Senin, 31 Agustus 2015

My Precious Moment: Graduation Day

Akhirnya tiba juga hari besar yang menandakan fase terakhirku sebagai mahasiswa: Wisuda!
Sudah sekian lama kutandai tanggal ini, 28 Agustus, dengan spidol besar di kalender, sebagai pengingat dan penyemangat dalam mengerjakan skripsi.

Sebenarnya, secara de facto aku memang sudah bukan mahasiswa lagi, karena sidang dan segala printilannya sudah kuselesaikan dari sebelum lebaran. Bahkan aku sudah memulai pekerjaan di kampus seminggu sebelum wisuda. Tapi tetap saja, hari wisuda adalah momen yang kutunggu-tunggu sebagai seremoni pelepasan status mahasiswa.

Karena sedang hectic beradaptasi dengan pekerjaan baru di kampus, persiapan wisuda baru kulakukan pada detik-detik terakhir. Bahkan sepatu high heels untuk wisuda baru kubeli H-1 Gladi Resik. Lalu tadinya saat Gladi Resik aku memilih untuk didandani Icha saja, tapi karena satu dan lain hal aku terpaksa ke salon Moz5 Tebet pada hari-H (yang mahalnya minta ampun dan aku nggak suka gaya hijab yang dipakaikan mbaknya).

Sehari sebelum wisuda, para wisudawan program reguler mengikuti Gladi Resik, dimana kita mempersiapkan susunan acara besok secara singkat, dan berjabat tangan bersama Dekan Fakultas masing-masing dan Rektor UI. Sesudah berjabat tangan, so pasti kita menyerbu Rotunda untuk foto-foto dong :3

Foto Wisuda Wajib 1: Foto depan gedung rektorat

Foto Wajib 2: Lempar toga ala-ala

Hari-H wisuda dilalui dengan super rempong, make-up bareng Camila di Moz5 Depok dari jam 10 pagi. Tenyata di Moz5 banyak anak-anak FH lainnya yang lagi di make-up. Untungnya aku lagi dapet, jadi nggak musingin gimana caranya wudhu dengan make-up. Untungnya juga ada Una si ade tersayang (tipu) yang siap menemani selama di make-up, ngasih arahan ke mbaknya tentang make-up dan hijab style yang dikenakan kepadaku, jadi make-upnya nggak fail-fail banget. Bahkan aku jauh lebih sukaa hijab style yang kukenakan saat hari wisuda.

Setelah di make-up rapi, aku, Camila, dan Una bergegas ke balairung, mengingat sudah jam 1 kurang 10 menit sementara wisudawan wajib berkumpul di sisi balairung jam 1. Melihat jalanan yang super macet nggak bergerak, akhirnya kami nekat naik ojek dari stasiun UI, dengan wajah sudah di make-up dan kebaya rapi.

Kami sampai tepat pada waktunya, beberapa menit sebelum wisudawan Fakultas Hukum dipanggil masuk ke dalam Balairung. 

Dengan berbaris rapi, wisudawan dari Fakultas Hukum memasuki Balairung.
Aku menatap jejeran Jaket Kuning di atas balkon dan deretan toga hitam di bawah balkon dengan takjub. Empat tahun yang lalu, aku berada di deretan atas balkon, mengenakan Jaket Kuning dan bertanya-tanya apa rasanya jadi kakak-kakak wisudawan yang dinyanyikan di bawah sana.
Ternyata, begini rasanya.

Kami mengikuti prosesi wisuda dengan bergembira. Mengadu yel-yel antar Fakultas ketika satu persatu wisudawan terbaik dari setiap Fakultas dipanggil. Ikut bernyanyi saat adik-adik mahasiswa baru menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur, Genderang UI, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lagu favorit kami Keroncong Kemayoran yang membuat kami asyik menggoyang-goyangkan badan mengikuti irama lagu. Tapi momen paling unyu adalah saat solis menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil, dan deretan mahasiswa baru menyalakan senter HP mereka dan menimbulkan efek ribuan titik cahaya yang bergerak seperti lilin di langit-langit balairung.


Sempet-sempetnya selfie selama prosesi wisuda

Prosesi wisuda selesai, kami pun bubar dan menghampiri keluarga masing-masing untuk berfoto.

Maaf fotonya banyak banget, because every moment with them is my precious moment

Tidak lupa selfie cantik bersama ade kakak

Selesai sesi berfoto bersama keluarga, kami memutuskan untuk berpisah karena aku dan teman-teman sudah berjanji untuk berkumpul di PPMT, untuk foto bersama.

Di depan Rektorat, aku bertemu dengan teman-teman Mabit: Upi, Dicky, Aim, Novia dan Onad. 

Sebagian dari Wisudawan Mabit. Sayang nggak kekumpul semua :')

Para penyandang gelar Sarjana Hukum

Tidak lupa berfoto dengan Go-Pronya Sandipa yang hitz

Satu persatu junior-juniorku datang menghampiri, mengucapkan selamat, dan mengajak foto bersama. Dan yang membuatku terharu, mereka memberikan hadiah wisuda untukku, baik bunga maupun bingkisan lain, padahal aku nggak minta looh hehe. Makasih banyak adik-adik Serambi, adik-adik Rumah Belajar BEM UI, dan adik-adik panitia PMH 2015! :3


Saat kulihat jam, mendadak aku teringat akan janji untuk bertemu teman-teman GUIM di baliho Sadewa. Aku berputar-putar mencari baliho Sadewa, dan pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya aku bertemu girls disana!

With GUIM dan Girls

Wisuda hari ini merupakan moment tak telupakan bagiku. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah menyempatkan datang, memberi ucapan selamat, mengajak berfoto bersama, bahkan memberikan hadiah. Seandainya aku bisa mengawetkan bunga, mungkin aku akan mengawetkan satu persatu bunga pemberian teman-temanku, supaya aku teringat terus dengan yang memberikan bunga.

Anyway thanks a lot, I can't make it without you, my supporting system! :) (you-nya jamak ya *klarifikasi).

Sebagian dari hadiah-hadiah wisuda. Thanks a lot guys! I really appreciate it :')

Gimana rasanya jadi wisudawan? Hmmm aku tidak bisa bilang rasanya lega, karena satu persatu tantangan di kehidupan pasca kampus sudah bermunculan. Wisuda ini adalah momen naik level bagiku. Kamu tahu kan kalau kita main game, sehabis mengalahkan musuh besar, pasti kita akan mendapatkan tantangan di stage selanjutnya yang lebih sulit dengan musuh besar yang semakin sulit dikalahkan. What I can say is, sekolah maupun kuliah adalah part termudah dalam hidup yang harus kita lalui. Masih banyak tantangan-tantangan dalam tahapan hidup kita yang lain. Masih banyak musuh-musuh besar lain yang harus dikalahkan!


