Jumat, 29 Maret 2013

Rabithah



“Ketika kau merasa dikecewakan atau disakiti oleh sahabatmu,

sampai pada satu titik kau ingin meninggalkannya;

memutus tali silaturahmi dengannya,

coba pikirkan ini:

Mungkin, sudah sejak lama ia juga merasa banyak dikecewakan dan tersakiti dengan sikapmu.

Namun, ia memilih untuk tetap bertahan;

ia memilih untuk tetap disisimu, menemanimu.”

-Anonymous



Aku pernah berkata, sahabat adalah jodoh yang dipilihkan Allah untuk kita. Baru kusadari, sama halnya dengan cinta, persahabatan adalah sesuatu yang tidak akan didapatkan dengan mudahnya. Perlu perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan untuk mempertahankan persahabatan karena begitu banyak cobaannya. 


Ada hari-hari ketika kita bercanda tawa, seolah hidup tanpa beban. Ada hari-hari dimana kita saling menyemangati satu sama lain walaupun jalan kita masing-masing berbeda. Ada suatu hari dimana kita saling beradu argumen, berdiri angkuh diatas ego yang tidak mau kalah. Ada malam-malam ketika kita mengelus dada, dengan airmata yang menetes, menahan sabar yang terasa semakin berat.

Namun, selalu ada doa rabithah yang terucap, terkirim ke langit. Berharap ikatan ini bisa terus dieratkan oleh-Nya.



Ada rahasia-rahasia yang tidak pernah diungkapkan satu sama lain. Ada prasangka yang tidak pernah dipastikan kebenarannya. Ada kecewa di hati yang tidak terucapkan, dipendam saja. Tidak pernah diungkapkan, namun semakin lama semakin menumpuk. Banyak orang yang berprasangka buruk kepada sahabatnya, tapi tidak pernah mau memastikan kebenarannya. Namun, apa kabar nurani kita, jika berprasangka sedemikian buruk kepada sahabat kita sendiri? Banyak orang yang ketika disakiti oleh sahabatnya, menolak mengungkapkannya terus terang, dengan alasan tidak mau menyakiti sahabatnya. Namun, sahabat macam apa kita, jika kita mengetahui sahabat kita melakukan kesalahan tetapi membiarkannya saja?

Sesulit itukah mencoba jujur, bahkan kepada sahabat kita sendiri?


The moment of truth... Does that always hurt?



Lalu, dalam kebimbangan seperti ini, marilah kita kembali kepada niat. Apa niat kita untuk membangun persahabatan ini? Jika kita membangun persahabatan hanya untuk keuntungan sendiri, lupakan sajalah. Persahabatan tidak berjalan satu arah, harus selalu ada take and give. Walaupun seringkali ada saja yang harus ikhlas karena ia selalu memberi namun tidak pernah menerima. Jika kita membangun persahabatan hanya untuk bersenang-senang, dan memilih untuk pergi tak tahu diri ketika sahabat kita dalam kesulitan, lupakan sajalah. Namun jika kita membangun persahabatan dengan niat ikhlas, untuk saling menguatkan, untuk saling berjuang bersama menyebarkan kebaikan, aku yakin persahabatan ini akan diridhai Allah sebagai persahabatan dunia-akhirat. Aku yakin kita akan terus kembali bersama, sejauh apapun kita melangkah.



Ada kecewa, ada sakit hati, ada prasangka, ada dendam, ada tangis. Namun, akan selalu ada Cinta, Doa, Kesabaran, Harapan, Kesetiaan, Perjuangan, Janji, dan Keterikatan untuk selalu bersama di jalan ini.

Semoga.


"Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Ya Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Ya Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka."
-Doa Rabithah- 



Senin, 11 Maret 2013

Kembali

Hari ini, kuberanikan jemari ini menulis lagi. Walaupun sesungguhnya jari-jariku menggantung ragu-ragu di atas tuts keyboard Laptop Putih-ku, mencari kata demi kata yang kurasa pas untuk mengungkapkan isi hati ini.
Aku kehilangan. Aku kehilangan "warna" yang kumiliki sebelumnya. Aku memudar. Aku bukan lagi aku. Mengapa? Ah, tidak mau aku menyalahkan siapapun, mungkin orang yang paling tepat untuk kusalahkan adalah aku sendiri.
Waktu, begitu cepat berlalu. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang berubah. Dan aku malah bergelung nyaman di Comfort Zone, dengan bodohnya menolak keluar. Kebodohan yang membuatku tidak bisa berkembang. Belajar dan bergaul dengan yang itu-itu saja, mempersempit ruang gerakku. Aku yang dulu tidak begini...

