Senin, 25 Januari 2016

A Trip to Sempu Island

Assalamualaikum, long time no post!

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman travelling ke pulau Sempu, Malang. Emang sih udah lama banget aku ke pulau Sempu, kira-kira bulan Juni tahun 2014 kemarin. 

Waktu itu aku dan Camila sedang mengambil kursus selama dua minggu di kampung Inggris, Pare. Karena kursus jadwalnya Senin sampai Sabtu pagi, biasanya setiap Sabtu dan Minggu para siswa di Kampung Inggris jalan-jalan ke tempat wisata seputar kediri, dari Gunung Bromo, Malang, sampai ke Bali. Banyak travel di wilayah kampung Inggris yang menawarkan paket wisata dengan harga yang relatif terjangkau.

Berhubung awalnya kita memang nggak merencanakan untuk jalan-jalan, akhir minggu pertama kita habiskan dengan jalan-jalan ke Malang, tepatnya ke wilayah Batu. Aku, Camila, dan Liv (siswa SMP yang sekamar dengan kita di asrama) pergi ke Malang naik bis dan menempuh waktu satu jam. Kita 
pergi ke Batu Night Spectacular, tempat wisata dengan suasana pasar malam. Batu Night Spectacular juga terkenal dengan lampion-lampion aneka bentuknya. Camila dan Liv sempat balapan go-kart, dan kita bertiga main di arena trampolin sampai puas dan belajar akrobat sambil melompat. Malam itu, kita menginap di motel super murah di dekat Batu (serius murah banget, sekamar bertiga cuma 120 ribu per malam!). Paginya, kita berjalan-jalan di alun-alun kota Batu dan naik Ferris Wheel yang ada di alun-alun, belanja oleh-oleh khas Malang, berkunjung ke Oemah Munir, lalu menguber-uber bis pulang ke Pare. 





Minggu berikutnya, tercetuslah ide dari Camila untuk main-main ke Pulau Sempu sebelum pulang. Tadinya aku ogah-ogahan, namun karena terbujuk Camila akhirnya aku setuju, karena penasaran dan belum pernah dapat pengalaman travelling. Untuk pergi ke Pulau Sempu, kami menggunakan jasa travel milik mahasiswa Universitas Brawijaya. Mereka akan mengurus kepergian kami dari Malang sampai ke Pantai Sendang Biru yang terletak di seberang Pulau Sempu. Mereka juga menyewakan tenda dan sleeping bag, mengurus izin masuk hutan, dan mencarikan guide untuk perjalanan kami selama di hutan.

Karena untuk travelling butuh jumlah minimal, jadilah Camila kelimpungan mencari orang-orang yang mau barengan ke Pulau Sempu. Kami mencoba mengajak teman-teman les maupun teman-teman satu asrama, tapi ternyata mereka sudah punya rencana lain untuk weekend.

Alhamdulillah, ternyata Annisa Noor, Ifah, dan Jayani, temen  satu fakultas kita lagi berlibur di rumah Noor di Malang. Mereka pun mau ikut bersama-sama ke Pulau Sempu. Berhubung semua yang ikut adalah makhluk-makhluk manis manja yang nggak punya pengalaman naik gunung dan masuk hutan (kecuali Camila), maka Camila meminta tolong Rozak, adiknya Bang Thowi yang mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mengawal kita selama perjalanan. 

Hari-H pun tiba, kami berangkat pagi-pagi dari rumah Nisa dengan membawa tas masing-masing. Menurut Camila dan Rozak, barang bawaan yang kita bawa nggak usah kebanyakan baju karena perjalanan di hutan lumayan lama (sekitar 1-2 jam jalan kaki). Dan bawaan yang paling penting adalah air mineral, karena disana nggak ada sumber air bersih untuk minum dan buang air. Akhirnya masing-masing orang menenteng barang pribadi, air mineral 1,5 Liter, perbekalan, dan sleeping bag. Rozak sebagai satu-satunya pria menenteng dua tenda, head lamp, dan matras dengan ranselnya yang segede kulkas (literally).

Mahasiswa Unbraw yang mengurus travel menjemput kami dengan mobil Elf mereka dan mengantar kami ke Pantai Sendang biru. Perjalanan dari Malang sampai ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2-3 jam. Lumayan juga jadi pepes di mobil, but trust me, bahkan jalan-jalan menuju ke Sendang Biru indaaah banget. Kita melewati deretan hutan-hutan yang berjajar rapi sampai akhirnya tiba di pinggir pantai Sendang Biru.

Sendang Biru

Aku terkesiap melihat Sendang Biru. Airnya benar-benar biru, dan di seberang laut terlihat rimbunan hijau hutan Pulau Sempu. Pemandangan disini aja udah indah banget, apalagi di Pulau Sempu? Begitu pikirku. 

Sebelum berangkat, kami mengurus izin masuk hutan konservasi dan menyewa sepatu untuk trekking di hutan. Di pinggir pantai ada rumah yang menyewakan sepatu khusus trekking yang berbahan karet.
Sepatu khusus trekking yang disewakan

Setelah sholat dan makan siang, kami pun bersiap-siap berangkat. Kami bertemu dengan Pak Aji, guide yang akan mendampingi dan mengantar kami dari Sendang Biru sampai ke Pulau Sempu dan Pantai Segara Anakan, teluk kecil di dalam Pulau Sempu. Setelah dadah-dadahan dengan para mahasiswa Unbraw yang akan menjemput kami besok, kami menaiki perahu boat yang menuju Pulau Sempu. 


Foto-foto dulu di boat

Perjalanan dengan perahu memakan waktu sekitar 15 menit, sebelum kami melihat pantai kecil di sisi luar Pulau Sempu tempat perahu akan mendarat. Jantungku berdegup melihat hutan-hutan yang menyambut kami, mendadak menyesal semalam sebelumnya habis membaca Hunger Games-Catching Fire yang lokasi pembantaiannya di hutan dan pantai. Diam-diam aku merapal doa, semoga di Pulau Sempu nggak ada monyet-monyet ganas.