Kulirik poster mimpi-mimpi yang terpampang di dinding kamarku. Deret paling bawah dalam target mimpiku sudah terwujud. Saatnya mewujudkan deret selanjutnya! :)

Selasa, 18 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #3 : Lost in Translation

“Wilujeng enjing sadayana! Tepangkeun, nami abdi teh Ibu Iffah. Ti dieu, Ibu hayang ngawulang barudak kelas tilu. Punten, ibu teu tiasa basa sunda. Tapi, ibu hayang diajar. Ajarkeun Ibu yaa. Hatur nuhun.”[1]

Aku mengucapkan kalimat itu di depan kelas sambil sesekali melirik catatan yang kubawa. Bahasa Sunda memang bukan bahasa yang kukuasai. Namun, Bahasa Sunda adalah bahasa yang sehari-hari dipakai di Sukabumi, tempat SDN Puncakmanggu berada. Sebagai pengajar Gerakan UI Mengajar 4 yang akan mengajar selama tiga minggu di sini, tentu saja kami aku harus mengerti bahasa Sunda. Selain itu, sebagian besar murid kelas tiga yang akan kuajar tidak mengerti bahasa Indonesia. Syukurlah, aku sudah mencatat beberapa kosakata bahasa sunda untuk berkenalan.
***

Hari kedua di Sukabumi, sepulang observasi di sekolah, Rina dan Ucheng mengantarkanku ke rumah tempatku akan menumpang tinggal selama tiga minggu ke depan. Aku mendapatkan housefam milik Bu Uam yang tinggal sendirian, karena anak-anaknya sudah dewasa dan suaminya sudah meninggal. Rumah Bu Uam terletak paling jauh dari sekolah, letaknya di bawah bukit dan harus menuruni jalan yang curam. Artinya, aku berangkat ke sekolah harus paling pagi dan menaiki bukit yang curamnya seperti sedang naik gunung. Sisi positifnya, aku pulang bisa tinggal menggelinding, nanti juga sampai ke rumah haha.

Bila kuamati, rumah-rumah yang ada di desa ini sebagian besar sudah memiliki fisik bagus, terbuat dari beton, bahkan ada beberapa yang rumahnya bertingkat dua dan memiliki parabola. Hanya sebagian kecil rumah yang masih merupakan rumah panggung dan terbuat sepenuhnya dari kayu. Tak urung ini membuatku bertanya-tanya, apa ya pekerjaan mereka sampai bisa membangun rumah yang bagus di desa terpencil?

Saat sampai di rumah Bu Uam, aku baru menyadari masalahku yang sangat genting: Bu Uam sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia! Sudah begitu, aku juga tidak bisa berbahasa sunda. Tentu akan sulit tinggal serumah dengan orang yang berbeda bahasa dengan kita. Terkadang walaupun aku sudah menggunakan bahasa isyaratpun, Ibu Uam tetap tidak mengerti. Itu artinya, aku memang harus memaksakan diri agar dapat mengerti dan mengucapkan bahasa sunda.

Beberapa saat aku dan Bu Uam mengalami awkard moment karena kami tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa. Kami hanya saling tersenyum canggung.

Bring me Oxford Dictionary Basa Sunda full version please!

Teman-teman, aku bingung nih mau ngobrol apa sama ibunya pake bahasa sunda. Toloong. Jeritku di grup chat Whatsapp Panitia dan Pengajar GUIM.

Untunglah saat itu Bu Dewi dan Bu Wulan, tetangga sebelah, datang berkunjung untuk melihat keadaanku. Aku merasa lega saat mengetahui mereka dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Ternyata mereka masih bersaudara dengan Bu Uam. Seperti layaknya desa-desa di Indonesia, biasanya penduduk yang tinggal dalam satu kampung masih bersaudara. Bu Uam sendiri memiliki beberapa saudara yang rumahnya tersebar di desa ini. Ibu housefam dari para pengajar pun ternyata masih memiliki hubungan darah satu sama lain. Bu Wulan bercerita bahwa sebagian besar dari saudara Bu Uam pernah bekerja sebagai TKI ke Arab Saudi, oleh karena itu mereka bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Hanya Bu Uam saja di keluarga mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia sebab ia tidak pernah ke luar kampung. Dan ternyata sebagian besar warga yang memiliki parabola adalah warga yang pernah menjadi TKI ke luar negeri. Pertanyaanku tadi terjawab sudah.

Mumpung ada Bu Dewi dan Bu Wulan, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar bahasa sunda. Aku meminta mereka menjadi penerjemah untuk menyampaikan kata-kata dariku kepada Bu Uam. Selain itu aku menanyakan beberapa kosakata percakapan bahasa sunda agar dapat berkomunikasi dengan Bu Uam. Buru-buru aku mencatat kata-kata itu dalam selembar kertas.

Handphoneku bergetar. Muncul sebuah pesan di grup chat. Dari Rina, Koordinator Lapangan kami yang memang bisa berbahasa sunda.
Bilang fah, Urang keur neangan bobogohan. [2]

Aku penasaran dan bertanya pada Bu Wulan. “Bu, Urang keur neangan bobogohan artinya apa?”
Bu Wulan, Bu Uam, dan Bu Dewi tertawa berderai mendengar pertanyaanku. “Emang Bu Iffah lagi nyari pacar?” tanya Bu Wulan setengah menggoda.
Kontan mukaku memerah. Dasar Rinaaaa!

Rin, kamu harus tanggung jawab kalau aku beneran dicariin kabogohan![3]
***

Aku diberikan sebuah kamar yang terletak di bagian paling depan rumah Bu Uam. Kamar itu berukuran kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur. Namun menurutku kamar itu sudah cukup nyaman untuk tidur. Aku membongkar semua isi carrierku dan menatanya di sudut kamar. Saat aku pergi ke kamar mandi, ternyata kamar mandinya lampunya rusak, sehingga untuk mandi maupun buang air aku selalu membawa senter. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku akan betah sebulan tinggal disini. Oleh karena itu, goal pertamaku agar betah adalah harus bisa bahasa sunda agar bisa ngobrol sama Bu Uam!

Tiba saatnya tidur, aku berkata pada Bu Uam dengan bahasa sunda yang terpatah-patah, “Bu, abdi bade kulem tipayun ya.” (Bu, saya izin tidur duluan ya). Bu Uam hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sambil tidur, aku membaca-baca buku cerita Pasukan Mau Tahu yang kupinjam dari perpustakaan Rumah Pelangi. Kamar sangat gelap, untung sebelum berangkat Camila memberikanku lampu baca portable untuk membaca buku saat malam hari.

Iseng-iseng mataku menelusuri tembok kamar tempatku berada. Ada retakan-retakan yang baru diperbaiki secara temporer, disangga dengan balok kayu. Seolah-olah.. kamar ini habis terbelah. Aku teringat cerita Rina sebelumnya bahwa desa ini sering mengalami gempa dan longsor. Terakhir kali bahkan ada longsor yang menyebabkan beberapa rumah retak. Aku merinding, membayangkan jika terjadi gempa lagi, langit-langit dan tembok kamarku akan runtuh menimpaku yang sedang tidur.

Malam itu, aku tidak bisa tidur.
***

Aku mulai frustasi. Entah mengapa, tidak ada anak-anak yang mengerti setiap instruksi yang kuberikan di kelas. Begitupun saat aku meminta mereka menjawab pertanyaan, beberapa anak yang kutanyai langsung menutup mulutnya dan menggeleng, menolak untuk menjawab. Awalnya kupikir mereka memang pendiam dan pemalu, tapi toh mereka justru cerewet mengobrol dengan temannya saat jam istirahat tiba.

Apakah aku guru yang buruk karena tidak bisa mengajari mereka? Pikirku.

Saat itu aku sedang mengajar materi IPA, menjelaskan perbedaan benda padat, cair, dan gas. Kemudian aku meminta mereka mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar mereka. Namun mereka tidak juga mengerti walaupun telah berkali-kali kujelaskan.