Ada satu kisah tentang harapan, satu pengharapan yang tidak kunjung usai. Melelahkan, menyita banyak waktu, menghabiskan sebagian besar ruang di kepala dan di hati. Aku lelah memikirkannya terus menerus, dan pada akhirnya aku sampai pada satu titik dimana aku memutuskan untuk melupakannya. Ya, masih banyak mimpi yang harus kukejar, dan kau tidak termasuk diantaranya.
 

Pada akhirnya, aku sudah tahu kemana seharusnya aku kembali. Hanya kepada Allah tempatku harus mengadu, ketika dunia terasa demikian sesak bagiku. Ketika semua mimpi terasa goyah. Ketika semua pekerjaan yang kucintai, yang seharusnya menyenangkan malah serasa memberikan tekanan. Harusnya aku tahu, ada yang salah dengan hatiku. Benarlah kata pepatah, "Ketika Hati rusak, rusaklah seluruh tubuh manusia". Benarlah kata pepatah, "Ilmu adalah Cahaya, dan Cahaya Allah tidak akan menghampiri orang yang bermaksiat". Ketika ada yang salah dengan niatku, dengan pikiranku, aku bukan lagi aku.
Ya Allah, aku ingin kembali seperti dulu. Menjadi hamba-Mu yang berpikiran lurus, tidak terganggu masalah politik atau apapun. Ketika hanya ada satu hal yang kucintai di dunia ini: belajar dan terus belajar.
Dan yang terpenting, aku ingin kembali kepada Mu....

Senin, 28 Januari 2013

Pucil



Assalamualaikum Jekardaaah! *ala artis mancanegara*

Kali ini, aku akan menceritakan kisah pertemuanku dengan Pucil. Jeng jeng jeng.
Ketika Aqua (netbook lamaku) pergi (alias rusak), aku kelimpungan mencari penggantinya karena dompet tipis. Sejak hari itu hari-hariku menjadi hampa karena tidak bisa melaksanakan kegiatan favoritku yaitu menulis. Setiap saat aku menulis colongan lewat notes ataupun notes di HP. Sadar bahwa aku benar-benar butuh laptop, aku menunggu sampai uang bulanan dan beasiswaku turun, sibuk browsing-browsing harga laptop yang kubutuhkan tapi harganya terjangkau. Tadinya aku mau ke Glodok supaya dapat laptop harga miring, namun temanku Haris menyarankan untuk mencarinya di sekitar kampus Gunadarma Kelapa Dua yang harganya nggak kalah murah. Akhirnya setelah sekian lama mengitari toko-toko di Kelapa Dua bersama Haris, hatiku dan pilihanku (ehem) jatuh kepada sebuah laptop Asus Eee PC 1025C berwarna putih. Aku menamainya Pucil, singkatan dari... Putih dan Kecil. Nggak kreatif ya?

Pucil, mulai sekarang kamu akan menemani langkahku. Muah.

Lupa


Kusadari, aku memang orang yang pelupa.
Mulai dari hal-hal kecil, seperti lupa dimana aku meletakkan buku-bukuku, lupa hari atau tanggal penting, sampai hal-hal besar seperti melupakan orang yang pernah singgah di hidupku.
Aku sadar, mungkin sebagian besar lupa yang kualami karena kusengaja. Ya, aku sengaja melupakan. Aku tidak ingin mengingat hal-hal pahit yang sudah berlalu. Aku tidak ingin mengingat sakit yang pernah muncul di hati, takut ia mewujud jadi dendam. Aku memilih untuk berpura-pura semua rasa menyakitkan itu tidak pernah ada, sampai aku benar-benar lupa terhadap semua sakit yang pernah kurasa. Sampai aku merasa bahwa semua perasaan itu sesungguhnya tidak pernah terlintas.
Namun, sampailah aku pada satu titik dimana kupikir melupakan itu akan menghilangkan satu bagian dari mozaik hidupku. Dan membuat hidupku tidak lengkap karena bagian-bagian yang hilang. Ada yang kurang.
Ya, kenangan itu memang terkadang pahit, tapi darinya lah kita berguru. Seharusnya kita tidak takut mengingat, bukan malah memilih untuk menjadi seorang pelupa.
Aku tidak mau jadi orang yang pelupa, lagi.

Sabtu, 29 Desember 2012

Mozaik


Ini kisah tentang sebuah pencarian dan penemuan.
Mencari dan menemukan seseorang untuk melengkapi hidupmu jelas tidak mudah.
Jodoh, konon terbagi menjadi tiga jenis: berjodoh sebagai teman, jodoh sebagai partner, dan jodoh sebagai pasangan hidup.