Pantai sebelum masuk hutan Pulau Sempu

Perahu berhenti tidak jauh dari pantai. tidak bisa lebih merapat lagi. Kami turun disambut ombak yang merendam celana sampai selutut, dan berjalan mendekati pantai. Kami siap untuk memasuki hutan. Hutan Pulau Sempu sangat luas, butuh perjalanan 1-2 jam berjalan kaki untuk sampai. Oleh karena itu perlu ada guide supaya kita nggak tersasar di hutan. Kami mulai melangkah memasuki hutan dengan dipimpin Pak Aji di depan. Berhubung Ifah kakinya habis operasi, maka kita menjaga ritme perjalanan agar tidak terlalu cepat. Aku berjalan di belakang Pak Aji sambil sesekali mengobrol. Diikuti oleh Noor, Jayani, dan Ifah. Camila dan Rozak di belakang kami, sesekali mengikatkan tanda ke pohon-pohon supaya ingat jalan pulang, karena Pak Aji tidak ikut menginap bersama kami dan besok kami harus kembali sendiri. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang kembali dari Pulau Sempu dan saling bertegur sapa. Satu-dua bule terlihat diantara pengunjung yang berpapasan dengan kami di hutan. Ada pengunjung yang menginap, ada juga yang hanya melihat-lihat dan kembali. (Dalam hati aku berpikir, apa nggak gempor kakinya bolak-balik Pulau Sempu dalam sehari?). Trek jalan menuju Pulau Sempu naik turun, kadang ada akar-akar pohon yang melintang di tengah jalan. Namun karena sedang musim kemarau, kami bisa melihat jejak-jejak bekas orang-orang melintas di jalan.

Hutan Pulau Sempu


Kami sudah semakin dekat dengan pantai Segara Anakan, dari celah-celah pohon terlihat air jernih berwarna biru kehijauan. Terpikir olehku untuk langsung terjun aja dari atas tebing supaya nggak perlu jauh-jauh muter ke Pantai, tapi kuurungkan niat itu karena takut ransel basah dan mengingat aku nggak bisa berenang.   

Trek semakin curam saat mendekati pantai, jalannya juga semakin sempit. Kalau nggak hati-hati, bisa aja terpeleset dan langsung jatuh ke laut di bawah tebing. Sesekali juga kami harus berhenti jalan karena bergantian jalan dengan orang-orang yang kembali dari Segara Anakan.

Akhirnya sampai juga. Pulau Sempu!






Segara Anakan adalah pantai yang unik karena seolah-olah laut yang berada di tengah-tengah daratan Pulau Sempu. Air yang mengalir ke Segara Anakan berasal dari laut di sebelah luar Pulau Sempu, yang masuk melalui teluk kecil. Karena Pulau Sempu memang hutan konservasi, maka pulau ini nggak berpenghuni, sehingga Segara Anakan masih baguus banget dan alami banget.

Berhubung kami sampainya sudah sore, kami mengurungkan niat untuk berenang karena kata guide airnya asin dan kami bisa gatal-gatal semalaman karena nggak ada air tawar untuk berenang. Yaudah kami mendirikan tenda, mempersiapkan base camp. Karena tak bisa menahan godaan air biru, kami bermain ombak di pinggiran pantai.


Maafkan muka yang kucel.. Maklum ga bisa cuci muka pake facial foam


Semacam anak ilang


Malam tiba, segala sesuatu jadi gelaap banget. Nggak ada penerangan sama sekali kecuali dari lampu badai milik pengunjung yang berkemah. Mau internetan nggak bisa karena sama sekali nggak ada sinyal di Pulau Sempu. Mau makan nggak ada tukang jualan popmie yang lewat (menurut ngana?). Mau buang air kecil pun ditahan-tahan karena WCnya "alami" banget. Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai mengantuk dan akhirnya nggak ada suara lagi.


Pagi pun tiba, suara deburan ombak membuat kami terbangun. Pemandangan pagi ini super breath-taking. Segera aku dan Camila bersiap-siap untuk nyebur. Namun Noor, Ifah, dan Jay nggak mau berenang dan memilih untuk berfoto-foto di pinggir pantai. Rozak sibuk foto-foto dengan SLR. Aku dan Camila nyebur dengan perasaan bahagia. Camila sempat berenang agak jauh, namun aku yang cupu ini memilih menghanyutkan diri di air dangkal aja. Camila sempat tergoda untuk pergi ke atas tebing dan terjun dari atas seperti orang-orang, tapi akhirnya mengurungkan niatnya.










Saatnya pulang tiba. Dengan berat hati kami berkemas dan melipat tenda-tenda. Kami mengemas semua barang, memastikan tidak ada satupun sampah yang tertinggal. Kami membagikan sisa bekal dan air minum ke orang-orang yang masih stay berkemah di pulau Sempu. Kami pulang mengikuti orang-orang yang ingin kembali ke Segara Anakan, sehingga ada penuntun jalan.

Baru aku rasakan, orang-orang sesama pecinta alam sangat ramah satu sama lain. Mereka baik-baik dan saling menolong. Berulang kali, kami mendapat ajakan untuk bertemu lagi di Mahameru pada tanggal 17 Agustus karena akan diadakan upacara bendera di puncaknya. Berhubung aku pecinta alam pemula, aku hanya tersenyum mendengar ajakan itu sambil dalam hati berharap Umi suatu saat akan membolehkanku pergi ke puncak gunung yang nggak ada villa-nya.

Terima kasih banyak untuk Camila dan Rozak, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau Sempu, pengalaman pertamaku travelling di alam. Kalau bukan karena mereka pasti aku tidak akan berani ke sini *hugss*. Aku berharap, semoga suatu saat nanti aku bisa ke Pulau Sempu lagi dan sudah ada yang menemani *lohh *lohh lohh

Oh iya, saat kami ke Pulau Sempu, pengunjung masih diizinkan untuk menginap di Pulau Sempu. Kabarnya sekarang sudah nggak boleh lagi karena Pulau Sempu semakin penuh dengan sampah :(

Bye Pulau Sempu, We'll always miss you :')




Minggu, 08 November 2015

Bersyukur!


Terkadang, kita merasa hidup ini sangat berat dan tidak sesuai dengan yang kita dambakan. Bagiku yang merupakan fresh graduate, frasa “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” benar adanya. Kalau melirik kepada freshgraduate Fakultas Hukum, mungkin siapapun akan takjub. Konon berdasarkan survei, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia hanya memiliki waktu tunggu maksimal 3 bulan sebelum memiliki pekerjaan. Hampir semua sektor membutuhkan lulusan mahasiswa Hukum, dan tentu saja fee yang dibayarkan bagi freshgraduate lulusan FHUI juga luar biasa.