Ucheng, panitia RED (pengawas pengajar) yang kebetulan sedang melintas di depan kelas mencoba membantuku. “Coba Iffah jelaskan ke mereka pakai bahasa yang lebih sederhana. Lamun tiasa dipegang, namina benda padat. Lamun teu tiasa dipegang, namina benda gas. Lamun dipegang tangan basah, namina benda cair.”[4]

Aku mengingat-ingat kalimat tersebut dan mengulanginya di depan kelas. Ajaib, anak-anak menjadi paham dan dapat mengerjakan tugas dengan baik. Mereka bukannya tidak mengerti materi, mereka hanya tidak mengerti bahasa Indonesia yang kugunakan.
***

Selama jam istirahat aku dan Risky, pengajar kelas 5, menyimak kosakata bahasa Sunda yang diajarkan Pak Falah, guru kelas 4. Pak Falah memberikan contoh penggunaan bahasa Sunda, khususnya kosakata yang sering digunakan di Sekolah. Aku mencatatnya di buku kecil yang khusus kusediakan untuk belajar bahasa Sunda. Pak Falah juga mengajari kami mempraktikkan kalimat-kalimat itu kepada murid-murid yang sedang melintas. Dengan semangat kami menjajal kemampuan berbahasa Sunda kami, walaupun sesekali masih mengintip catatan. Walaupun beberapa murid menertawakan kami yang masih kaku mengucapkan bahasa Sunda, aku tidak peduli. Bagiku, menguasai bahasa Sunda adalah kunci utamaku untuk bisa survive di sini.
***

Atos,sadayana?”[5]
Teu acan, Bu.”[6] Sahut anak-anak.
Sok atuh, kerjakeun soalna. Lamun aya teu ngartos, wartos ka ibu.”[7]
Muhun, Bu.”[8]

Aku takjub melihat perubahan yang terjadi sejak aku menggunakan Bahasa Sunda. Jika sebelumnya anak-anak tidak mengerjakan tugas karena bingung, sekarang mereka dapat mengerti instruksi dariku dan mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sebelumnya kukira pemalu karena jarang bicara, sekarang berani mencerocos dengan bahasa Sunda, bercerita kepadaku, walaupun aku belum tentu mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, selama ini mereka diam dan tidak mau menjawab karena aku selalu memberikan pertanyaan dengan bahasa Indonesia. Mereka takut salah apabila menjawab pertanyaanku dengan bahasa sunda.
***

“Sudah makan?”
Aku terheran-heran mendengar Bu Uam bisa berbahasa Indonesia. “Atos, Bu. Abdi tos tuang ti bumina Bu Maesaroh.”[9]

Betapa lucu perkembangan komunikasi antara aku dan Bu Uam. Bu Uam, sepertinya malu karena tidak bisa berbahasa Indonesia, meminta diajari bahasa Indonesia oleh tetangga-tetangga. Sementara aku juga sudah bisa menanggapi Bu Uam dengan bahasa Sunda. Perlahan-lahan, kami mulai memahami maksud satu sama lain.

Di Sukabumi, aku belajar mengenai kekuatan bahasa dalam berkomunikasi. Bila ingin diterima dalam sebuah masyarakat, kunci pertama adalah kuasai bahasa mereka. Sesudah itu, maka mudah saja untuk meraih hati mereka.

Jadi, kalau sekarang ada yang bertanya setengah meledek kepadaku, “Iffah udah bisa bahasa sunda, belum?”
Aku hanya menjawab sambil tersenyum, “Alhamdulillah, abdi tiasa ngarios basa sunda saleutik-saleutik.”[10]



[1] Selamat pagi semuanya! Kenalkan, nama saya Ibu Iffah. Di sini, ibu akan mengajar anak-anak kelas tiga. Maaf, ibu tidak bisa bahasa sunda. Tapi ibu mau diajar. Ajarkan ibu, ya. Terima kasih
[2] Saya lagi cari pacar
[3] Pacar
[4] Kalau bisa dipegang, namanya benda padat. Kalau tidak bisa dipegang, namanya benda gas. Kalau dipegang tangan jadi basah, namanya benda cair.
[5] Sudah, semuanya?
[6] Belum, Bu.
[7] Ayo, kerjakan soalnya. Kalau ada yang tidak mengerti, bilang ke Ibu.
[8] Baik, Bu.
[9] Sudah Bu, saya sudah makan di rumah Bu Maesaroh.
[10] Alhamdulillah, saya bisa ngomong bahasa sunda sedikit-sedikit.

Jumat, 14 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #2: Tiba di Desa Puncakmanggu



Jeep yang kunaiki berguncang-guncang karena jeleknya jalan yang kami lewati. Bahkan dari dalam Jeep pun, kami dapat merasakan batu-batu kerikil kasar yang menjadi material jalan. Tentu saja di desa ini, tidak ada jalan yang sudah diaspal. Belum lagi puluhan kelokan dan tanjakan yang harus kami lalui menuju desa Puncakmanggu. Beberapa tanjakan begitu terjal, bahkan ada tanjakan yang sepertinya kecuramannya mencapai 35 derajat. Baru aku pahami, kenapa kami harus menggunakan jeep untuk mencapai titik lokasi mengajar.

Subuh itu, kami sampai di Sukabumi setelah perjalanan selama delapan jam. Bis-bis kuning yang mengantar kami dari Depok diparkir rapi di halaman masjid tempat meeting point. Di sebelahnya, berderet puluhan Mini Jeep dari Komunitas Little Jeep Owner Community (LJOC) yang akan memobilisasi kami ke Titik masing-masing. Kabarnya medan menuju lokasi mengajar tidak bisa ditempuh kendaraan biasa, karena itu kami harus memakai Jeep. Apalagi konon Titik Satu tempat kami akan mengajar terletak di lokasi terjauh dan memiliki jalanan terjal, sehingga kami harus siap sedia sendal gunung.

Setelah sholat subuh, sarapan, dan mengikuti upacara di Kelurahan, tiba saatnya mobilisasi ke titik masing-masing. Kami berpisah dengan teman-teman titik lain karena kami baru akan berjumpa kembali tiga minggu lagi. Kemudian aku bersama Maul, Melati, dan Ela masuk ke dalam sebuah mini jeep. Tenyata kami memilih Jeep yang tepat. Walaupun kami harus duduk berdempetan di bagian belakang Jeep yang sempit, Jeep itu memiliki air conditioner, tidak seperti Jeep lain. Misalnya Jeep yang dinaiki Gugum dan Risky yang beratap terbuka, sehingga mereka menempuh perjalanan dengan posisi berdiri.
Risky dan Gugum: Awalnya keren, lama-lama capek juga berdiri terus

Pemilik Jeep tempat kami menumpang ternyata sangat menyenangkan. Sejujurnya aku lupa siapa namanya, sebut saja namanya Om Robi dan Om Joko. Ternyata mereka pengemudi Jeep yang sudah punya jam terbang banyak. Konon menurut cerita Om Robi dan Om Joko, pengemudi jeep-jeep yang mengantar kami ke titik satu adalah pengemudi jeep yang jam terbangnya tinggi, misalnya sering ikut balapan, sudah pernah masuk jurang, dan lain-lain. Mereka sengaja mengantar kami karena jalan menuju Titik 1 benar-benar sempit, curam, dan jelek, maka dibutuhkan pemilik Jeep yang sudah berpengalaman. Kami ternganga mendengar cerita-cerita mereka yang sudah pernah mengemudi di segala medan, mulai dari gunung, padang pasir, bahkan pernah Om Robi ikut balapan sampai masuk jurang. Di sela-sela kegiatan komunitas mereka, mereka juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya yang sedang mereka lakukan adalah membantu mobilisasi GUIM.

