahabat macam apa kita, jika kita mengetahui sahabat
kita melakukan kesalahan tetapi membiarkannya saja?
Sesulit itukah mencoba jujur, bahkan kepada sahabat kita
sendiri?
The moment of truth...
Does that always hurt?
Lalu, dalam kebimbangan seperti ini,
marilah kita kembali kepada niat. Apa niat kita untuk membangun persahabatan ini? Jika kita membangun persahabatan
hanya untuk keuntungan sendiri, lupakan sajalah. Persahabatan tidak berjalan
satu arah, harus selalu ada take and give. Walaupun seringkali ada saja yang
harus ikhlas karena ia selalu memberi namun tidak pernah menerima. Jika kita
membangun persahabatan hanya untuk bersenang-senang, dan memilih untuk pergi tak
tahu diri ketika sahabat kita dalam kesulitan, lupakan sajalah. Namun jika kita
membangun persahabatan dengan niat ikhlas, untuk saling menguatkan, untuk
saling berjuang bersama menyebarkan kebaikan, aku yakin persahabatan ini akan
diridhai Allah sebagai persahabatan dunia-akhirat. Aku yakin kita akan terus kembali
bersama, sejauh apapun kita melangkah.
Ada kecewa, ada sakit hati, ada
prasangka, ada dendam, ada tangis. Namun, akan selalu ada Cinta, Doa, Kesabaran, Harapan, Kesetiaan,
Perjuangan, Janji, dan Keterikatan untuk selalu bersama di jalan ini.
Semoga.
"Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam
cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah
kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Ya Allah, kokohkanlah
ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar. Lapangkanlah
dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah
Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Ya Allah, kabulkanlah.
Ya Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami,
Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya,
limpahkanlah keselamatan untuk mereka."
-Doa Rabithah-