Hari demi hari, update yang berseliweran di media sosialku kurang lebih menggambarkan kesuksesan teman-temanku sesama freshgraduate dari FHUI. Banyak yang sudah menjadi corporate lawyer di beberapa lawfirm, ada juga yang bekerja di company. Untuk kedua sektor tersebut, gaji yang diperoleh sangat menggiurkan. Menurut penuturan kawan-kawanku, untuk pekerjaan di company mereka mendapat gaji 6 juta rupiah sebulan, sementara gaji di lawfirm bervariasi—cerita paling santer, ada seorang senior yang sejak freshgraduate sudah digaji 9 juta rupiah per bulan, dan ada salah seorang kawanku yang gajinya sudah mencapai 7 digit, entah fiksi atau fakta. Peningkatan gaji ini tentu berdampak dengan peningkatan kesejahteraan mereka—aku sudah tidak heran lagi melihat update kawan-kawanku setiap hari yang sedang menikmati santap siang di restoran fancy dengan harga selangit (bagi kantong mahasiswa tentunya. Bagi lawyer? They can afford it).

Beberapa kawan yang memiliki rezeki lebih memilih untuk melanjutkan sekolah. Beberapa kawanku saat ini melanjutkan pendidikan di Magister Kenotariatan, bahkan ada yang saat ini sedang menikmati kuliah di Belanda. Ada yang melanjutkan studi dengan self-funding, namun tidak sedikit juga yang mendapatkan beasiswa. Bagiku yang bukan keturunan ningrat atau anak pejabat, opsi beasiswa adalah opsi yang paling masuk akal untuk melanjutkan kuliah.

Ada juga kawan-kawanku yang belum memilih untuk bekerja, namun memilih untuk mencari pengalaman dahulu setelah lulus, entah dengan travelling atau memilih magang di LSM-LSM. Tidak sedikit juga kawan-kawanku yang memilih bekerja di LSM, tentu saja dengan gaji yang tidak sefantastis gaji pegawai lawfirm atau company.

Lalu bagaimana denganku?

Beberapa bulan setelah sidang skripsi, aku mengemukakan keinginanku untuk menjadi Asisten Dosen kepada Bang Heru, dosen yang sangat dekat dengan para mahasiswa dan Mbak Yeni, dosen Hukum Islam pembimbing skripsiku. Kebetulan saat itu aku menjadi salah satu pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam (LKIHI) di Fakultas. Atas rekomendasi dari dosen-dosen itu, aku berkesempatan untuk bekerja di kampus sebagai Asisten Dosen Hukum Islam. Selain itu aku juga turut bekerja di biro pendidikan KKI Fakultas Hukum. Sambil bekerja di kampus, aku juga mengikuti les dan mempersiapkan diri untuk menempuh S2, karena syarat menjadi dosen yang sesungguhnya minimal memiliki gelar S2. Sampai saat ini, aku mengincar jurusan Islamic Banking and Finance di Durham University, Inggris karena masih sedikit ahli hukum di Indonesia yang menguasai bidang ekonomi syariah.

Menjadi asisten dosen penuh dengan pengalaman baru yang tak kuduga sebelumnya. Aku belajar dari dosen-dosen hukum Islam (yang mayoritas Ibu-Ibu) dan menganggap mereka sebagai orangtuaku sendiri. Yang membuatku takjub sekaligus merasa malu, di usia mereka yang sudah seumur bahkan lebih tua dari ibuku sendiri, mereka tak pernah kenal lelah untuk terus mempelajari ilmu baru dan mendalami ilmu hukum Islam, yang sebenarnya mereka sudah ahli. Tak lelah untuk terus membuat penelitian dan confrence, di samping mengajar di kampus, tanpa melupakan kewajiban utama mereka sebagai seorang istri dan seorang ibu. Mereka yang sudah jauh lebih senior saja tidak pernah berhenti belajar, what’s my excuse? Di samping itu, dengan tugasku mendampingi mereka setiap mengajar di kelas, aku belajar lagi mengenai cara mengajar yang baik dan mengenai materi-materi Hukum Islam. Aku baru sadar, secuil ilmu yang kumiliki tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Masih banyak ilmu yang harus kudalami bila aku benar-benar ingin menjadi Dosen. Namun ilmu yang mereka punya tak lantas membuat mereka sombong; bahkan ada yang meminta kritik dan saran serta minta dikoreksi apabila mereka berbuat kesalahan ketika mengajar. Pekerjaanku di biro pendidikan KKI juga memperkenalkanku dengan hal-hal baru. Seringkali aku mau tak mau dipaksa menggunakan bahasa inggris karena harus berkomunikasi dengan mahasiswa asing yang mengikuti program KKI. Aku juga belajar bagaimana berhadapan dengan mahasiswa dan ditantang untuk membantu memajukan program ini.

Tentu saja, tidak semua bagian dari pekerjaanku menyenangkan. Ada kalanya ketika aku mengalami tekanan karena berhadapan dengan sifat-sifat dosen yang beragam dan drama yang terkadang datang. Ada kalanya aku dicibir oleh orang-orang yang mempertanyakan keputusanku memilih pekerjaan ini, bahkan oleh keluargaku sendiri. Belum lagi masalah kesejahteraan dan kepastian status yang menghantui. Terkadang terpikir untuk menyerah saja; berhenti bekerja di kampus, melupakan mimpi menjadi dosen, mencari pekerjaan yang well-paid sehingga bisa hidup makmur, menikah, punya anak. Atau mendaftarkan diri mengikuti Indonesia Mengajar dan berpetualang mengajar di desa-desa terpencil yang kurang akses pendidikan di Indonesia.

Pikiran-pikiran itu membuatku bertanya-tanya,

Apakah selama ini aku ikhlas dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaanku?

Apakah aku yakin, bahwa ini benar-benar jalan hidup yang kupilih?