Dua jam lebih perjalanan, rasanya kami tidak sampai-sampai juga. Jalanan semakin menanjak curam, kasar, dan sempit. Mobil terus berguncang-guncang karena kasarnya jalan yang kami lewati. Namun akhirnya mobil kami berhenti juga. Kami sampai di rumah tujuan kami yang terletak persis di depan SD Puncakmanggu. Carrier-carrier kami diturunkan.

Pemilik rumah yang bernama Bu Maesaroh menyambut kedatangan kami. Bu Maesaroh tinggal di rumahnya bersama dengan anaknya yang bernama Agung, anak  kelas 6 SD Puncakmanggu. Di samping rumah Bu Maesaroh yang memiliki warung, berdiri rumah anaknya yang bernama Bu Ika. Bu Ika yang juga merupakan guru kelas 1 di SDN Puncakmanggu memiliki anak yang cantik dan menggemaskan bernama Pia.

Rumah Bu Maesaroh yang cukup luas rencananya akan ditempati oleh para panitia. Sementara para pengajar akan ditempatkan di rumah-rumah warga secara terpisah. Pada hari pertama, beberapa pengajar sudah diantar ke rumah housefamnya masing-masing. Berhubung Bu Uam, Ibu house fam yang kutempati sedang ada hajatan di rumah saudaranya, maka aku belum bisa menempati rumah house fam.

Keesokan harinya, hari Jum’at, adalah hari pertama kami masuk sekolah. Beberapa anak sudah mengamati kedatangan kami dari jauh. Kami hanya tersenyum gugup, tidak sabar untuk berkenalan dengan anak-anak kami masing-masing. Aku memperhatikan, beberapa anak yang sedang menunggu bel masuk berbunyi menghabiskan waktu mereka dengan bermain voli dan sepak takraw di lapangan sekolah. Mereka sangat lihai bermain sepak takraw, tidak terkecuali anak-anak perempuannya. 

Sambil menunggu, kami berlatih kosakata dasar bahasa sunda supaya nanti bisa menyapa anak-anak. Apalagi, konon anak-anak kelas kecil tidak terbiasa untuk berbicara bahasa sunda. Tentunya hal ini menjadi salah satu PR bagiku yang harus mengajar kelas tiga. Aku tidak bisa berbahasa sunda!
Ceritanya nunggu sekolah mulai, entah kenapa jadi keliatan kayak anak-anak dihukum sama guru

Di sisi lain sekolah ada tebing tinggi yang bisa didaki. Disana anak-anak bermain lari-larian. Aku terpekik melihat pemandangan dari atas tebing. Sungguh, desa ini adalah tempat yang sangat indah. Aku merasa bersyukur walaupun ditempatkan di titik terjauh. Pemandangan sawah dan bukit hijau membentang. Kami berfoto-foto di atas tebing dan mengajak beberapa anak untuk berfoto bersama, walaupun mereka masih agak malu-malu.

Sesaat kemudian lonceng sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan menuju lapangan, membentuk barisan sesuai dengan kelas masing-masing. Hanya anak-anak kelas satu saja yang masih perlu diarahkan untuk merapikan barisan mereka. Kami berbaris menghadap barisan anak-anak. Anak-anak menatap kami dengan penasaran. Pak Sulton, guru kelas 5, memperkenalkan kami kepada anak-anak. Kami satu-persatu maju dan memperkenalkan diri.


“Sampurasun, sadayana. Wilujeng enjing. Tepangkeun, nami abdi  Ibu Iffah. (Halo, semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Ibu Iffah).” Aku menyapa mereka.

Setelah itu kami melakukan persembahan dengan menyanyikan lagu roti mentega. Beberapa anak terdiam dan malu-malu untuk mengikuti kami, namun ada beberapa yang mengikuti lagu dan gerakan kami.

Guru dan Pengajar GUIM di SD Puncakmanggu

Kemudian kami berkumpul bersama para guru di ruang guru. Kami berdiskusi dengan guru-guru mengenai apa yang akan kami lakukan di SD Puncakmanggu. Lalu kami mengikuti guru-guru ke kelas masing-masing, untuk mengobservasi cara mereka mengajar di kelas. Aku mengikuti Pak Baban, guru yang saat ini mengajar kelas tiga. Sebelumnya Pak Baban adalah Guru Agama Islam, namun karena Pak Badru, guru kelas tiga sebelumnya baru saja dimutasi, Pak Baban menjadi guru kelas tiga menggantikan Pak Badru merangkap guru Agama.

Aku duduk di meja guru, memperhatikan Pak Baban mengajar anak-anak. Memang, hari pertama datang kami dilarang untuk mengajar oleh RED, kami hanya diminta untuk mengobservasi kelas, bagaimana biasanya KBM di kelas berlangsung. Beberapa anak dengan raut penasaran mengamatiku yang duduk di meja guru. Mungkin jaket kuning yang kukenakan memang begitu mencolok.

Salah satu anak menyiapkan kelas, kemudian mereka membaca doa dan memberi salam. Lalu Pak Baban mengabsen satu persatu anak-anak. Anak-anak duduk membentuk kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari sekitar enam orang. Buku yang mereka gunakan untuk belajar dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak.

Kesimpulanku hasil observasi, gaya mengajar di sekolah ini masih gaya mengajar yang berorientasi pada guru, bukan pada siswa. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang Pak Baban mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku. Anak-anak menyalin secara berebutan, karena buku yang dimiliki memang terbatas. Kadang satu orang bertugas mendiktekan, sementara yang lain menulis mengikuti. Sehabis itu Pak Baban menjelaskan materi, dan akhir kelas ditutup dengan menjawab soal-soal yang ada di akhir setiap BAB. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

Aku merasa berdebar-debar. Metode mengajar kreatif yang dibawa GUIM sama sekali berbeda dengan metode yang mereka gunakan sekarang. Akankah kami berhasil membawakan metode mengajar kreatif di SD Puncakmanggu ini? Apakah aku sanggup, dalam waktu tiga minggu ini, untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk karakter yang membekas pada murid-murid kelas tiga?

Aaah, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Hari pertamaku mengajar.