Teman adalah jodoh yang Allah pilihkan buat kita, aku percaya itu. Pertemuan dan perpisahan dengannya terjadi karena alasan tertentu. Aku tidak pernah melihat latar seseorang ketika memilih menjadi temannya. Secara alamiah, pertemanan terjadi begitu saja, terjalin erat seiring waktu bergulir. Teman dekatmu bisa jadi orang yang kau ajak mengobrol secara tidak sengaja di bangku sebuah ruang tunggu, mungkin juga ia teman lamamu yang tidak sengaja bertemu kembali, atau ia orang yang bertubrukan denganmu saat kau berjalan di lorong kampus #alasinetron.
Aku pernah memiliki saingan dalam cinta—cinta monyet tentunya, seorang kawanku di bangku sekolah. Awalnya aku menganggapnya tak sopan karena berani-beraninya jatuh cinta dengan seseorang yang terlebih dahulu kujatuhcintai. Persaingan terjadi di antara kami dalam memperebutkan sesosok kakak kelas yang bayangnya selalu kami pantau dari seberang lorong kelas kami. Setiap hari aku dan dia--sepasang secret admirer—mengawasi dan mengagumi tingkah laku seniorku itu sambil berbagi cerita. Walaupun pada akhirnya seniorku itu tidak memilih seorangpun diantara kami, tak ayal kedekatan kami itu membuat kami bersahabat erat, bahkan sampai sekarang :)
Dalam perjalanan hidupku, aku menemukan teman ketika saling berjuang bersama. Ketika kami menyusun impian dan cita-cita yang sama, dan memperjuangkannya bersama . Teman yang kuanggap sebagai saudara sendiri. Terjadi begitu saja, alamiah, tanpa pernah aku meminta. Aku juga pernah membenci seseorang yang kuanggap angkuh pada pandangan pertama, namun perasaan itu berbalik 180 derajat ketika aku dan ia bekerjasama dalam sebuah pekerjaan, membuatku menyelami pribadinya yang sesungguhnya.
Waktu bergulir, aku menemukan “jodoh-jodohku” di kampus ini. Teman-teman yang selalu mensupport satu sama lain kemanapun kami berkontribusi. Teman-teman yang entah kenapa, sejauh apapun aku pergi, pasti aku akan selalu kembali kepada mereka. Teman-teman yang membuatku selalu menitikkan air mata karena seringnya masalah yang muncul diantara kami. Kupikir aku seseorang yang cuek, tapi entah mengapa, aku begitu peduli terhadap teman-temanku ini. Teman-teman yang selalu membuatku tersenyum bahagia bila kami sedang bersama-sama. Inilah pertemanan, yang tidak ingin kurusak dengan alasan apapun, entah alasan politik ataupun perasaan. Inilah teman-teman yang kuharapkan menjadi “jodohku” selama bertahun-tahun ke depan, sampai ketika kami bekerja, menikah, dan menua. Seperti jodoh, inilah pertemanan yang kuharapkan bertemu dan berpisah hanya karena Allah.
Masalah mencari partner kupikir sama sulitnya dengan mencari jodoh. Bayangkan saja ketika kau harus mencari seseorang untuk menjadi partner kerjamu, seseorang yang mampu melengkapimu—tentu saja dengan alasan profesionalitas. Betapa kau harus mampu memanajemen hubungan yang ada dengan komunikasi satu sama lain. Betapa karakter kalian harus mengisi satu sama lain, agar clash yang ada tidak membuat pekerjaan menjadi mandek. Aku tidak mencari partner yang kemiripannya denganku seperti sepasang sumpit, namun aku mencari partner yang keberadaannya denganku seperti sendal jepit, yang sebelah kiri dan kanannya berbeda namun saling melengkapi. Aku mencari orang yang memiliki mimpi yang sama dan rela berbagi dan mencurahkan waktunya denganku untuk mewujudkan impian bersama ini.
Dan siapakah orang itu, yang bisa dan bersedia melengkapiku?