Semua pertanyaanku seakan mendapatkan jawaban dari Allah. Seminggu yang lalu, aku bertemu dengan seseorang yang kukenal, yang aku merasa asing melihatnya di kampus. Dia adalah seseorang yang sudah sangat mapan, orangtuanya memiliki lawfirm, lulusan S2 di Universitas luar negeri, dan aku melihat hidupnya sudah sangat settle. Namun yang membuatku terkejut, ia datang ke kampus hanya untuk melamar agar bisa menjadi asisten dosen di kampus. Ia? Hidupnya sudah sangat mapan, apa yang ia cari di kampus? Yang pasti bukan gaji. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi, dosen yang ia temui belum bisa mengabulkan permintaannya karena kuota asisten dosen di kampus sudah penuh.

Memang di Fakultasku, tidak semudah itu seseorang bisa menjadi asisten dosen. Sudah banyak senior yang sudah sukses dan terkenal, dan ingin mengajar di kampus, namun tidak diterima oleh kampus. Entah mengapa, jalanku seperti dilancarkan pada saat awal aku berkeinginan menjadi asisten dosen. Padahal aku bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa biasa yang baru lulus kuliah S1. Bukan anak seorang konglomerat atau mahasiswa berprestasi di kampus.

Detik itu juga aku merasa tertampar. Apa yang sebenarnya selalu membuatku merasa kurang? Ya, aku kurang bersyukur. Aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki dan sibuk membandingkannya dengan orang lain. Padahal kalau saja aku berpikir lebih jernih dengan kepala terbuka, tidak semua orang bisa berada di posisiku saat ini, bahkan mungkin ada yang mati-matian menginginkan posisiku saat ini namun tidak bisa mendapatkannya.

Aku berusaha mengingat mengapa aku memutuskan bercita-cita menjadi dosen Hukum Islam. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa agama bukanlah sesuatu yang harus disingkirkan, namun dapat menjadi pedoman hidup yang dapat menyejahterakan masyarakat. Agama dan kehidupan bukanlah sesuatu yang bertentangan dan harus dipisahkan satu sama lain, tetapi agama itu sendiri adalah pedoman dalam menjalankan kehidupan. Aku ingin menjadi dosen yang menyebarkan ilmu-ilmu Hukum Islam sekaligus mempelajarinya dan mengamalkannya. Aku ingin menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih bagi agama dan negaraku sendiri, terutama di bidang pendidikan.

Menempuh jalan menjadi seorang dosen memang tidak mudah, tapi aku yakin, Allah selalu ada untuk menguatkanku, selama niatku lurus untuk mendapatkan ridho-Nya.

Aku  tidak akan berhenti dan menyerah sampai di sini. Tidak sekarang. Karena, masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan ingin kujalani, agar aku dapat hidup tanpa penyesalan.

Aku teringat kata-kata seseorang yang selalu menyemangatiku dan memberikan sebuah quote penyemangat,

“Never give up for something you really want. It’s difficult to wait, but more difficult to regret.”



*catatan hati seorang fresh graduate

Senin, 31 Agustus 2015

My Precious Moment: Graduation Day

Akhirnya tiba juga hari besar yang menandakan fase terakhirku sebagai mahasiswa: Wisuda!
Sudah sekian lama kutandai tanggal ini, 28 Agustus, dengan spidol besar di kalender, sebagai pengingat dan penyemangat dalam mengerjakan skripsi.

Sebenarnya, secara de facto aku memang sudah bukan mahasiswa lagi, karena sidang dan segala printilannya sudah kuselesaikan dari sebelum lebaran. Bahkan aku sudah memulai pekerjaan di kampus seminggu sebelum wisuda. Tapi tetap saja, hari wisuda adalah momen yang kutunggu-tunggu sebagai seremoni pelepasan status mahasiswa.

Karena sedang hectic beradaptasi dengan pekerjaan baru di kampus, persiapan wisuda baru kulakukan pada detik-detik terakhir. Bahkan sepatu high heels untuk wisuda baru kubeli H-1 Gladi Resik. Lalu tadinya saat Gladi Resik aku memilih untuk didandani Icha saja, tapi karena satu dan lain hal aku terpaksa ke salon Moz5 Tebet pada hari-H (yang mahalnya minta ampun dan aku nggak suka gaya hijab yang dipakaikan mbaknya).

Sehari sebelum wisuda, para wisudawan program reguler mengikuti Gladi Resik, dimana kita mempersiapkan susunan acara besok secara singkat, dan berjabat tangan bersama Dekan Fakultas masing-masing dan Rektor UI. Sesudah berjabat tangan, so pasti kita menyerbu Rotunda untuk foto-foto dong :3

Foto Wisuda Wajib 1: Foto depan gedung rektorat

Foto Wajib 2: Lempar toga ala-ala

Hari-H wisuda dilalui dengan super rempong, make-up bareng Camila di Moz5 Depok dari jam 10 pagi. Tenyata di Moz5 banyak anak-anak FH lainnya yang lagi di make-up. Untungnya aku lagi dapet, jadi nggak musingin gimana caranya wudhu dengan make-up. Untungnya juga ada Una si ade tersayang (tipu) yang siap menemani selama di make-up, ngasih arahan ke mbaknya tentang make-up dan hijab style yang dikenakan kepadaku, jadi make-upnya nggak fail-fail banget. Bahkan aku jauh lebih sukaa hijab style yang kukenakan saat hari wisuda.

Setelah di make-up rapi, aku, Camila, dan Una bergegas ke balairung, mengingat sudah jam 1 kurang 10 menit sementara wisudawan wajib berkumpul di sisi balairung jam 1. Melihat jalanan yang super macet nggak bergerak, akhirnya kami nekat naik ojek dari stasiun UI, dengan wajah sudah di make-up dan kebaya rapi.

Kami sampai tepat pada waktunya, beberapa menit sebelum wisudawan Fakultas Hukum dipanggil masuk ke dalam Balairung. 

Dengan berbaris rapi, wisudawan dari Fakultas Hukum memasuki Balairung.
Aku menatap jejeran Jaket Kuning di atas balkon dan deretan toga hitam di bawah balkon dengan takjub. Empat tahun yang lalu, aku berada di deretan atas balkon, mengenakan Jaket Kuning dan bertanya-tanya apa rasanya jadi kakak-kakak wisudawan yang dinyanyikan di bawah sana.
Ternyata, begini rasanya.