Jumat, 07 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #1: Perkenalan


Gerakan UI Mengajar (GUIM) adalah program yang terinspirasi dari Indonesia Mengajar, dimana mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia dari berbagai jurusan dan angkatan dikirim ke desa yang akses pendidikannya masih kurang untuk mengajar di Sekolah Dasar selama tiga minggu.
Kali ini, aku beruntung terpilih menjadi salah satu dari 36 Pengajar GUIM angkatan 4. Program GUIM 4 berlangsung selama bulan Januari 2015 ini. Setelah GUIM pertama di Garut, GUIM 2 di Sobang, Banten, dan GUIM 3 di Indramayu, GUIM 4 memilih lokasi Kabupaten Sukabumi sebagai tempat pengabdian kami. Kenapa Sukabumi? Konon, Sukabumi memiliki angka putus sekolah yang cukup tinggi. Banyak anaknya yang tidak melanjutkan jenjang pendidikan selepas lulus SD, apalagi yang melanjutkan dari SMP ke SMA. Sedih rasanya mendengar fakta bahwa persebaran akses pendidikan di Indonesia masih timpang, apalagi Sukabumi sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari Ibukota, masih di Provinsi Jawa Barat, masih di Pulau Jawa.
Aku mendapat tugas untuk mengajar kelas 3, ditemani oleh pengajar kelas lain dan panitia yang tergabung dalam Titik Satu. Kami mendapatkan amanah untuk membantu mengajar di SDN Puncakmanggu, desa Balekambang, Kecamatan Jampang Kulon selama bulan Januari 2015. Selain mengajar, kami juga bertugas untuk menanamkan nilai dan menginspirasi anak-anak yang kami ajar.
Cerita ini kubuat bukan untuk bernostalgia tentang kisah kami selama tiga minggu disana. Bukan itu. Karena rasanya, berlembar-lembar halaman pun tidak akan cukup untuk menceritakan pengalaman menakjubkan yang kami alami di sana. Aku menulis cerita ini untuk berbagi, berbagi pelajaran yang kudapatkan dalam waktu yang singkat di sana. Dan aku harap, kisahku ini dapat memberikan pelajaran bagi kalian yang membaca, sekaligus menghibur.
Sebelum aku mulai bercerita, yuk kenalan dulu dengan tokoh-tokoh dalam kisah ini:


Iffah. Iffah adalah mahasiswa tingkat akhir yang mencoba menjajal kemampuannya mengajar. Walaupun Iffah pernah beberapa kali mengajar anak SMA untuk persiapan SNMPTN, namun dia merasa bahwa di GUIM tantangannya lebih berat. Mengajar anak SD artinya menanamkan nilai, dan kau tak mungkin mengajarkan anak-anak untuk berperilaku baik sementara dirimu tidak mencontohkan perilaku baik, bukan? Dan beruntungnya, melalui GUIM Iffah dipertemukan dengan murid-murid kelas tiga yang memberikan pengalaman hidup tak terlupakan.


Maul. Maul adalah pengajar kelas satu. Maul adalah orang yang kukagumi karena kemampuannya untuk lembut sekaligus tegas kepada murid-murid kelas satu yang masih cilik-cilik. Untuk menghadapi anak-anak kelas satu yang perilakunya masih seperti anak TK tentu diperlukan kesabaran ekstra, dan Maul memiliki itu. Walaupun Maul selalu bercerita kalau dia terkadang kesal dengan tingkah laku anak muridnya, namun jauh di lubuk hati aku tahu, Maul begitu menyayangi mereka, dan mereka amat sangat menyayangi Maul. Maul memiliki cita-cita yang unik untuk mendirikan TK dan memiliki banyak anak. Di luar kelas, Maul adalah tempatku bercerita tentang banyak hal karena aku dan dia memiliki banyak kesamaan, kami sama-sama suka menulis. Maul juga berbakat di bidang teater, pengalaman mengajarnya didapat dari pengalamannya sebagai penulis skenario sekaligus pelatih teater. Cool.


Ela. Ela adalah pengajar kelas dua yang ceria, selalu menyemarakkan suasana, namun strong. Di bawah bimbingan Ela, murid-murid kelas dua berhasil menjadi murid paling disiplin dan teratur yang pernah kulihat diantara kelas-kelas kecil seperti kelas 1, 2, dan 3. Ela sangat periang namun tegas di dalam kelas, namun kalau sudah berkumpul dengan pengajar di luar kelas, Ela bisa menjadi orang yang sangat gokil dan alay (maaf Girls Ela. Tapi kamu memang alay). Namun bersamanya, aku bisa puas melakukan hal-hal aneh tanpa harus repot-repot jaim (menjaga image). Di balik wajahnya yang manis tidak mengancam, diam-diam ternyata Ella sangar. Ia salah satu anggota Gandewa, organisasi pecinta alamnya Fakultas Psikologi.


Melati. Melati pengajar kelas empat yang cantik seperti bidadari. Melati menghadapi tantangan karena sebagian besar murid kelas empat adalah anak laki-laki yang aktif dan cerewet (kami memanggil mereka BOYZ). Melati dapat mengendalikan anak-anak kelas 4 sehingga mereka mengarahkan keaktifan mereka untuk hal-hal yang positif. Di dalam maupun luar kelas, Melati selalu ceria dan selalu memancing tawa. Melati juga tempatku bercerita banyak hal. Selain itu, Melati ternyata pemimpin redaksi website Suara Mahasiswa (lembaga pers kampus). Keren banget deh temenku satu ini.
Bila aku, Melati, Ela, dan Maul sudah berkumpul, kami sering membincangkan atau melakukan hal-hal random yang sering membuat Ucheng geleng-geleng kepala. Namun kuakui, tanpa mereka, hari-hariku di Puncakmanggu tidak akan seceria itu.


Risky. Risky adalah pengajar kelas lima yang lumayan geek, khas anak Fasilkom. Risky penuh dengan ide-ide tidak biasa, yang mungkin tidak pernah kami pikirkan sebelumnya. Risky punya kebiasaan sehabis mengajar pergi ke lapangan untuk bermain sepakbola bersama remaja-remaja desa sampai maghrib tiba. Risky sangat sayang dengan murid-murid kelas lima, kelas yang dinamai “Sukamadu”. Saat terakhir kami pulang, Risky yang menangis paling kencang dan paling susah move-on :p


Gugum. Gugum adalah pengajar kelas enam yang paling kharismatik. Selain menerapkan ilmu psikologi pendidikan-nya dalam mengajar, Gugum juga selalu mengajar dengan hati. Walaupun awalnya Gugum pendiam, ternyata kalau sudah bercerita, Gugum bisa cerita banyak hal. Kupikir, Gugum adalah pengajar paling menginspirasi diantara pengajar-pengajar yang lain.

Kami sebagai pengajar tinggal bersama-sama dengan panitia GUIM sebagai satu keluarga. Inilah panitia-panitia di titik satu:


Rina. Rina adalah koordinator lapangan (korlap) titik satu. Rina cengengesan dan selow, humoris, dan senggol curhat. Namun walaupun begitu, Rina punya kharisma dalam memimpin titik satu. Ia bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin dan tegas. Terkadang aku lupa kalau Rina masih angkatan 2013. Rina adalah orang sunda asli, jadi mudah bagi kami untuk belajar bahasa sunda sama Rina. Sialnya aku pernah diisengi Rina karena tidak bisa bahasa sunda (akan kuceritakan di postingan selanjutnya. Rina membuktikan kekerenannya dan konsistensinya di dunia ini dengan menjadi WaPO dari GUIM 5.


Ucheng. Ucheng adalah RED di titik satu, bapaknya para pengajar. Istilahnya, kalau kami pengajarnya, Ucheng adalah Kepsek-nya. Setiap hari ia berkeliling memantau KBM dari luar kelas melalui jendela, seperti Kepsek sungguhan. Seringkali, aku langsung sibuk “berakting jadi pengajar yang baik” kalau kepala Ucheng muncul dari jendela. Kupikir aku saja yang melakukannya, pengajar-pengajar lain juga melakukannya haha. Ucheng juga sangat helpful, kalau pengajar lagi pusing mengajar dan butuh bantuan, ia akan datang dan membantu mengajar di kelas. Pokoknya Ucheng Kepsek teladan deh.