Jodoh hidup.......kupikir, bagian inilah yang paling sulit untuk kutulis. Tentu saja, karena aku belum menemukannya sampai sekarang. Atau mungkin saja aku sudah menemukannya tetapi belum menyadarinya. Entahlah, mempertanyakan jodoh sama misteriusnya dengan mempertanyakan kematian.
Aku sepaham dengan salah satu prinsip diantara beribu-ribu prinsip mencari jodoh: “Jodoh itu adalah seseorang yang bisa menjadi siapapun bagimu. Ia manja seperti anakmu, ia bisa romantis seperti kekasihmu, ia bisa melindungimu seperti Ayahmu, dan ia bisa menjadi sahabatmu saat kau berbagi kisah.” Namun, aku lebih setuju bahwa jodoh seharusnya bisa menjadi sahabat terbaikmu. Aku tidak percaya pada cinta seumur hidup yang utopis seperti Habibie dan Ainun. Yang aku tahu perasaan cinta adalah sebuah kurva yang dapat menurun seiring perjalanan waktu. Pada satu titik, perasaan cinta itu akan menghilang, yang ada hanyalah perasaan biasa sebagai kawan, sebagai pasangan hidup. Makanya aku seringkali heran dengan seseorang yang menikah hanya karena alasan fisik atau alasan simpel, “karena cinta”. Tidakkah suatu saat kau akan bosan ketika pembicaraan diantara kalian tidak seirama? Tidakkah kalian punya mimpi bersama yang ingin kalian bagi dan wujudkan dengan sebuah pernikahan? Memangnya wajah yang cantik atau tampan bisa membahagiakan kalian ketika wajah itu mulai keriput dan menua?
Bagaimanapun, pasangan hidup adalah jodoh yang lebih kompleks daripada jodoh teman ataupun jodoh partner. Kuharap, pasangan hidupku adalah orang yang dipertemukan denganku oleh Allah. Orang yang mencintaiku dan kucintai karena Allah. Dan tekadku nanti, aku tidak akan menikah hanya karena cinta, namun karena mempunyai mimpi yang ingin kuwujudkan bersama dengannya. Dan inilah jodoh yang menurutku paling sulit ditemukan, karena disini kau harus memberikan komitmen penuh untuk saling mengisi dan melengkapi, saling memahami dan memaklumi, dimana ia menjadi partnermu sampai kau menua dan meninggal. Untuk orang inilah, aku melewatkan masa mudaku tanpa pernah sekalipun memiliki kekasih, karena ingin menjaga diriku untuknya.

Jodoh.... teman, partner, pasangan hidup, apapun itu. Mereka adalah mozaik-mozaik yang sudah dan akan melengkapi hidupku. Mungkin ini seperti permainan puzzle saja, dimana setiap kepingannya harus kita cocokkan untuk membentuk gambar. Kita harus mencari mozaiknya, mencocokkannya di tempat yang pas, membongkarnya bila tidak tepat dan mencari mozaik lain, terus seperti itu sampai mozaik-mozaik yang ada tersusun sempurna. 

Dan aku, seperti gambar itu, tidak akan sempurna jika tidak ada kau, mozaikku.

Selasa, 06 November 2012

Tears

Tidak selamanya menangis itu tanda lemah, 
mungkin hanya aku yang tidak mau kalah
Tidak selamanya aku bisa berpura-pura kuat, 
terkadang aku butuh topangan agar langkah ini tegak
Tidak selamanya sendiri itu indah,
terkadang aku ingin hadirnya kawan dalam lelah
Tidak selamanya aku mampu menahan semua luapan perasaan, 
terkadang aku ingin menangis sebagai pelampiasan
Tetes terakhir sudah bergulir di pipi, kuhapus air mata ini
Terkadang aku benci ketika tak mampu mengungkapkan apa yang ada di hati

Dzikrul Maut


Malam itu, selepas pulang mengerjakan tugas di kampus, ponselku bergetar. Sebuah broadcast message datang dari Fatimah, kawanku di Mabit Nurul Fikri.
“Innalillahi....... telah berpulang ke Rahmatullah.... Esti Nuha Ilmazakiyya...... mohon doanya.....” Sedikit tidak fokus, aku bertanya-tanya, siapa yang meninggal? Ayah Esti atau Ibu Esti?”
Kutelusuri broadcast message itu perlahan, mengeja satu demi satu kata,
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah salah seorang teman kita 8 2011, Esti Nuha Ilmazakiyya, dalam kecelakaan bus di Purwokerto saat mengikuti acara seminar dan baksos. Mohon doanya agar arwah dan amal ibadah Esti diterima di sisi Allah SWT...”
Innalillahi.... sekujur tubuhku dijalari rasa merinding. Esti? Kawanku di Mabit Nurul Fikri ini masih seumuran denganku, bahkan usianya setahun di bawahku. Bagaimana mungkin?
Sekejap terlintas di benakku tentang Esti yang kukenal. Esti, murid paling cerdas di Mabit NF. Selalu ceria, sering menjadi bahan ledekan Kak Ivan Farhan, sering melawak di kelas bersama Selna dan Runi. Baru beberapa jam yang lalu, ia mengupdate foto bbm-nya yang sedang menghadiri seminar, tertawa ceria bersama kawan-kawannya. Dan sekarang ia sudah terbaring menjadi jenazah, tak bernyawa.