Kami mengikuti prosesi wisuda dengan bergembira. Mengadu yel-yel antar Fakultas ketika satu persatu wisudawan terbaik dari setiap Fakultas dipanggil. Ikut bernyanyi saat adik-adik mahasiswa baru menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur, Genderang UI, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lagu favorit kami Keroncong Kemayoran yang membuat kami asyik menggoyang-goyangkan badan mengikuti irama lagu. Tapi momen paling unyu adalah saat solis menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil, dan deretan mahasiswa baru menyalakan senter HP mereka dan menimbulkan efek ribuan titik cahaya yang bergerak seperti lilin di langit-langit balairung.


Sempet-sempetnya selfie selama prosesi wisuda

Prosesi wisuda selesai, kami pun bubar dan menghampiri keluarga masing-masing untuk berfoto.

Maaf fotonya banyak banget, because every moment with them is my precious moment

Tidak lupa selfie cantik bersama ade kakak

Selesai sesi berfoto bersama keluarga, kami memutuskan untuk berpisah karena aku dan teman-teman sudah berjanji untuk berkumpul di PPMT, untuk foto bersama.

Di depan Rektorat, aku bertemu dengan teman-teman Mabit: Upi, Dicky, Aim, Novia dan Onad. 

Sebagian dari Wisudawan Mabit. Sayang nggak kekumpul semua :')

Para penyandang gelar Sarjana Hukum

Tidak lupa berfoto dengan Go-Pronya Sandipa yang hitz

Satu persatu junior-juniorku datang menghampiri, mengucapkan selamat, dan mengajak foto bersama. Dan yang membuatku terharu, mereka memberikan hadiah wisuda untukku, baik bunga maupun bingkisan lain, padahal aku nggak minta looh hehe. Makasih banyak adik-adik Serambi, adik-adik Rumah Belajar BEM UI, dan adik-adik panitia PMH 2015! :3


Saat kulihat jam, mendadak aku teringat akan janji untuk bertemu teman-teman GUIM di baliho Sadewa. Aku berputar-putar mencari baliho Sadewa, dan pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya aku bertemu girls disana!

With GUIM dan Girls

Wisuda hari ini merupakan moment tak telupakan bagiku. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah menyempatkan datang, memberi ucapan selamat, mengajak berfoto bersama, bahkan memberikan hadiah. Seandainya aku bisa mengawetkan bunga, mungkin aku akan mengawetkan satu persatu bunga pemberian teman-temanku, supaya aku teringat terus dengan yang memberikan bunga.

Anyway thanks a lot, I can't make it without you, my supporting system! :) (you-nya jamak ya *klarifikasi).

Sebagian dari hadiah-hadiah wisuda. Thanks a lot guys! I really appreciate it :')

Gimana rasanya jadi wisudawan? Hmmm aku tidak bisa bilang rasanya lega, karena satu persatu tantangan di kehidupan pasca kampus sudah bermunculan. Wisuda ini adalah momen naik level bagiku. Kamu tahu kan kalau kita main game, sehabis mengalahkan musuh besar, pasti kita akan mendapatkan tantangan di stage selanjutnya yang lebih sulit dengan musuh besar yang semakin sulit dikalahkan. What I can say is, sekolah maupun kuliah adalah part termudah dalam hidup yang harus kita lalui. Masih banyak tantangan-tantangan dalam tahapan hidup kita yang lain. Masih banyak musuh-musuh besar lain yang harus dikalahkan!


Kulirik poster mimpi-mimpi yang terpampang di dinding kamarku. Deret paling bawah dalam target mimpiku sudah terwujud. Saatnya mewujudkan deret selanjutnya! :)

Selasa, 18 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #3 : Lost in Translation

“Wilujeng enjing sadayana! Tepangkeun, nami abdi teh Ibu Iffah. Ti dieu, Ibu hayang ngawulang barudak kelas tilu. Punten, ibu teu tiasa basa sunda. Tapi, ibu hayang diajar. Ajarkeun Ibu yaa. Hatur nuhun.”[1]

Aku mengucapkan kalimat itu di depan kelas sambil sesekali melirik catatan yang kubawa. Bahasa Sunda memang bukan bahasa yang kukuasai. Namun, Bahasa Sunda adalah bahasa yang sehari-hari dipakai di Sukabumi, tempat SDN Puncakmanggu berada. Sebagai pengajar Gerakan UI Mengajar 4 yang akan mengajar selama tiga minggu di sini, tentu saja kami aku harus mengerti bahasa Sunda. Selain itu, sebagian besar murid kelas tiga yang akan kuajar tidak mengerti bahasa Indonesia. Syukurlah, aku sudah mencatat beberapa kosakata bahasa sunda untuk berkenalan.
***

Hari kedua di Sukabumi, sepulang observasi di sekolah, Rina dan Ucheng mengantarkanku ke rumah tempatku akan menumpang tinggal selama tiga minggu ke depan. Aku mendapatkan housefam milik Bu Uam yang tinggal sendirian, karena anak-anaknya sudah dewasa dan suaminya sudah meninggal. Rumah Bu Uam terletak paling jauh dari sekolah, letaknya di bawah bukit dan harus menuruni jalan yang curam. Artinya, aku berangkat ke sekolah harus paling pagi dan menaiki bukit yang curamnya seperti sedang naik gunung. Sisi positifnya, aku pulang bisa tinggal menggelinding, nanti juga sampai ke rumah haha.

Bila kuamati, rumah-rumah yang ada di desa ini sebagian besar sudah memiliki fisik bagus, terbuat dari beton, bahkan ada beberapa yang rumahnya bertingkat dua dan memiliki parabola. Hanya sebagian kecil rumah yang masih merupakan rumah panggung dan terbuat sepenuhnya dari kayu. Tak urung ini membuatku bertanya-tanya, apa ya pekerjaan mereka sampai bisa membangun rumah yang bagus di desa terpencil?

Saat sampai di rumah Bu Uam, aku baru menyadari masalahku yang sangat genting: Bu Uam sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia! Sudah begitu, aku juga tidak bisa berbahasa sunda. Tentu akan sulit tinggal serumah dengan orang yang berbeda bahasa dengan kita. Terkadang walaupun aku sudah menggunakan bahasa isyaratpun, Ibu Uam tetap tidak mengerti. Itu artinya, aku memang harus memaksakan diri agar dapat mengerti dan mengucapkan bahasa sunda.