Wawan. Wawan adalah bendahara titik satu yang terkadang ngeselin terkadang ngangenin. Entah kenapa kalau lagi ngobrol sama Wawan, secara misterius orang akan emosi kepadanya. Padahal Wawan tidak melakukan apa-apa. Seringkali Wawan hanya bisa pasrah saat dibully orang-orang. Wawan sebenarnya anaknya baik, polos dan sayang anak, buktinya Wawan selalu mengajak bermain Pia, anak di rumah housefam panitia. Kabarnya Wawan ke Puncakmanggu untuk mencari jodoh, dan akhirnya Wawan ditaksir oleh gadis Puncakmanggu bernama Pia, yang berumur.. empat tahun.


Nismen. Nismen adalah CED yang tugasnya mengadakan kegiatan untuk masyarakat di titik kami. Nismen orangnya polos namun selalu memberikan keceriaan. Nismen juga sangat perhatian kepada anak-anak di titik satu layaknya ibu sendiri. Nismen adalah teman curhat paling asyik selama di Puncakmanggu. Pernah suatu saat aku menjadi angel-nya Nismen, tapi ternyata aku gabut karena Nismen jauh lebih perhatian kepadaku daripada aku kepadanya sebagai angel-nya. Pokoknya Nismen super perhatian deeh.


Nabila. Nabila adalah Humas di titik satu. Tugas Nabila adalah berkeliling rumah-rumah warga dan berbaur dengan warga sekitar. Sekalian Nabila menyalurkan bakatnya demi mendapatkan informasi terkini untuk dibagikan kepada genggos alias geng gosip di titik satu. Nabila juga sangat sayang dengan salah satu Ibu housefam di titik satu yang bernama Bu Cucun. Saking dekatnya, Nabila mendapatkan predikat sebagai anaknya Bu Cucun. 


Nia. Nia bertugas sebagai medis di titik satu. Nia merupakan panitia yang unik dan lain dari yang lain. Nia selalu membuat kita tertawa dengan gayanya yang khas. Konon Nia ikut GUIM untuk belajar bertani bersama masyarakat, namun selama kami di sini ia belum sempat menyalurkan bakatnya dalam mengayunkan pacul. Nia juga sangat jago dalam mengkepo orang, setiap malam ia membawa gosip terbaru hasil kepoannya dengan orang-orang di instagram.


Farid. Farid adalah akomodasi di titik satu yang super strong. Ia mampu menggotong dua carier sekaligus. Selain itu karena Farid anak robotik, ia sering berkreasi dengan bahan-bahan seadanya dan membuat alat-alat unik, misalnya mobil-mobilan tenaga angin (bisa jalan loh!) dan semacam robot yang bisa terbang. Farid bermuka seperti anak bayi dan hobi melet. Farid adalah akomo kesayangan kami karena setiap malam Farid setia mengantar pengajar pulang ke rumah housefam masing-masing yang letaknya lumayan jauh. Farid juga merupakan akomo kebanggaan girls karena grup robotiknya banyak berprestasi.


Nurul. Nurul selalu menenteng kamera kemana-mana karena ia adalah dokumentasi di titik satu. Nurul sering masuk ke kelas dan mengambil foto kami yang sedang mengajar. Sedihnya, foto Nurul hampir tidak ada karena dia yang megang kamera. Nurul amat sangat polos seperti adik sendiri, dan dia sangat takut kepada Ucheng seperti anak yang takut kepada bapaknya. Nurul sangat dekat dengan Pia, cucu dari Bu Maesaroh, tempat kami menginap, ia layaknya kakak Pia.



Kak Mbing. Kak Mbing adalah penumpang gelap di titik satu. Bohong deng, dia adalah Steering Comitee GUIM karena Kak Mbing adalah Kadept Sosmas BEM UI. Kak Mbing dibolehkan tinggal di titik satu karena kami perlu orang untuk ngepel-ngepel rumah. Maaf aku banyak membully Kak Mbing dalam tulisan ini karena Kak Mbing sangat bullyable. Setiap hari dia menjadi bahan bully-an di titik satu karena memang layak di bully. Ketika Kak Mbing tidak ada, kami sempat merasa kehilangan karena tidak ada orang yang bisa dibully.


Kak Ivan. Kak Ivan adalah Ketua BEM UI. Sama seperti Kak Mbing, Kak Ivan sebagai SC yang tinggal bersama kami di titik satu. Namun karena kak Ivan tidak ngeselin-ngeselin banget, dia tidak menjadi bahan bully seperti kak Mbing. Walau Kak Ivan baru lengser sebagai pejabat, Kak Ivan tidak segan-segan untuk mencuci piring rakyat-rakyatnya.
Itulah perkenalan tokoh-tokoh di titik satu SDN Puncakmanggu, nantikan kisah selanjutnya :)





Selasa, 04 Agustus 2015

Tips Membuat Skripsi (buat mahasiswa Hukum)


Assalamualaikum! Long time no post!

Alhamdulillah segala kesibukanku sebagai mahasiswa berakhir sudah.. mulai dari ngurus printilan skripsi, berkas kelulusan, tinggal mengikuti prosesi wisuda aja tanggal 28 Agustus ini. Sambil menunggu waktu kerja dimulai, aku punya banyak waktu kosong sehingga aku terpikir untuk menulis postingan ini.

Mungkin beberapa diantara kalian yang kebetulan nyasar ke blog ini karena googling memang lagi pusing-pusingnya menyusun skripsi, atau bahkan belum kepikiran mau nulis tentang apa. Beberapa juniorku yang akan masuk semester tujuh juga mengajukan pertanyaan yang sama. Nggak usah panik, aku bahkan baru mulai menyusun skripsi di semester delapan, alhamdulillah satu semester bisa sidang dan lulus. Tapi, memang lebih baik supaya mempersiapkan diri jauh-jauh hari, supaya pengerjaan skripsi bisa lancar dan nggak menemui banyak hambatan (amiin).

Berhubung aku sudah selesai menulis skripsi (sombooong), kali ini aku akan memberikan sedikit tips dalam menyusun skripsi, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas Indonesia. Karena sejujurnya, aku pun kurang tahu bagaimana kultur skripsi di Fakultas lain, jadi mungkin tulisan ini lebih relevan untuk mahasiswa FH.

Oke, inilah beberapa tips dalam menyusun skripsi:

1.    Mencari topik dan tema
Langkah paling awal dalam penulisan skripsi adalah mencari topik dan tema yang pas. Saranku, kalau kamu ingin menulis skripsi, pilihlah topik yang memang passion kamu dan kamu memiliki ketertarikan yang besar terhadap topik itu. Soalnya, selama berbulan-bulan ke depan kamu akan menghadapi bahasan yang ituuu -itu aja. Kalau topik skripsinya bukan topik yang kamu minati, pasti kamu akan bosan dalam pengerjaannya. Ujung-ujungnya, skripsi mandek *amit-amit

Bagaimana cara mencari topik yang pas?

Pertama, topiknya setidaknya sesuai dengan peminatan kamu. Misalnya aku mengambil Program Kekhususan (PK) 1 yaitu Hukum Perdata, nggak mungkin dong nulis skripsi yang pure hukum internasional? Tapi kalau misalnya aku mau mengambil skripsi yang lintas PK, misalnya skripsi tentang kontrak pada e-commerce (skripsi lintas PK 1 dan PK 4), minimal aku sudah harus mengambil mata kuliah Hukum Telematika yang merupakan mata kuliah PK 4. Jadi buat kamu yang sudah kepikiran judul skripsi tapi belum mengambil mata kuliah terkait topik skripsi, pastikan kamu mengambil matkul itu juga ya! Kalau nggak, mau nunggu kapan lagi sampai matkul itu dibuka?