Betapa, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki...

Masih shock dan gemetaran, kucoba mencari tahu info tentang kondisi Esti melalui social media.
Esti sedang berada dalam perjalanan pulang, sebagai delegasi dari UNDIP dalam Antibiotics Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia. Tidak disangka, bus yang ditumpangi rombongan Esti dan kawan-kawannya remnya blong. Terjadi kecelakaan beruntun di Purwokerto, bus berakhir dengan menabrak pohon. Sopir bus meninggal, begitu juga dengan Esti dan kawannya Novilia sesama delegasi FK UNDIP, yang duduk tepat di belakang bangku supir. Dari foto yang kulihat, bagian depan bis hancur, menganga lebar.
Beribu ucapan belasungkawa langsung mengalir di social media. Mengenang Esti sebagai teman yang baik. Ada yang tidak bisa terima akan kepergiannya. Ada yang mendoakan agar dosa-dosanya diampuni dan amalannya diterima. Ada juga yang mensyukuri peristiwa ini sebagai salah satu cara dzikrul maut (mengingat mati). Ucapan belasungkawa dan doa mengalir dari semua pihak, baik yang mengenal korban maupun tidak. Seluruh avatar twitter dan DP BBM berganti warna menjadi hitam kelam. Semua mendoakan untuk kepergian para korban kecelakaan, terutama orang terdekat yang ditinggalkan...
Dan beberapa fakta yang kudapat membuatku tak henti-henti mengucap subhanallah. Ternyata orangtua Esti sedang menunaikan haji di tanah suci pada saat itu. Dalam status FB Novilia yang  terakhir, ia menuliskan, “Sahabat dunia akhirat” dan menyebutkan nama beberapa orang teman, salah satunya adalah Esti. Beberapa hari sebelum kecelakaan terjadi, Novilia memposting tulisan di blognya tentang kematian dan sakaratul maut.
Semua peristiwa ini membuatku tertampar. Kembali tersadar akan salah satu misteri terbesar Illahi selain jodoh, yaitu kematian...

Ketika seseorang meninggal, setiap hal terakhir yang ia lakukan menjadi penting bagi manusia lain. Akan menjadi sangat penting dimana, kapan, dan apa yang sedang kita lakukan saat Izrail datang menjemput. Firman Allah berkata, orang yang meninggal ketika menuntut ilmu termasuk dalam mati syahid. Beruntunglah Esti, yang (insya Allah syahidah karena) meninggal dalam perjalanan sesudah menghadiri seminar. Bagaimana seandainya seseorang ditemukan tewas di tempat diskotik? Apa yang akan ada di benak keluarga dan saudara-saudaranya? Beruntunglah Esti, update terakhir di twitternya adalah ucapan sayangnya untuk Ibunya. Apa komentar orang-orang seandainya update terakhir kita adalah kata-kata kasar atau makian, atau sekedar untaian kata-kata galau?
Sesungguhnya, tidaklah penting apa reaksi dari sesama manusia. Yang paling penting dari semua itu adalah: apakah kita sudah siap ketika maut menjelang? Sudah cukupkah amalan kita untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita semasa hidup?
Seorang temanku berkata, “Aku percaya, ketika seseorang meninggal begitu tiba-tiba, bisa jadi itu karena dia sangat jahat, atau karena ia sangat baik.”
Entahlah, aku tidak tahu kebenaran hipotesa temanku itu. Yang aku tahu, Allah sangat menyayangi Esti 
sehingga memanggilnya sewaktu muda, sebelum ia mungkin terpengaruh kehidupan dewasa yang rawan dosa. Yang aku tahu, Allah menyayangi Esti karena Dia mencabut nyawanya sewaktu ia berjihad di jalannya ketika menuntut ilmu.

Yang aku tahu, Engkau begitu menyayangiku Allah,

Engkau memanggilku kembali. Di tengah kebingunganku akan jati diri, saat diriku semakin jauh dari-Mu, Engkau menegurku dengan berita kematian Esti. Mengingatkanku akan tugas-tugas di dunia yang harus kuemban selagi ada nyawa. Mengingatkanku untuk memberi kebermanfaatan sebanyak mungkin, agar tidak mati sia-sia.
Terima kasih Ya Allah, akan peringatan ini. Terima kasih Esti, atas hikmah yang kau tinggalkan. Semoga syahidmu diterima oleh-Nya...

“Bila waktu telah terhenti, teman sejati tinggallah amalan...”

*Tulisan ini tidak hanya sekedar seremonial, namun sebagai sarana refleksi. Sudah seberapa sering kau mengingat mati?