Beberapa saat aku dan Bu Uam mengalami awkard moment karena kami tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa. Kami hanya saling tersenyum canggung.

Bring me Oxford Dictionary Basa Sunda full version please!

Teman-teman, aku bingung nih mau ngobrol apa sama ibunya pake bahasa sunda. Toloong. Jeritku di grup chat Whatsapp Panitia dan Pengajar GUIM.

Untunglah saat itu Bu Dewi dan Bu Wulan, tetangga sebelah, datang berkunjung untuk melihat keadaanku. Aku merasa lega saat mengetahui mereka dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Ternyata mereka masih bersaudara dengan Bu Uam. Seperti layaknya desa-desa di Indonesia, biasanya penduduk yang tinggal dalam satu kampung masih bersaudara. Bu Uam sendiri memiliki beberapa saudara yang rumahnya tersebar di desa ini. Ibu housefam dari para pengajar pun ternyata masih memiliki hubungan darah satu sama lain. Bu Wulan bercerita bahwa sebagian besar dari saudara Bu Uam pernah bekerja sebagai TKI ke Arab Saudi, oleh karena itu mereka bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Hanya Bu Uam saja di keluarga mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia sebab ia tidak pernah ke luar kampung. Dan ternyata sebagian besar warga yang memiliki parabola adalah warga yang pernah menjadi TKI ke luar negeri. Pertanyaanku tadi terjawab sudah.

Mumpung ada Bu Dewi dan Bu Wulan, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar bahasa sunda. Aku meminta mereka menjadi penerjemah untuk menyampaikan kata-kata dariku kepada Bu Uam. Selain itu aku menanyakan beberapa kosakata percakapan bahasa sunda agar dapat berkomunikasi dengan Bu Uam. Buru-buru aku mencatat kata-kata itu dalam selembar kertas.

Handphoneku bergetar. Muncul sebuah pesan di grup chat. Dari Rina, Koordinator Lapangan kami yang memang bisa berbahasa sunda.
Bilang fah, Urang keur neangan bobogohan. [2]

Aku penasaran dan bertanya pada Bu Wulan. “Bu, Urang keur neangan bobogohan artinya apa?”
Bu Wulan, Bu Uam, dan Bu Dewi tertawa berderai mendengar pertanyaanku. “Emang Bu Iffah lagi nyari pacar?” tanya Bu Wulan setengah menggoda.
Kontan mukaku memerah. Dasar Rinaaaa!

Rin, kamu harus tanggung jawab kalau aku beneran dicariin kabogohan![3]
***

Aku diberikan sebuah kamar yang terletak di bagian paling depan rumah Bu Uam. Kamar itu berukuran kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur. Namun menurutku kamar itu sudah cukup nyaman untuk tidur. Aku membongkar semua isi carrierku dan menatanya di sudut kamar. Saat aku pergi ke kamar mandi, ternyata kamar mandinya lampunya rusak, sehingga untuk mandi maupun buang air aku selalu membawa senter. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku akan betah sebulan tinggal disini. Oleh karena itu, goal pertamaku agar betah adalah harus bisa bahasa sunda agar bisa ngobrol sama Bu Uam!

Tiba saatnya tidur, aku berkata pada Bu Uam dengan bahasa sunda yang terpatah-patah, “Bu, abdi bade kulem tipayun ya.” (Bu, saya izin tidur duluan ya). Bu Uam hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sambil tidur, aku membaca-baca buku cerita Pasukan Mau Tahu yang kupinjam dari perpustakaan Rumah Pelangi. Kamar sangat gelap, untung sebelum berangkat Camila memberikanku lampu baca portable untuk membaca buku saat malam hari.

Iseng-iseng mataku menelusuri tembok kamar tempatku berada. Ada retakan-retakan yang baru diperbaiki secara temporer, disangga dengan balok kayu. Seolah-olah.. kamar ini habis terbelah. Aku teringat cerita Rina sebelumnya bahwa desa ini sering mengalami gempa dan longsor. Terakhir kali bahkan ada longsor yang menyebabkan beberapa rumah retak. Aku merinding, membayangkan jika terjadi gempa lagi, langit-langit dan tembok kamarku akan runtuh menimpaku yang sedang tidur.

Malam itu, aku tidak bisa tidur.
***

Aku mulai frustasi. Entah mengapa, tidak ada anak-anak yang mengerti setiap instruksi yang kuberikan di kelas. Begitupun saat aku meminta mereka menjawab pertanyaan, beberapa anak yang kutanyai langsung menutup mulutnya dan menggeleng, menolak untuk menjawab. Awalnya kupikir mereka memang pendiam dan pemalu, tapi toh mereka justru cerewet mengobrol dengan temannya saat jam istirahat tiba.

Apakah aku guru yang buruk karena tidak bisa mengajari mereka? Pikirku.

Saat itu aku sedang mengajar materi IPA, menjelaskan perbedaan benda padat, cair, dan gas. Kemudian aku meminta mereka mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar mereka. Namun mereka tidak juga mengerti walaupun telah berkali-kali kujelaskan.

Ucheng, panitia RED (pengawas pengajar) yang kebetulan sedang melintas di depan kelas mencoba membantuku. “Coba Iffah jelaskan ke mereka pakai bahasa yang lebih sederhana. Lamun tiasa dipegang, namina benda padat. Lamun teu tiasa dipegang, namina benda gas. Lamun dipegang tangan basah, namina benda cair.”[4]

Aku mengingat-ingat kalimat tersebut dan mengulanginya di depan kelas. Ajaib, anak-anak menjadi paham dan dapat mengerjakan tugas dengan baik. Mereka bukannya tidak mengerti materi, mereka hanya tidak mengerti bahasa Indonesia yang kugunakan.
***

Selama jam istirahat aku dan Risky, pengajar kelas 5, menyimak kosakata bahasa Sunda yang diajarkan Pak Falah, guru kelas 4. Pak Falah memberikan contoh penggunaan bahasa Sunda, khususnya kosakata yang sering digunakan di Sekolah. Aku mencatatnya di buku kecil yang khusus kusediakan untuk belajar bahasa Sunda. Pak Falah juga mengajari kami mempraktikkan kalimat-kalimat itu kepada murid-murid yang sedang melintas. Dengan semangat kami menjajal kemampuan berbahasa Sunda kami, walaupun sesekali masih mengintip catatan. Walaupun beberapa murid menertawakan kami yang masih kaku mengucapkan bahasa Sunda, aku tidak peduli. Bagiku, menguasai bahasa Sunda adalah kunci utamaku untuk bisa survive di sini.
***

Atos,sadayana?”[5]
Teu acan, Bu.”[6] Sahut anak-anak.
Sok atuh, kerjakeun soalna. Lamun aya teu ngartos, wartos ka ibu.”[7]
Muhun, Bu.”[8]

Aku takjub melihat perubahan yang terjadi sejak aku menggunakan Bahasa Sunda. Jika sebelumnya anak-anak tidak mengerjakan tugas karena bingung, sekarang mereka dapat mengerti instruksi dariku dan mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sebelumnya kukira pemalu karena jarang bicara, sekarang berani mencerocos dengan bahasa Sunda, bercerita kepadaku, walaupun aku belum tentu mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, selama ini mereka diam dan tidak mau menjawab karena aku selalu memberikan pertanyaan dengan bahasa Indonesia. Mereka takut salah apabila menjawab pertanyaanku dengan bahasa sunda.
***

“Sudah makan?”
Aku terheran-heran mendengar Bu Uam bisa berbahasa Indonesia. “Atos, Bu. Abdi tos tuang ti bumina Bu Maesaroh.”[9]

Betapa lucu perkembangan komunikasi antara aku dan Bu Uam. Bu Uam, sepertinya malu karena tidak bisa berbahasa Indonesia, meminta diajari bahasa Indonesia oleh tetangga-tetangga. Sementara aku juga sudah bisa menanggapi Bu Uam dengan bahasa Sunda. Perlahan-lahan, kami mulai memahami maksud satu sama lain.

Di Sukabumi, aku belajar mengenai kekuatan bahasa dalam berkomunikasi. Bila ingin diterima dalam sebuah masyarakat, kunci pertama adalah kuasai bahasa mereka. Sesudah itu, maka mudah saja untuk meraih hati mereka.

Jadi, kalau sekarang ada yang bertanya setengah meledek kepadaku, “Iffah udah bisa bahasa sunda, belum?”
Aku hanya menjawab sambil tersenyum, “Alhamdulillah, abdi tiasa ngarios basa sunda saleutik-saleutik.”[10]



[1] Selamat pagi semuanya! Kenalkan, nama saya Ibu Iffah. Di sini, ibu akan mengajar anak-anak kelas tiga. Maaf, ibu tidak bisa bahasa sunda. Tapi ibu mau diajar. Ajarkan ibu, ya. Terima kasih
[2] Saya lagi cari pacar
[3] Pacar
[4] Kalau bisa dipegang, namanya benda padat. Kalau tidak bisa dipegang, namanya benda gas. Kalau dipegang tangan jadi basah, namanya benda cair.
[5] Sudah, semuanya?
[6] Belum, Bu.
[7] Ayo, kerjakan soalnya. Kalau ada yang tidak mengerti, bilang ke Ibu.
[8] Baik, Bu.
[9] Sudah Bu, saya sudah makan di rumah Bu Maesaroh.
[10] Alhamdulillah, saya bisa ngomong bahasa sunda sedikit-sedikit.

Jumat, 14 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #2: Tiba di Desa Puncakmanggu



Jeep yang kunaiki berguncang-guncang karena jeleknya jalan yang kami lewati. Bahkan dari dalam Jeep pun, kami dapat merasakan batu-batu kerikil kasar yang menjadi material jalan. Tentu saja di desa ini, tidak ada jalan yang sudah diaspal. Belum lagi puluhan kelokan dan tanjakan yang harus kami lalui menuju desa Puncakmanggu. Beberapa tanjakan begitu terjal, bahkan ada tanjakan yang sepertinya kecuramannya mencapai 35 derajat. Baru aku pahami, kenapa kami harus menggunakan jeep untuk mencapai titik lokasi mengajar.

Subuh itu, kami sampai di Sukabumi setelah perjalanan selama delapan jam. Bis-bis kuning yang mengantar kami dari Depok diparkir rapi di halaman masjid tempat meeting point. Di sebelahnya, berderet puluhan Mini Jeep dari Komunitas Little Jeep Owner Community (LJOC) yang akan memobilisasi kami ke Titik masing-masing. Kabarnya medan menuju lokasi mengajar tidak bisa ditempuh kendaraan biasa, karena itu kami harus memakai Jeep. Apalagi konon Titik Satu tempat kami akan mengajar terletak di lokasi terjauh dan memiliki jalanan terjal, sehingga kami harus siap sedia sendal gunung.

Setelah sholat subuh, sarapan, dan mengikuti upacara di Kelurahan, tiba saatnya mobilisasi ke titik masing-masing. Kami berpisah dengan teman-teman titik lain karena kami baru akan berjumpa kembali tiga minggu lagi. Kemudian aku bersama Maul, Melati, dan Ela masuk ke dalam sebuah mini jeep. Tenyata kami memilih Jeep yang tepat. Walaupun kami harus duduk berdempetan di bagian belakang Jeep yang sempit, Jeep itu memiliki air conditioner, tidak seperti Jeep lain. Misalnya Jeep yang dinaiki Gugum dan Risky yang beratap terbuka, sehingga mereka menempuh perjalanan dengan posisi berdiri.
Risky dan Gugum: Awalnya keren, lama-lama capek juga berdiri terus

Pemilik Jeep tempat kami menumpang ternyata sangat menyenangkan. Sejujurnya aku lupa siapa namanya, sebut saja namanya Om Robi dan Om Joko. Ternyata mereka pengemudi Jeep yang sudah punya jam terbang banyak. Konon menurut cerita Om Robi dan Om Joko, pengemudi jeep-jeep yang mengantar kami ke titik satu adalah pengemudi jeep yang jam terbangnya tinggi, misalnya sering ikut balapan, sudah pernah masuk jurang, dan lain-lain. Mereka sengaja mengantar kami karena jalan menuju Titik 1 benar-benar sempit, curam, dan jelek, maka dibutuhkan pemilik Jeep yang sudah berpengalaman. Kami ternganga mendengar cerita-cerita mereka yang sudah pernah mengemudi di segala medan, mulai dari gunung, padang pasir, bahkan pernah Om Robi ikut balapan sampai masuk jurang. Di sela-sela kegiatan komunitas mereka, mereka juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya yang sedang mereka lakukan adalah membantu mobilisasi GUIM.

Dua jam lebih perjalanan, rasanya kami tidak sampai-sampai juga. Jalanan semakin menanjak curam, kasar, dan sempit. Mobil terus berguncang-guncang karena kasarnya jalan yang kami lewati. Namun akhirnya mobil kami berhenti juga. Kami sampai di rumah tujuan kami yang terletak persis di depan SD Puncakmanggu. Carrier-carrier kami diturunkan.

Pemilik rumah yang bernama Bu Maesaroh menyambut kedatangan kami. Bu Maesaroh tinggal di rumahnya bersama dengan anaknya yang bernama Agung, anak  kelas 6 SD Puncakmanggu. Di samping rumah Bu Maesaroh yang memiliki warung, berdiri rumah anaknya yang bernama Bu Ika. Bu Ika yang juga merupakan guru kelas 1 di SDN Puncakmanggu memiliki anak yang cantik dan menggemaskan bernama Pia.

Rumah Bu Maesaroh yang cukup luas rencananya akan ditempati oleh para panitia. Sementara para pengajar akan ditempatkan di rumah-rumah warga secara terpisah. Pada hari pertama, beberapa pengajar sudah diantar ke rumah housefamnya masing-masing. Berhubung Bu Uam, Ibu house fam yang kutempati sedang ada hajatan di rumah saudaranya, maka aku belum bisa menempati rumah house fam.

Keesokan harinya, hari Jum’at, adalah hari pertama kami masuk sekolah. Beberapa anak sudah mengamati kedatangan kami dari jauh. Kami hanya tersenyum gugup, tidak sabar untuk berkenalan dengan anak-anak kami masing-masing. Aku memperhatikan, beberapa anak yang sedang menunggu bel masuk berbunyi menghabiskan waktu mereka dengan bermain voli dan sepak takraw di lapangan sekolah. Mereka sangat lihai bermain sepak takraw, tidak terkecuali anak-anak perempuannya. 

Sambil menunggu, kami berlatih kosakata dasar bahasa sunda supaya nanti bisa menyapa anak-anak. Apalagi, konon anak-anak kelas kecil tidak terbiasa untuk berbicara bahasa sunda. Tentunya hal ini menjadi salah satu PR bagiku yang harus mengajar kelas tiga. Aku tidak bisa berbahasa sunda!
Ceritanya nunggu sekolah mulai, entah kenapa jadi keliatan kayak anak-anak dihukum sama guru

Di sisi lain sekolah ada tebing tinggi yang bisa didaki. Disana anak-anak bermain lari-larian. Aku terpekik melihat pemandangan dari atas tebing. Sungguh, desa ini adalah tempat yang sangat indah. Aku merasa bersyukur walaupun ditempatkan di titik terjauh. Pemandangan sawah dan bukit hijau membentang. Kami berfoto-foto di atas tebing dan mengajak beberapa anak untuk berfoto bersama, walaupun mereka masih agak malu-malu.

Sesaat kemudian lonceng sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan menuju lapangan, membentuk barisan sesuai dengan kelas masing-masing. Hanya anak-anak kelas satu saja yang masih perlu diarahkan untuk merapikan barisan mereka. Kami berbaris menghadap barisan anak-anak. Anak-anak menatap kami dengan penasaran. Pak Sulton, guru kelas 5, memperkenalkan kami kepada anak-anak. Kami satu-persatu maju dan memperkenalkan diri.


“Sampurasun, sadayana. Wilujeng enjing. Tepangkeun, nami abdi  Ibu Iffah. (Halo, semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Ibu Iffah).” Aku menyapa mereka.

Setelah itu kami melakukan persembahan dengan menyanyikan lagu roti mentega. Beberapa anak terdiam dan malu-malu untuk mengikuti kami, namun ada beberapa yang mengikuti lagu dan gerakan kami.

Guru dan Pengajar GUIM di SD Puncakmanggu

Kemudian kami berkumpul bersama para guru di ruang guru. Kami berdiskusi dengan guru-guru mengenai apa yang akan kami lakukan di SD Puncakmanggu. Lalu kami mengikuti guru-guru ke kelas masing-masing, untuk mengobservasi cara mereka mengajar di kelas. Aku mengikuti Pak Baban, guru yang saat ini mengajar kelas tiga. Sebelumnya Pak Baban adalah Guru Agama Islam, namun karena Pak Badru, guru kelas tiga sebelumnya baru saja dimutasi, Pak Baban menjadi guru kelas tiga menggantikan Pak Badru merangkap guru Agama.

Aku duduk di meja guru, memperhatikan Pak Baban mengajar anak-anak. Memang, hari pertama datang kami dilarang untuk mengajar oleh RED, kami hanya diminta untuk mengobservasi kelas, bagaimana biasanya KBM di kelas berlangsung. Beberapa anak dengan raut penasaran mengamatiku yang duduk di meja guru. Mungkin jaket kuning yang kukenakan memang begitu mencolok.

Salah satu anak menyiapkan kelas, kemudian mereka membaca doa dan memberi salam. Lalu Pak Baban mengabsen satu persatu anak-anak. Anak-anak duduk membentuk kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari sekitar enam orang. Buku yang mereka gunakan untuk belajar dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak.

Kesimpulanku hasil observasi, gaya mengajar di sekolah ini masih gaya mengajar yang berorientasi pada guru, bukan pada siswa. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang Pak Baban mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku. Anak-anak menyalin secara berebutan, karena buku yang dimiliki memang terbatas. Kadang satu orang bertugas mendiktekan, sementara yang lain menulis mengikuti. Sehabis itu Pak Baban menjelaskan materi, dan akhir kelas ditutup dengan menjawab soal-soal yang ada di akhir setiap BAB. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

Aku merasa berdebar-debar. Metode mengajar kreatif yang dibawa GUIM sama sekali berbeda dengan metode yang mereka gunakan sekarang. Akankah kami berhasil membawakan metode mengajar kreatif di SD Puncakmanggu ini? Apakah aku sanggup, dalam waktu tiga minggu ini, untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk karakter yang membekas pada murid-murid kelas tiga?

Aaah, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Hari pertamaku mengajar.