Lalu, banyak-banyaklah membaca tentang isu yang lagi hot di sekitar kita, atau isu yang kamu minati, lalu cari aspek hukum yang bisa dibahas. Misalnya, aku menulis skripsiku ketika lagi hot-hotnya isu tentang Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Setelah aku membaca dan berdiskusi, ternyata ada isu perlindungan konsumen dan isu hukum islam yang bisa ditelisik lebih jauh dalam Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Atau misalnya Camila sahabatku, ia mengangkat isu tentang kekerasan dalam pacaran. Waktu itu keluar putusan pengadilan mengenai penganiayaan yang dilakukan oleh mahasiswa ITB terhadap pacarnya yang juga mahasiswi ITB, jadi Camila mewawancarai korban sebagai bahan analisis skripsinya.

Kalau sudah menemukan topik yang pas, mulailah berdiskusi dengan orang-orang mengenai topik skripsi kamu. Diskusi ini penting supaya kamu bisa mengembangkan ide, kira-kira apa aspek hukum yang mau kamu angkat dalam skripsi kamu? Oh iya, aku juga sangat menyarankan kamu untuk membaca skripsi, tesis, bahkan disertasi dari alumni-alumni UI tentang topik skripsi kamu. Segala skripsi, tesis, dan disertasi bisa di download di lib.ui.ac.id kolom UI-ana. Kalau skripsinya bersifat open, maka skripsi tersebut bisa langsung di download dalam bentuk PDF. Kalau skripsinya membership, maka kamu bisa ke lantai 1 Perpustakaan Pusat untuk minta keanggotaanya diaktifkan. Selain itu dengan membaca karya senior, kamu bisa menghindari untuk nggak menulis judul atau topik yang persis sama dengan skripsi yang pernah ada. Kalau tidak salah, ada larangan menulis pembahasan skripsi yang sama dengan skripsi alumni yang pernah ada selama kurun waktu tertentu (5 tahun ke belakang mungkin? Correct me if I’m wrong)

2.    Berburu Dosen Pembimbing
Kalau sudah ada bayangan tentang topik skripsi, mulailah berdiskusi dengan dosen-dosen yang mendalami topik tersebut. Di FH, ada kultur tidak tertulis untuk nge-tag dosen sebelum pembimbing dibagikan sama PK. Biasanya, mahasiswa menemui dosen untuk mendiskusikan topik skripsinya. Kalau ternyata kamu dan dosennya cocok, kamu bisa meminta dia untuk menjadi dosen pembimbing kamu. Nanti ketika mengumpulkan proposal skripsi, cukup sertakan catatan seperti ini (contohnya):
“Saya ........ npm .......... sudah berdiskusi dengan Bapak/Ibu ........., dan beliau setuju untuk menjadi dosen pembimbing saya.”

Sistem nge-tag dosen seperti ini akan lebih menguntungkan buat kamu, karena kamu sudah memilih dosen sendiri sebelum dipilihkan. Kadang-kadang dosen yang dibagikan sama PK bisa sangat random, contohnya skripsiku ada aspek Perlindungan Konsumennya, tapi aku nggak kebagian pembimbing dosen Hukum Perlindungan Konsumen. Penting juga bagi kamu untuk mengenali karakter dosen sebelum men-tag sebagai pembimbing, karena karakter dosen berbeda-beda. Ada beberapa dosen yang kesibukannya cukup padat sehingga butuh effort tinggi untuk bertemu dan bimbingan. Ada dosen yang nggak mau bimbingan sampai Bab 4 mahasiswanya selesai. Ada dosen yang mungkin kurang menguasai bahasan kamu. Ada dosen yang perfeksionis banget dan nggak nerima skripsi yang dibuat asal-asalan. Jadi sebelum dipilihkan dosen secara random oleh Fakultas, akan lebih baik kalau kamu tahu dosen mana yang punya kompetensi di bidang tema skripsi kamu dan cocok dengan kebutuhan kamu.

Mahasiswa yang mengambil skripsi dengan topik lintas PK akan punya dua dosen pembimbing, seperti yang kualami. Ada enak dan nggak enaknya juga punya dua dosen pembimbing. Enaknya, kita lebih kaya perspektif dan mendapatkan lebih banyak saran karena setiap dosen punya sudut pandang yang berbeda-beda. Nggak enaknya, waktu bimbingan kita pasti lebih banyak dibandingkan yang punya satu dosen pembimbing, karena minimal kita bimbingan dengan satu dosen sebanyak enam kali.

Tips dariku, kenali karakteristik dosen pembimbing kamu: apakah dia lebih suka ketemu langsung, atau nggak keberatan untuk diskusi via email, apakah dia fleksibel untuk ditemui, atau jadwalnya padat, dst. Akan lebih baik kalau kamu menanyakan ke senior yang sudah pernah bimbingan dengan dia, Ibu/bapak dosen kamu ini karakternya seperti apa? Dengan begitu, kamu akan lebih mudah untuk menyesuaikan kemauan dosen pembimbing kamu, dan diharapkan nggak terjadi miskomunikasi antara kamu dan dosen pembimbing.

3.    Persiapan administrasi
Salah satu hal yang tidak boleh terlupa adalah memastikan segala Mata Kuliah Wajib Semester (MKWF) dan MWKPK (mata kuliah wajib PK/peminatan) sudah selesai kamu ambil. Jadi kamu sudah nggak bermasalah lagi dengan administrasi kelulusan dan tinggal fokus menyelesaikan skripsi. Kamu juga bisa kok mengerjakan skripsi sambil mengambil mata kuliah yang belum selesai, tapi konsekuensinya kamu baru bisa sidang kalau nilai mata kuliahnya sudah keluar (dengan syarat: Lulus 140 SKS + 4 SKS skripsi, MKWF dan MKWPK lulus semua).

Tidak jarang terjadi kasus dimana seseorang sudah menyusun skripsi, siap sidang, eh ternyata nggak bisa sidang semester ini karena ada satu mata kuliah wajib yang belum lulus. Nggak mau kan kayak gitu? Atau seperti kasus temanku kemarin, udah tinggal sidang, tapi ternyata dia lupa klik mata kuliah skripsi di IRSnya.

Nah, untuk panduan mata kuliah apa saja yang harus udah selesai kewajibannya sebelum (atau bisa sambil) mengerjakan skripsi, bisa tanya langsung ke biro pendidikan atau dicek di FHUI Guide *promosi

Untuk menulis skripsi, mintalah surat menulis skripsi di biro pendidikan. Nanti kita dikasih surat keterangan menulis skripsi dan transkrip nilai kita. Surat keterangan menulis skripsi gunanya untuk dikasih ke PK masing-masing, agar setiap PK bisa memberikan pembimbing untuk kita menyusun skripsi. Surat keterangan dan transkrip beserta form A-D (minta ke birpen) kita kumpulkan bersama dengan proposal skripsi kita.

4.    Memilih bentuk skripsi
Bentuk skripsi bisa bermacam-macam tergantung rumusan masalah, metode penelitian, dan metode penulisan yang kamu pakai. Misalnya, di PK 1 sebagian besar skripsi teman-temanku berbentuk yuridis-normatif, dengan analisis putusan. Jadi skripsi yang dibuat merupakan perbandingan antara hukum yang berlaku secara normatif dengan penerapan hukum tersebut dalam suatu kasus/putusan. Untuk tipe skripsi seperti ini, akan lebih enak kalau putusan yang akan kamu analisis sudah berkekuatan hukum tetap. Kadang apes-apesnya jadi mahasiswa hukum terjadi saat kamu sudah hampir menyelesaikan skripsi yang menganalisis putusan, eh ternyata putusan tersebut di Judicial Review sehingga dibatalkan. Atau kasus lain, Undang-Undang yang jadi pisau analisis kita ternyata di Judicial Review sehingga dicabut. Kalau kamu mengalami kejadian seperti itu.. pasrah sajalah hahaha *canda* Bentuk lain yang ada adalah perbandingan hukum tertentu di Indonesia dengan hukum yang sama di negara lain. Bentuk lainnya seperti skripsi yang kubuat, yang menganalisis aspek-aspek hukum yang ada dalam suatu undang-undang.

Enaknya jadi mahasiswa hukum adalah data yang kita gunakan dalam skripsi tidak harus data primer. Sebaliknya, sumber utama skripsi mahasiswa hukum adalah data sekunder berupa sumber hukum, peraturan perundang-undangan, putusan, dll yang diperkuat dengan data sekunder berupa wawancara kepada ahli atau praktisi hukum. Namun ada beberapa temanku yang menyusun skripsi dengan data primer, melalui kuisioner atau indepth interview kepada masyarakat untuk menggambarkan keberlakuan hukum di masyarakat. Harus diakui skripsi model ini lebih niat, tapi juga butuh lebih banyak effort untuk menyelesaikannya.

Untuk tahu bentuk mana yang akan kamu pakai di skripsimu, kamu bisa membaca skripsi-skripsi senior terdahulu atau berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk mencari bentuk yang pas dengan rumusan masalah skripsi kamu.

5.    Teman seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi
Teman seperjuangan sangat penting perannya untuk saling support. Adakalanya kita merasa jenuh dalam mengerjakan skripsi, merasa stress, atau stuck di satu Bab. Untuk itulah kita perlu punya teman yang saling mengingatkan dan menguatkan untuk bersama-sama meraih gelar Sarjana. Teman juga bisa menjadi pelecut semangat dalam mengerjakan skripsi. Nggak mau kan, kita masih Bab satu sementara teman-teman kita sudah sampai Bab empat?

Paling enak kalau kita punya kelompok khusus untuk sama-sama mengerjakan skripsi. Walaupun topik skripsi kita berbeda-beda, setidaknya ada teman untuk berdiskusi dan bisa memberikan insight dikala kita sedang bingung. Teman-teman jugalah yang bisa menemani kita sampai begadang mengerjakan skripsi. Dan teman-teman inilah orang-orang yang nggak akan nanyain “Skripsi lo udah bab berapa?” karena mereka tahu betapa nggak enaknya diberi pertanyaan seperti itu. Huffthh.

Teman-teman satu bimbingan juga bisa diajak kompakan, seperti misalnya janjian kapan mau ketemu dosen, kapan mau wawancara narasumber, kapan mau sms dosen, kapan mau ingetin dosen kalo deadline sidang udah deket, dll. Intinya jagalah hubungan baik dengan teman-teman selama skripsian, karena teman adalah salah satu supporting system kita selama skripsian.

6.    Konsisten
Bagian tersulit dan terberat dari mengerjakan skripsi adalah: memulai. Rasanya adaa aja alasan untuk nggak ngerjain skripsi. Banyak mahasiswa yang stress karena mikirin skripsinya, tapi mereka lupa, skripsi itu bukan untuk dipikirin tapi untuk dikerjain. Jadi, mulailah menulis hari ini atau kau akan menyesal!

Dalam mengerjakan skripsi, yang penting itu harus konsisten! Bukannya bermaksud lebay, pas aku mengerjakan skripsi, kalau misalnya aku meninggalkan skripsi sehari-dua hari, rasanya maleees banget untuk menyentuhnya lagi.

Untuk melatih disiplin dan konsistensiku, aku menerapkan program one day one paper. Jadi aku berjanji dalam sehari minimal aku menulis skripsi satu halaman. Syukur-syukur bisa lebih dari satu halaman. Sehingga mengerjakan skripsi menjadi suatu kebiasaan. Cara ini juga menghindarkanku dari vakum menulis skripsi. Seperti yang aku bilang kalau sehari dua hari aja kita berhenti nulis skripsi, bakalan maleees banget untuk mulai menulisnya lagi. Padahal ya kalau kita udah menulis skripsi, kata-kata dengan sendirinya akan lancar dan mengalir kok, apalagi kalau kita sudah banyak baca dan diskusi tentang materi skripsi kita ini.

7.    Sabar
Skripsi adalah ujian mental bagi mahasiswa semester akhir. Kadang kita menemui kesulitan seperti sulit ketemu dosen pembimbing, narasumber susah banget diwawancarain, belum dapet responden sesuai target, putusan yang jadi bahasan skripsi di JR padahal udah sampe bab empat, deadline sidang udah dekat tapi dosbing susah ditemui, disuruh revisi ulang satu bab, laptop kena virus jadi semua bahan skripsi ilang, etc dll dst. Disaat-saat inilah kesabaran seorang anak manusia diuji. Aku hitung, ada sekitar sepuluh kali aku menangis karena mengerjakan skripsi. Belum lagi pertanyaan yang tidak perlu dari orang-orang di sekitar atau junior yang kamu temui di kampus, yang menanyakan pertanyaan serupa, “Skripsinya udah bab berapa?”

Pliis tenggang rasa sedikit lah. Kecuali kamu mau bantuin saya ngerjain skripsi, nggak perlu nanya-nanya *sensi wkwk. Beban mahasiswa tingkat akhir sudah cukup berat dengan adanya skripsi, nggak perlu lagi ditambah pertanyaan kayak gitu. Tapi ini nggak sepenuhnya kesalahan orang yang menanyakan sih, karena bisa jadi mereka beneran care sama kita dan ingin tahu perkembangan skripsi kita sejauh apa.

Setiap dapat pertanyaan seperti itu, aku cuma bisa tersenyum dan berkata, “doain aja ya cepat selesai.” Ternyata daripada ngomel-ngomel, lebih baik kita minta di doain sama orang-orang yang menanyakan skripsi kita. Syukur-syukur doanya dikabulkan.


Last but not least, perbanyaklah berdoa. Minta kepada Allah Yang Maha Kuasa agar dilancarkan dan diberi kemudahan dalam mengerjakan skripsi. Kita harus inget walaupun beban skripsi terasa seberat gunung, bagi Allah mah skripsi nggak ada apa-apanya. Dia bisa mengangkat semua kesulitan kita dalam mengerjakan skripsi dalam sedetik saja. Aku ingat, beberapa kali aku merasa diberi kelancaran dan kemudahan sama Allah saat mengerjakan skripsi, juga saat sidang, sehingga alhamdulillah aku nggak mengalami kesulitan yang berarti selama skripsian, bahkan rasanya selalu adaa aja jalan. Jangan lupa juga minta orangtua doain kita; doa orangtua ke anaknya selalu manjur loh.

Sekian tips dariku untuk mengerjakan skripsi. Bagi kamu yang baru akan memulai mengerjakan skripsi, semangaat! Percayalah, skripsi nggak ada apa-apanya. Skripsi cuma sedikit tanjakan di kehidupan kita. Jadi kamu pasti bisa melaluinya :)

 Selamat mengerjakan skripsi, semoga skripsi yang kamu susun bisa berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia :)