Selasa, 17 Februari 2015

Be a Muslim Jurist


Sungguh tidak mudah menjadi mahasiswa Hukum. Apalagi di Indonesia, negara dimana hukum tidak memiliki supremasi apa-apa. Hukum rasanya sangat mudah diperjualbelikan, dipermainkan demi kepentingan politik semata. Ketika hukum dipermainkan oleh orang-orang yang berkuasa, banyak pihak yang terdzalimi bahkan oleh keberadaan hukum itu sendiri. Hukum, yang seharusnya dapat memberikan keadilan dan ketertiban, malah menimbulkan kekacauan baru.

Masih hangat dalam ingatan, kemarin vonis telah dijatuhkan dalam proses praperadilan calon Kapolri Budi Gunawan yang menjadi tersangka KPK. Hakim Sarpin memutus bahwa penetapan status Budi Gunawan sebagai tersangka KPK tidak sah, padahal bukanlah kewenangan Hakim dalam praperadilan untuk memutuskan sah atau tidaknya penetapan status tersangka. Hakim Sarpin, entah sadar atau tidak, telah menjatuhkan putusan yang melebihi wewenangnya. Tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun sayangnya, putusan praperadilan berkekuatan hukum tetap sehingga tidak dapat diganggu gugat. Sehingga, resmilah calon Kapolri Indonesia (yang notabene adalah unsur penegakan hukum tertinggi di Indonesia) adalah (mantan) tersangka koruptor.

Vonis ini menambah kekecewaan dalam dada mahasiswa hukum, termasuk aku dan kawan-kawanku. Tidak sedikit dari kami yang menitikkan air mata. Entah sudah berapa kali kami dikecewakan dengan putusan penegak hukum yang kami—mahasiswa hukum—tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kami pelajari tentang hukum. Sungguh sesak rasanya jadi mahasiswa hukum, karena apa yang diajarkan di ruang-ruang kelas bertentangan dengan realita penegakan hukum yang terjadi. Das sollen tidak sesuai dengan das sein. Tidak sedikit dari kami bertanya-tanya, untuk apa kami belajar hukum. Karena pada prakteknya, apa yang kami pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam kenyataan. Hukum di Indonesia sudah sedemikian mengkhawatirkannya.

Memang tidak mudah jadi mahasiswa hukum. Apalagi di Indonesia, dimana hukum sudah tidak dipercaya.

Tidak terhitung beberapa kali aku dalam perjalanan, seketika ditatap dengan wajah tidak ramah, ketika aku mengaku sebagai mahasiswa jurusan Hukum. Tatapan sinis itu disusul dengan racauan kemarahan entah ditujukan untuk siapa. Mengutuk penegakan hukum di Indonesia yang sedemikian bobroknya. Aku yang mendengarnya hanya bisa menunduk dalam-dalam. Mungkin tidak semua orang mengerti bahwa aku dan teman-temanku mempelajari hukum bukan untuk menjadi bagian dari penegakan hukum yang menyimpang. Kami belajar, agar kami tidak mudah dibodohi seperti orang-orang lain yang tidak mengerti hukum. Agar kami dapat meneriakkan keadilan ketika kami tahu hukum dipermainkan. Untuk itu kami menjadi mahasiswa hukum. Namun aku mencoba memaklumi, karena mereka pun geram dan prihatin dengan penegakan hukum di Indonesia yang asal-asalan. Seperti kami.

Memang tidak jarang muncul keinginan untuk menyerah. Menyerah saja pada keadaan penegakan hukum di Indonesia. Dan mulai realistis untuk mencari profesi lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, begitu besar harga yang dibayar untuk masuk ke dunia hukum. Pilihan pertama adalah menjadi terseret dalam sistem penegakan hukum yang buruk, ikut menjadi penegak hukum yang sewenang-wenang dan tidak adil. Ganjarannya adalah neraka, bila kamu percaya Tuhan itu ada. Pilihan kedua adalah menjadi penegak hukum yang bersih dan berintegritas, walau ganjarannya adalah gaji yang tidak seberapa, atau terkadang ancaman terhadap keluarga dan nyawa. Tentu saja, manusia yang rasional lebih memilih untuk tidak masuk dunia hukum daripada dihadapkan pada dilema seberat itu.

Namun tahukan kawan? Apabila semua orang bersih dan jujur menolak untuk masuk ke dunia hukum yang kotor, maka dunia penegakan hukum akan terus diisi oleh orang-orang yang tidak jujur dan tidak kompeten. Maka suka atau tidak, pilihannya adalah masuk ke dunia hukum dan menjadi bagian dari perubahan sistem.

Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku, Muthi dan Camila, merenung dalam. Berkeluh kesah tentang masa depan dunia hukum di Indonesia. Dan masa depan kami, mahasiswa hukum yang insya Allah suatu saat akan menjadi Juris atau penegak hukum di Indonesia.

“Kalian kebayang nggak sih, putusan Hakim Sarpin ini menghancurkan harapan mahasiswa-mahasiswa yang mau membangun hukum. Di otak mereka sekarang pasti muncul pikiran, ‘Astaga, gue kecil banget dibandingkan dengan orang-orang yang mau membunuh keadilan.’” Camila, satu dari sedikit mahasiswa FHUI di angkatanku yang bercita-cita menjadi hakim, menyuarakan kegalauannya. “Nggak kebayang, gue harus sekuat apa ketika gue jadi hakim kelak. Suami gue harus super kuat untuk menopang gue yang sebenarnya sok kuat ini. Gue diteror dikit pasti nangis...”

“Gue jadi inget cerita Ibunya Ishmah yang advokat di PAHAM.. beliau pernah cerita ke gue bahwa dia lagi insecure dan terus memantau anak-anaknya. Soalnya keluarganya diancam sama orang yang dia kalahkan di pengadilan.” Aku menghela nafas. “Emang kayaknya jalan hidup penegak hukum akan seperti itu. Tapi insya Allah berkah.”

“Ibunya Ishmah tau banget pasti, dunia hukum ini ladang jihad yang besar. Makanya dia tetap stay di sana. Someday, kita semua yang akan ada di posisi seperti itu, guys..” ucap Camila. “Di tempat dimana kita bisa berjuang, dengan cara masing-masing..”

“Karena kasus ini gue justru jadi semangat untuk masuk pemerintahan. Karena kita perlu seseorang yang memperbaiki hukum dari dalam sistemnya.” Muthi, sahabatku yang bercita-cita menjadi politisi memiliki perspektif lain. Dia bertekad untuk menjadi anggota DPR agar hukum-hukum yang dibuat legislatif tidak lagi sewenang-wenang. “Insya Allah gue akan masuk pemerintahan atau parlemen.”

Aku yang memang lebih tertarik pada dunia pendidikan memiliki cita-cita berbeda. “Gue udah punya visi masa depan.. gue akan bikin buku atau tutorial pelajaran law for dummies. Supaya orang-orang paham tentang hukum dan nggak gampang dibodohin penegak hukum yang ngaco.” 

Kami bertiga terdiam, mengaminkan cita-cita itu dengan kesungguhan. Berharap di masa depan kami bisa menjadi juris yang jujur. Tidak seperti penegak hukum yang telah banyak mengecewakan kami.

“Di umur sekarang, kita bertiga cuma saling mengingatkan di hal-hal ‘remeh’ seperti jaga hati dan jaga diri.. Di masa depan, materi ‘saling mengingatkan’ kita akan naik level. Untuk nggak keluar dari jalan perjuangan, dan tetap membela yang benar.” Camila membuatku tertegun. “Karena ketika kita udah berprofesi nanti, godaan juga akan semakin besar.”

Kami terdiam cukup lama. Meresapi kata-kata itu di benak masing-masing. Membuat janji dan cita-cita, yang kami tahu sangat berat, namun akan berusaha kami tepati. Menjadi jurist yang bersih dan jujur. Menjadi Muslim Jurist, jurist yang selalu membawa nilai-nilai Islam dalam dunia hukum kelak. Dan untuk menjadi sahabat yang saling mengingatkan dalam perjuangan menegakkan hukum di Indonesia.

Semoga.


Tulisan ini dibuat dengan segala kecemasan dan harap yang berkecamuk di hati. Ya Allah, lindungi Indonesia. Dan mudahkan jalan kami untuk menjadi pembangun peradaban Indonesia.

Rabu, 11 Februari 2015

Rumah Putih Besar Part 3


“Kalian ngapain sih di sana? Malam-malam pergi dari rumah, nggak bilang-bilang ke Ayah dan Ibu, terus malah menyelinap ke rumah kosong. Kalian tau nggak betapa khawatirnya Ibu pas Pak Usep bilang kalian menjerit dari rumah kosong?”

Suasana di meja makan pagi ini terasa sedikit suram. Ibu dan Ayah masih mengomel karena kejadian semalam, sementara aku dan Rara tidak berani membela diri. Kejadian semalam masih membekas di pikiran kami. Pak Usep, satpam komplek yang kebetulan lewat, mendengar jeritan kami dan bergegas menerobos rumah kosong itu. Menarik kami yang masih menggigil ketakutan, tak mampu bergerak di ruang bawah tanah rumah putih besar itu. Untung saja jeritan kami belum membuat ricuh satu komplek. Pak Usep mengantarkan kami pulang, sambil mengomel karena kami nekat malam-malam menerobos rumah kosong.

“Cuma.. Cuma penasaran kok bu..” Aku menjawab takut-takut. Bagaimanapun, aku yang bertanggungjawab karena telah mengajak Riri.

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan di rumah bekas keluarga Matteo?” kali ini Ayah yang bersuara.
“Keluarga Matteo?” Aku dan Rara berpandangan.

“Ayah, sebenarnya rumah itu... rumah itu kenapa?” Rara tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Rara lihat, di rumah itu ada bekas-bekas darah.. dan berantakan.. seperti habis ada perkelahian, atau perampokan.”

Gantian Ayah dan Ibu berpandangan. Sepertinya mereka sedang menimbang-nimbang. Ibu menghela nafas, kemudian mengangguk kecil kepada Ayah, seperti mempersilahkan.

*** 

Malam yang cerah, tidak ada tanda-tanda akan terjadi suatu peristiwa mencekam di rumah keluarga Matteo. Seperti malam-malam sebelumnya, Tuan Matteo berkumpul di ruang makan bersama Tatiana, istrinya dan Adelia, Adriana, dan Agnes, anak perempuannya yang cantik-cantik. Nyonya Tatiana sudah menyiapkan Lasagna, masakan andalannya yang merupakan kegemaran Tuan Matteo. Gelak tawa bahagia menambah keceriaan malam itu. Kebahagiaan mereka bertambah tatkala mendengar kabar bahwa Tuan Matteo baru saja ditugaskan oleh atasannya untuk mutasi kerja ke Italia. Itu artinya, mereka akhirnya akan kembali ke negara asal setelah sekian lama mereka tinggal di Indonesia.

Suara bel berbunyi. Serentak mereka menoleh ke arah ruang tamu.
“Papa, sepertinya ada tamu.” Agnes, anak bungsu mereka yang berumur 7 tahun, menunjuk ke arah pintu masuk.
“Aneh. Papa tidak ingat ada janji dengan orang.” Tuan Matteo mengerutkan keningnya.
“Biar Mama yang membukakan.” Dengan sigap Nyonya Tatiana bangkit dari duduknya. Ia sempat mengelap dengan sayang saus Lasagna yang masih tercecer di dagu Agnes, sebelum berlalu menuju pintu depan.
“Jadi, kita kembali ke Italia bulan depan? Horee! Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan nenek.” Senyum bahagia muncul di wajah Adelia.
Tuan Matteo tersenyum sambil mengangguk.

“Kyaaaa...!”
Terdengar suara jeritan tertahan dari ruang tamu, disusul suara ambruk. Serentak keluarga Matteo menghentikan aktivitas mereka di meja makan. Mereka melongok ke ruang tamu dengan ketakutan.

Apa yang terjadi selanjutnya sulit dibayangkan. Tiga orang berpakaian hitam dan bertopeng masuk menerobos ruang makan dengan membawa senjata tajam. Tuan Matteo, yang maju dan berusaha melindungi putri-putrinya, diserang terlebih dahulu dan tewas dengan kepala terpenggal. Sementara Tatiana, Adelia, Adriana, dan Agnes diseret ke ruang bawah tanah rumah mereka. Mereka diperkosa secara bergantian.  Setelah puas melampiaskan nafsu bejat mereka, kawanan perampok itu memenggal kepala mereka satu persatu dengan menggunakan pedang koleksi Tuan Matteo yang tersimpan di ruang bawah tanah. Kawanan perampok itu meninggalkan rumah keluarga Matteo dengan membawa seluruh harta mereka. Meninggalkan rumah keluarga Matteo dalam kondisi yang tragis.

***

“..sejak saat itu, tidak ada yang berani mendekati rumah keluarga Matteo. Rumah itu dibiarkan terlantar, dalam kondisi sama persis ketika mereka dirampok. Sudah dua tahun berlalu, sampai sekarang bahkan pemilik komplek ini pun tidak bisa menjual rumah bekas keluarga Matteo ke siapapun. Tentu saja, tidak ada yang mau membeli rumah tempat terjadi perampokan sadis.”

Ayah menatap aku dan Rara yang sedari tadi menahan nafas mendengar ceritanya, “Perampokan itu terjadi persis sebulan setelah kita tinggal di komplek ini. Ingat tidak? Seminggu sebelum hari ulang tahun kalian. Maka dari itu, Ayah dan Ibu selalu melarang kalian untuk bermain di sekitar rumah itu. Ayah dan Ibu khawatir.”

Rara menyikut pinggangku, takjub. “Siapa sangka Ri, rumah itu menyimpan cerita yang sangat seram? Kalau aku udah dengar cerita itu sebelumnya, biar dibayar juga aku nggak akan mau deh ke sana malam-malam.” Kata Rara setengah ngedumel.
Aku hanya mengangguk, masih bingung.

“Ayah.. Riri mau tanya..” aku ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Apakah keluarga Matteo punya anak laki-laki?”
Ayah terlihat terkejut. “Setau ayah tidak, kenapa Ri?”
“Tidak punya? Tapi... aneh..” Tentu saja, aku tidak berani menceritakan isi mimpiku kepada Ayah dan Ibu. Bisa-bisa mereka menganggapku gila, berkhayal mengenai rumah keluarga Matteo tempat tragedi itu terjadi.

Lalu siapa sebenarnya Carlo?


Senin, 22 Desember 2014

Kepada Malaikat Tanpa Sayap, tentang Yang Tak Terucap


Malam, Ummi. Di sela-sela tugas kuliah dan organisasiku yang menumpuk, aku memutuskan menghentikan diri sejenak. Mengambil pena dan selembar kertas, mulai merangkai kata.

Hahaha, sebenarnya ini sangat lucu. Kita bertemu setiap hari, berbincang setiap hari, bahkan saat aku menulis ini, kamar tempatmu sedang terlelap terletak tidak jauh beberapa meter dari pintu kamarku. Tapi entah mengapa, lidahku kelu, sekedar mengucap “Aku sayang Ummi” sambil memelukmu pun aku tak mampu. Tapi, tahukah kau Ummi? Terkadang perasaan yang begitu dalam memang tidak bisa diungkapkan dalam untaian kata. Cukup dirasakan saja.

Umi ingat kan, secara genetis, keluarga kita terbagi menjadi beberapa golongan. Abi membawa gen putih-gemuk-pendek, sementara Ummi membawa gen kulit gelap-tinggi-kurus. Akibatnya, anak-anak Ummi dan Abi pun memiliki gen campuran itu, ada yang putih-pendek-gemuk, ada yang putih-tinggi-kurus (beruntung sekali dia), kulit gelap-pendek-gemuk (pukpuk) atau seperti aku, kulit gelap-tinggi-kurus. Ummi tahu kan, waktu kecil aku sering sekali diledek oleh Imah, Nana, Iti. Aku dibilang anak angkat karena mukaku berbeda dengan Imah, Nana, Iti, bahkan Una dan Ica, karena mereka cantik dan berkulit putih. Selain Ajam dan Imam, anak laki-laki Ummi yang memang suka bermain panas-panasan, cuma aku saja yang berkulit gelap di rumah. Dulu aku selalu menangis setiap mereka meledekku begitu, bahkan diam-diam aku percaya bahwa aku anak angkat.

Namun semua orang bilang, justru akulah anak Ummi yang paling mirip Ummi. Setelah aku lumayan besar, aku baru sadar akan hal itu. Bahkan pernah, suatu hari aku bertemu teman Ummi yang langsung mengenaliku sebagai anak Ummi karena hal simpel, “Muka kamu mirip Ummi kamu.” Lalu aku sadar, ternyata aku memang anak Ummi.

Sekarang aku bisa menegakkan kepalaku dengan angkuh dan membalas ledekan saudara-saudara yang lain, “Nggak ada yang mukanya mirip sama Umi selain Ipah. Justru kalian yang anak angkat.  Week!”

Bagiku, Ummi adalah malaikat tanpa sayap. Bukan, aku memanggil Ummi malaikat bukan karena Ummi sempurna. Ummi suka mengomel seperti Ibu-ibu pada umumnya. Terutama bila aku bangun kesiangan, aku belum sholat, atau belum mandi.

Ummi seperti malaikat karena Ummi selalu menjaga dan melindungi anak-anaknya, terkadang bahkan Ummi bisa overprotective. Aku ingat dalam sehari Ummi bisa meneleponku lebih dari lima kali untuk bertanya, “kamu dimana?”, “gimana ujiannya?”, “Iffah kok belum pulang?”. Hebatnya, Ummi melakukan kebiasaan itu tidak hanya kepadaku, tetapi kepada delapan orang anak-anaknya. Tak jarang aku bertanya-tanya, berapa kira-kira tagihan pulsa Ummi dalam sehari, ya?

Terkadang kebiasaan Ummi menelepon itu membuatku bete sendiri karena beberapa dari telepon itu menggangguku di sela-sela kuliah atau rapat. Namun ternyata aku baru menyadari, aku lebih sedih bila seharian handphoneku sepi tanpa satupun telepon dari Ummi.

Sifat protektif Ummi terkadang membuatku kesal. Suatu saat teman-temanku mengajakku naik gunung. Aku memohon-mohon kepada Ummi untuk diizinkan naik gunung, tapi Ummi malah berkata, “Kamu boleh naik gunung, asal yang ada villanya.” Jujur hal ini masih membuatku kesal sampai sekarang. Rasanya aku ingin memprotes, Ummi, aku sudah besar sekarang. Aku mau melihat dunia. Tapi aku tahu, sesungguhnya Ummi khawatir hal-hal terburuk terjadi pada anaknya.

Ummi ingat tidak, waktu tahun 2013 aku mengikuti studi banding ke Universitas-Universitas Negeri di pulau Jawa? Ummi sempat tidak membolehkanku karena perjalanan itu memakan waktu empat hari dan menggunakan Bis. Apalagi, beberapa hari sebelumnya salah seorang kawanku meninggal karena kecelakaan bis saat acara Universitas. Namun aku tetap bersikukuh memaksa berangkat. Akhirnya dengan berat hati, Ummi melepasku dengan syarat, “Satu jam sekali, kamu harus SMS ngabarin Ummi, kamu udah sampai dimana. Kalau nggak ngabarin, langsung Ummi telepon!”

Akhirnya aku melaksanakan tugas itu dengan patuh, walau harus jungkir balik mencari sinyal dan mengemis-ngemis power bank milik teman-temanku demi mengisi ulang baterai handphone selama empat hari perjalanan. Ini semua kulakukan agar Ummi setidaknya merasa aman.

Ketika liburan kuliah semester 6, aku memberanikan diri untuk pergi liburan ke pulau Jawa bersama Camila. Bagiku ini hal baru, karena Ummi hampir tidak pernah memperbolehkanku pergi jauh-jauh dari rumah. Namun aku berusaha keras membujuk Ummi, meyakinkan Ummi bahwa ini semua demi aku bisa belajar bahasa Inggris di Pare. Akhirnya Ummi melepasku pergi selama dua minggu dengan berat. Ummi bahkan memasakkan beberapa makanan kering untuk kubawa, karena takut aku nanti kelaparan di sana. Namun sepertinya Ummi menyadari, bahwa aku sudah dewasa. Sudah saatnya aku sedikit berkelana.

Aku juga terkadang kesal ketika Ummi lebih sering menyuruh-nyuruhku untuk melakukan pekerjaan rumah dibanding Imah, Nana, iti, Ajam, Una, Ica, atau Imam. Perasaan dongkol sering membuatku memprotes, “Kok aku doang yang disuruh? Yang lain dong!” Begitu pula dalam hal ibadah atau pelajaran, aku dituntut harus melakukannya dengan sempurna, sementara adik atau kakakku yang lain dibiarkan saja.

Suatu hari seorang sahabat menasihatiku, “Itu artinya, Ummi kamu lebih menaruh harapan yang besar ke kamu. Mungkin sama kakak atau adik kamu dia udah menyerah, tapi ke kamu, dia masih punya harapan kamu akan jadi anak berbakti.” Atau seseorang yang lain pernah berkata, “Mungkin itu karena kamu mirip dia. Jadi dalam diri kamu, Ummi melihat ada cerminan dirinya, yang diharapkan bisa berakhlak lebih sempurna.” Benarkah begitu, Ummi?

Namun tentu saja semua kesal yang kutumpahkan tidak beralasan. Aku tahu Ummi melakukan segalanya untuk anak-anak Ummi, begitu banyak hal dalam hidup yang telah Ummi korbankan.

Aku ingat waktu kecil, setiap Ummi pulang bawa makanan, kami anak-anak Ummi berebutan makanan sampai-sampai Ummi tidak kebagian. Ummi selalu menolak jatah Ummi dengan alasan, “Ummi nggak laper, tadi Ummi udah makan.” Dengan gembira, kami melahap jatah makanan Ummi. Bodohnya, dulu aku percaya bahwa Ummi benar-benar sudah kenyang. Aku yang masih kecil ini tidak tahu, bahwa seorang Ibu akan rela kelaparan demi membuat anak-anaknya kenyang.

Waktu kecil, aku selalu memprotes Ummi, kenapa Ummi jarang di rumah. Kenapa disaat anak-anak lain dimasakkan makan siang oleh Ibunya, aku hanya bisa makan makanan katering atau buatan pembantu rumah tangga. Kenapa disaat anak-anak lain ditemani Ibunya membuat PR, aku harus mengerjakan PR-ku sendiri atau meminta bantuan dari kakak-kakak yang sama sekali tidak membantu. Aku sering bertanya-tanya mengapa keluargaku tidak seperti figur-figur keluarga di buku PPkn, dimana Ibu selalu ada di rumah. Namun dibalik protesku itu, mana aku tahu bahwa Ummi adalah wanita yang bekerja? Mana aku tahu bahwa ternyata, Ummi setiap hari berangkat naik kereta berdesak-desakkan dengan arus penumpang commuter dari Depok ke Jakarta. Belum lagi, kereta zaman dulu belum dilengkapi AC. Sekarang, ketika aku melihat arus commuter people yang tergencet-gencet menaiki kereta, tak urung aku bertanya-tanya dengan pilu, kondisi seperti inikah yang harus Ummi hadapi dulu?

Begitu pula saat aku beranjak dewasa, aku masih saja menyusahkan Ummi. Kebiasaanku pulang malam selalu membuat Ummi cemas. Tentunya Ummi khawatir, aku akan mengalami hal-hal buruk saat pulang larut malam. Terkadang Ummi meneleponku berkali-kali untuk memastikan aku sudah pulang atau belum. Aku semakin menambah kepanikan Ummi bila ternyata handphone-ku mati. Tak jarang, ketika aku pulang Ummi masih menungguiku di sofa ruang tamu, kadang-kadang ketiduran. Ummi, maaf ya? Aku selalu saja membuat Ummi cemas.

Bagiku, Ummi adalah panutan karena Ummi adalah wanita yang tangguh. Disela-sela masalah yang rasanya setiap hari selalu berdatangan, Ummi selalu bersabar. Aku tahu, Ummi mengalami tekanan dan masalah dari berbagai arah. Dari suami, dari keluarga, bahkan sampai kami anak-anak Ummi yang terkadang suka bandel. Namun Ummi tetap bersabar, tetap tersenyum tanpa membalas. Terkadang aku terbangun di tengah malam, kulihat Ummi sedang berdoa sambil sesenggukan. Mungkin, hanya kepada Allah-lah Ummi bisa mengadukan semua masalahnya, ketika orang-orang yang diharapkan bisa menopangnya ternyata tidak bisa membantu.

Ummi, aku menyayangimu. Walaupun perasaan ini tak mungkin kuungkapkan dengan kata-kata, namun selalu kutuangkan dalam doa di sepertiga malam. Kepada Allah, aku selalu meminta agar Ummi diberi kekuatan. Aku bahkan pernah berdoa agar semua pahalaku dipindahkan ke Ummi, walaupun sejujurnya aku tidak tahu apakah pahalaku cukup banyak untuk mengantarkan Ummi ke surga. Aku tidak menyesal walaupun misalnya pahalaku dimulai dari nol lagi, yang penting aku ingin Ummi mendapatkan tempat terbaik di Surga nanti. Aku ingin semua pengorbanan Ummi diganjar dengan hadiah tertinggi.

Ummi, aku belajar banyak dari kemandirianmu, dari ketabahanmu, dari ketangguhanmu menghadapi dunia. Dalam penutup doaku, aku selalu berharap...

Semoga suatu hari nanti, aku bisa menjadi wanita setangguh Ummi.







       



          -Postingan ini sebenarnya sudah lama aku buat, cuma baru selesai bertepatan dengan hari Ibu. Selamat Hari Ibu, Ummi! :)

Jumat, 12 Desember 2014

Rumah Putih Besar Part 2


“Ri, kamu kenapa? Muka kamu kok pucat banget?” Seperti biasa, Rara selalu menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan dalam air mukaku.
“Ada yang aneh Ra.. Ada yang salah sama Rumah Putih Besar itu, aku yakin!” bibirku gemetar saat mengucapkan kata-kata itu di kelas. Aku bahkan belum sempat menaruh tas di kursiku yang bersebelahan dengan Rara.
Rara mengerutkan keningnya. “Rumah yang mana maksud kamu, Ri?”
“Rumah yang di persimpangan jalan itu Ra, yang catnya warna putih, berlantai tiga. Yang tempo hari kita lewatin waktu naik sepeda!” Aku menarik nafas sejenak lalu kembali melanjutkan, “Kemarin kamu bilang kan kalau rumah itu nggak ada penghuninya. Tapi tadi pagi aku ngeliat anak laki-laki mengintip dari jendela!”
Rara terperanjat, “Masa’ sih Ri? Aku yakin banget rumah itu nggak ada yang nempatin. Udah cukup lama rumah itu kosong.”

Aku menghela nafas sesaat lalu duduk di kursi, meletakkan tasku. Sejuta pikiran berkecamuk di benakku. Mungkin ketakutanku berlebihan. Mungkin juga, aku hanya berhalusinasi membayangkan melihat orang di jendela Rumah itu. Dari sudut mataku, kulihat Rara sedang berpikir keras.

“Ri..” Rara kembali membuka mulutnya. “Kamu inget nggak? Dulu waktu pertama kali kita tinggal di komplek ini, waktu dulu kamu masih sering naik sepeda, kita sering sepedaan di sekitar rumah itu. Tapi suatu hari, Ayah dan Ibu tiba-tiba melarang kita untuk melewati daerah di sekitar rumah itu.”
Aku mencerna sejenak kata-kata Rara. Terakhir kali aku rutin bersepeda bersama Rara adalah dua tahun yang lalu. “Oh iya ya, aku baru inget... Tiba-tiba Ayah dan Ibu bilang kita nggak boleh main ke daerah itu, tapi mereka nggak mau menjelaskan alasannya.”
“Kenapa ya Ayah sama Ibu melarang? Sebenarnya apa yang salah dengan Rumah itu?”

***

“Ri, kamu yakin?” Rara menatap wajahku cemas.
“Ra, cuma ini jalan satu-satunya supaya kita nggak penasaran lagi.” Aku menatap pagar putih bergaya minimalis yang membentang melindungi halaman Rumah Putih Besar itu. Matahari sudah lama terbenam, jalan di sekitar Rumah Putih Besar itu sudah sepi, tidak ada kendaraan maupun orang yang melintas. Syukurlah, tepat seperti yang aku dan Rara inginkan.

Beberapa jam sudah kami habiskan untuk menyusun rencana. Rara sempat menolak mentah-mentah usulku untuk menyelidiki Rumah Putih Besar itu, namun aku membujuknya, demi menghilangkan rasa penasaran kami. Akhirnya Rara setuju juga. Kami membawa beberapa peralatan dalam ransel kecilku untuk berjaga-jaga, seperti tali rafia, pisau lipat, dan senter.

Di malam hari, Rumah Putih Besar itu jauh lebih menakutkan daripada di siang hari. Lampu-lampunya mati, halaman rumah itu ditumbuhi rumput-rumput liar dan sampah daun yang berserakan. Rara mengguncangkan pagar putih itu, namun kami menyadari bahwa di balik penampilan luar pagarnya yang terlihat mulai karatan, pagar itu masih kokoh berdiri. Tidak goyah sekalipun karena guncangan dari Rara.
“Sepertinya kita memang harus memanjat masuk, ra..” Aku memutuskan.

Kami mengeluarkan gulungan tali rafia dan mulai merajutnya menjadi tangga tali. Syukurlah, ternyata keterampilan membuat simpul yang kami pelajari saat Pramuka dulu berguna juga. Ujung simpul dari tangga tali tersebut kami ikat pada gagang pisau kecil, yang kemudian kami tancapkan ke permukaan tanah. Setelah memastikan tangga tali tersebut cukup kokoh untuk dipanjat, aku mulai memanjat tangga tali itu pelan-pelan. Rara mengawasi sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat kami memasuki rumah itu.

“Krosak!” Rumput-rumput liar di halaman rumah bergemerisik saat aku mendaratkan kaki. Aku memandang ke sekeliling. Pintu masuk rumah tersebut letaknya agak ke pinggir, tidak terlihat jelas dari sela-sela pagar. Kami harus mendekatinya. Dari jauh, jantungku berdetak melihat pita kuning yang meliliti gagang pintu besar kokoh itu.

“Ra, kamu lihat itu?” Suaraku bergetar ketika menunjuk ke arah pintu masuk. Rara yang baru saja mendarat di sampingku membaca tulisan di garis kuning yang kutunjuk.
“Police..Line?” Suara Rara sama tak percayanya denganku. “Apa yang pernah terjadi di rumah ini?”

Tanpa suara, kami bersama-sama mendekati pintu masuk itu. Dengan tangan, kami berusaha melepaskan pita garis polisi yang meliliti gagang pintu kayu itu. Aku mendorong pintu. Aneh, pintunya tidak terkunci!
Pintu kayu itu berayun membuka dengan derit pelan dari engsel yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Sebuah kegelapan total dan bau apak menyambut kami.

“Senter, Ri! Senter!” Suara Rara setengah panik mengingatkan. Kami mengeluarkan senter masing-masing dari tas dan mulai menyalakan senter, perlahan memasuki rumah yang berbau apak itu.

Ruang pertama yang kami masuki sepertinya ruang tamu. Kami menyoroti sudut-sudut ruangan, ternganga kaget melihat kondisi rumah yang acak-acakan. Sofa-sofa dan meja tamu berada dalam posisi miring, bantal-bantal sofa jatuh ke lantai. Ada yang ganjil dengan beberapa susunan barang, sepertinya perabot dalam rumah ini tidak lengkap. Rumah ini sepertinya pernah mengalami...
“Mereka dirampok.” Rara tercekat, menyuarakan apa yang juga kupikirkan.

“Lewat sini, Ra.” Aku mengajak Rara ke ruangan sebelahnya. “Ini ruang makan.”
“Ri, bagaimana kamu tahu..?”
Aku terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaan Rara. Aku tahu begitu saja.
Jantungku berdebar-debar, karena aku merasa lebih mengenal sudut-sudut rumah ini daripada siapapun. Tapi kenapa...?

Suasana yang lebih mencekam menyambut kami di ruangan besar tersebut. Sebuah meja makan yang berukuran cukup besar terletak di depan kami. Bangku-bangku makan tidak tersusun rapi, beberapa jatuh terguling ke lantai. Begitu pula taplak meja putih yang beberapa bagiannya kotor terkena bercak-bercak hitam. Di lantai, kami melihat beberapa buah pisau, garpu, dan sesuatu yang sepertinya pecahan piring berserakan.

Aku menyorotkan senterku ke sudut kanan ruangan. Sebuah perapian besar yang sepertinya jarang digunakan menarik perhatianku, entah kenapa. Di atas perapian itu ada sebuah foto keluarga yang masih terpasang rapi. Aku mengusapkan tanganku ke permukaan kaca pigura, menyingkirkan sarang laba-laba dan debu tebal yang menutupi lukisan.

Jantungku berdegup semakin kencang.
Di depan mataku, wajah-wajah latin sedang berpose anggun dalam foto keluarga. Wajah mereka mirip Carlo.
Merekakah pemilik rumah ini?

Mataku berkelebat liar menelusuri foto keluarga itu, namun aku tidak menemukan wajah Carlo. Satu-satunya laki-laki dalam foto itu adalah seorang pria seumuran Ayah yang berkumis tebal, terlihat berwibawa, duduk memegang tongkat dan dikelilingi empat orang yang sepertinya anak perempuannya dan istrinya yang berwajah cantik, seperti pemain telenovela yang biasa ditonton Ibu. Mereka mirip Carlo, tapi tidak ada wajah Carlo.

“Riri...” Sebuah suara berbisik memanggilku, membuatku terlonjak.
“Ra, jangan bikin kaget dong!” Aku berbisik keras kepada Rara yang masih sibuk mengobrak-abrik rak buku yang terletak beberapa meter di sebelah kiriku, menyorotinya dengan senter.
“Apaan sih Ra? Aku dari tadi nggak ngapa-ngapain.” Rara membela diri dengan sedikit berbisik.
“Tadi kamu manggil-manggil aku kan?”
“Enggak! Sumpah.”
“Terus siapa yang manggil aku?”
Bulu kuduk kami berdua mulai berdiri.

“Kita harus cepat-cepat keluar, Ra.” Aku berbisik cemas. Rara mengangguk.
Kami menyoroti ruangan dengan liar, mencari-cari jalan keluar.
“Ke sini bukan, ya? Aku lupa.” Aku menggumam heran. Sepertinya ini jalan yang benar.
Senter yang kusorotkan bertumbukan dengan sebuah bayangan hitam di lantai. Kotoran apa ini? Aku mengikuti arah kotoran hitam yang membentuk jejak-jejak di lantai itu, sampai jejak hitam itu berhenti di sebuah pintu.

“Ri, kamu yakin ini arah yang benar?” Rara mencekal lenganku. Aku menepisnya, membuka pintu tersebut. Sebuah tangga ke bawah tanah menyambut kami.
“Ri, kamu mau kemana? Riri!”
Tanpa berpikir, aku mulai menuruni tangga tersebut, tidak menghiraukan panggilan lemah Rara yang melarangku. Akhirnya ia mengikutiku menuruni tangga, sepertinya takut kalau harus menunggu sendirian.

Kami sampai di dasar tangga. Aku menyorotkan senterku ke sudut-sudut ruangan yang tak terlalu besar itu.

Sebuah pemandangan luar biasa menyambut kami. Ruang bawah tanah itu penuh dengan bercak-bercak hitam yang memenuhi sampai ke tembok. Tali-temali berserakan di lantai. Sebuah pedang yang berkilat di lantai juga dipenuhi dengan bercak hitam itu.
Aku dan Rara berpandangan dengan air muka yang sama. Sepertinya kami sama-sama mengetahui, bahwa bercak-bercak hitam itu adalah....darah.

“Riri.” Kini suara itu memanggilku lebih keras.
Suara yang bukan berasal dari Rara.
Jeritan kami melengking merobek keheningan malam itu. 
***






PS: Maaf ternyata ga bisa konsisten 30 hari nulis blog huhuhuhu :') Tapi tunggu postingan Rumah Putih Besar selanjutnya. Penasaran kan? kan? kan? #ngeselin

Rabu, 12 November 2014

Rumah Putih Besar Part 1


”Rara, jangan cepet-cepet dong jalannya!” aku mengeluh, setengah berseru kepada saudara kembarku. Rara, yang berada beberapa meter di depanku, memperlambat kayuhan sepeda gunungnya.
”Riri payah, ah! Baru segini aja dibilang kecepetan.” Rara mengejekku. Aku melengos. Memang salahku, yang lebih suka menghabiskan sore hari degan membaca buku di kamar daripada berolahraga naik sepeda. Berbeda dengan Rara, yang tomboy dan memang hobi naik sepeda.
Hari minggu yang cerah ini, Rara mengajakku bersepeda keliling kompleks. Sudah beberapa tahun keluargaku tinggal di komplek ini, namun aku belum pernah mengelilingi lingkungan rumah kami ini. Aku mengayuh sepedaku semakin cepat, berusaha menyusul Rara. Udara pagi yang sejuk berhembus semilir, membuat cardigan biru muda yang kukenakan melambai-lambai.
Aku berhenti di sebuah persimpangan. Terlihat sebuah rumah besar putih bergaya minimalis.
Refleks aku menghentikan sepedaku. Aneh. Ada perasaan familier saat melihat rumah itu. Seakan aku pernah melihatnya sebelumnya.
Rasanya seperti deja vu.
Bukan, ini bukan deja vu, bisikku dalam hati.

Aku memang benar-benar pernah melihat rumah itu sebelumnya—di dalam mimpi.
Ya, mimpi itu. Mimpi yang sering muncul diantara sekian banyak mimpi-mimpi burukku.
Aku sedang berjalan, ketika melintasi belokan itu. Sebuah rumah putih besar berdiri persis di persimpangan jalan. Rumah itu bergaya minimalis, dihiasi uliran berbentuk lingkaran di luar pagarnya. Aku menghentikan langkahku di depan rumah itu. Seakan ada kekuatan yang tak terlihat, yang memanggil-manggilku untuk mendekati rumah itu.
Aku sedang menatap balkon rumah berlantai tiga yang megah itu, ketika tiba-tiba tirai yang menutup jendela di balik balkon itu bergerak-gerak. Ketika tirai itu tersingkap, terlihat seorang anak laki-laki seusiaku memandang keluar. Ia berwajah tampan, dengan alis yang melengkung indah, hidung yang mancung, dan rambutnya yang ikal dan tebal. Garis wajahnya mengingatkanku pada pemain bola dari Italia yang posternya dipajang di kamar Rara, Fransisco Totti. Ia terlihat pucat, atau mungkin itu memang warna asli dari kulitnya yang putih?
Tiba-tiba, ia menengok ke bawah, seakan menyadari kehadiranku. Merasa tertangkap basah, aku berusaha mengalihkan pandanganku. Tetapi sulit rasanya. Seakan ada magnet tak terlihat yang menarik-narikku untuk terus memandangnya.
Ia menatapku, kemudian tersenyum lemah. Senyumnya sangat manis. Detik berikutnya, ia sudah menghilang seiring dengan tirai yang tertutup.

”Ri? Kamu kenapa?! Kok bengong, sih?!” suara Rara menyadarkanku dari lamunanku. Aku tersentak kaget.
”Uh, nggak papa kok, Ra. Cuma inget sesuatu.” jawabku gelagapan.
”Inget sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Rara penasaran.
”Bukan apa-apa kok. Ngomong-ngomong, kamu tau nggak, siapa yang tinggal di rumah ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil menunjuk rumah putih besar yang menjulang tepat di hadapan kami.
Rara mengerutkan keningnya. ”Setahu aku, rumah ini nggak ada yang nempatin, deh. Emangnya kenapa, Ri?” tanyanya lagi.
”Hmm.. Nggak papa. Ya udah, jalan lagi yuk!” aku kembali mengayuh sepedaku, diikuti Rara, menjauhi rumah itu. Firasatku mengatakan, aku harus segera meninggalkan rumah putih besar itu. Entah mengapa, tetapi rumah itu seakan memiliki aura tersendiri, aura misterius yang melingkupinya.  Aku memandang rumah itu dari kejauhan, melalui bahuku.
Rumah itu hanya menatap punggungku, membisu.

***
Tidak banyak orang yang tahu bahwa aku sering mengalami mimpi-mimpi buruk. Mimpi-mimpi yang tidak pernah kuharapkan kehadirannya, yang selalu menyiksaku setiap malam.
Pernah suatu saat aku bermimpi, Sasa, teman baikku, tertabrak mobil. Keesokan harinya, mimpi itu jadi kenyataan. Sasa benar-benar meninggal karena kecelakaan. Di lain waktu, aku bermimpi melihat Dena, sepupuku, tenggelam di laut. Beberapa saat kemudian, aku mendapat telepon dari tanteku, yang mengabarkan bahwa Dena meninggal karena tenggelam di laut. Dan banyak lagi mimpi-mimpi burukku, yang semuanya menjadi kenyataan. Mimpi-mimpi yang mulai kudapat sejak umurku yang ke-15 tahun.
Gara-gara itu, aku menjadi takut untuk memejamkan mataku setiap malam. Aku takut, suatu saat aku akan memimpikan kematian Rara atau Ayah dan Ibuku. Tetapi, aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa-siapa, bahkan kepada Rara sekalipun. Aku tidak mau dianggap sinting, dan mimpi-mimpiku itu terlalu mengerikan untuk diceritakan.
Dari semua mimpi-mimpiku, hanya mimpi tentang rumah itulah yang terjadi berulang-ulang, dan selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatiku.
Siapa sebenarnya anak itu? Dengan siapa ia tinggal di rumah besar itu? Dan mengapa, tatapan matanya itu, dalam mimpiku, seakan memohon kepadaku, meminta tolong?
***

Pagi yang tenang. Di sebuah rumah putih besar, terlihat seorang anak laki-laki berparas latin, mengenakan piama, terduduk di ranjang kamarnya.
”Aku mau keluar.” bisiknya lemah.
Ia berjalan mengitari kamarnya yang luas, tapi terlihat sepi. Kemudian matanya terpaku pada pintu kamarnya. Ia menghampiri pintu itu, memutar gagangnya, mendorongnya sekuat tenaga. Tapi, pintu itu tidak bergeming. Tetap kokoh pada tempatnya. Anak laki-laki itu memukuli pintu itu. Wajah tampannya terlihat putus asa. Ia terduduk, bersandar pada pintu. Wajahnya menengadah, sarat akan kesedihan.
Kemudian, ia bangkit tiba-tiba. Ia berjalan melintasi ruangan, menghampiri pintu yang menuju balkon. Ia menggerakkan gagang pintu balkon, tetapi terkunci, seperti biasanya. Ia menghampiri jendela, kemudian membuka tirai biru tebal yang menyelubungi jendela tersebut. Seberkas sinar matahari yang masuk, membuatnya meringis kesakitan. Tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk terus memandang keluar. Ia melihat sepasang anak kembar yang sedang mengayuh sepeda di jalanan depan rumahnya, tertawa-tawa bahagia. Ia tersenyum lemah, menatap mereka dengan pandangan iri.
Namun tanpa disadarinya, sebuah tatapan tajam rupanya sedang mengawasinya.
”CARLO!” sebuah suara keras membuatnya terlonjak. Buru-buru ia menutup tirai, dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Seorang wanita cantik berparas latin yang mirip dengannya membuka pintu, memasuki ruangan. Carlo tampak gemetar melihat kehadiran wanita itu. Wanita itu berteriak-teriak dalam bahasa asing kepada Carlo.
”Stupido ragazzo! Non si può uscire!”
Carlo hanya menunduk, diam saja dibentak-bentak seperti itu. Ia pun hanya bisa diam saat wanita itu mendaratkan beberapa pukulan di tubuhnya. Setelah puas, wanita itu meninggalkan ruangan, meninggalkan Carlo, yang hanya bisa terisak pelan.
***

Aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah-engah. Mimpi buruk lagi. Tentang rumah itu. Tetapi, mimpi ini berbeda dengan mimpi-mimpiku sebelumnya.
”...Carlo..?” aku berbisik perlahan.

Aku berjalan menyusuri jalanan kompleks, mau berangkat ke sekolah. Hari ini Riri sudah berangkat duluan, karena dia ada eskul sebelum jam sekolah dimulai. Di tengah jalan, aku melihat sebuah plang besar menghalangi jalanku.
”Perbaikan jalan?” aku membaca plang itu. Huh, itu artinya aku harus memutar jalan untuk sampai ke halte bis. Nyape-nyapein aja, rutukku.
Aku pun memutar arah, mencari jalan lain. Sambil berjalan, perlahan aku merasakan degupan keras di jantungku. Kalau memutar jalan, itu artinya mau tidak mau aku harus melewati rumah itu. Rumah Carlo...
Rumah putih besar itu sudah terlihat dari kejauhan. Aku memantapkan hatiku, dan mempercepat langkahku. Anehnya, begitu aku sampai di depan rumah itu, segalanya terasa berjalan begitu lambat. Entah mengapa sulit sekali untuk mempercepat langkahku.
Tertarik oleh kekuatan aneh, aku menengadah, menatap balkon rumah itu. Dari balik jendela, seseorang sedang memperhatikanku.
Carlo menatapku sambil tersenyum misterius.
***

Selasa, 11 November 2014

Pasukan Langit Rumbel BEM UI

          Ini kisah tentang pengalamanku saat pertama bergabung dengan keluarga baruku: Rumah Belajar BEM UI.

          Sekitar bulan Februari 2014, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi pendidik di Rumbel BEM UI. Rumbel BEM UI adalah rumah belajar yang menampung anak-anak maupun karyawan di sekitar UI dan Depok untuk mendapatkan pelajaran SD, SMP, Paket B, dan Paket C. Kenapa harus Rumbel BEM UI? Sejujurnya, aku berminat untuk mendaftar di Rumbel BEM UI sejak zaman mahasiswa baru, namun dengan berbagai alasan aku tidak pernah bisa untuk mengajar di sana, entah karena sibuk (waktu mahasiswa baru aku ikut 3 organisasi), capek, malas hari sabtu pergi ke kampus, dan alasan-alasan lain. Padahal sebenarnya Rumbel BEM UI tidak terlalu berat, kegiatannya hanya dilakukan seminggu sekali.

         Tahun ini, aku mengenyahkan segala alasan-alasan yang muncul untuk tidak mendaftar Rumbel BEM UI. Akhirnya, aku mendaftarkan diri menjadi pendidik walau aku sebenarnya tidak yakin bakal diterima, hehe. Setelah melewati tahapan wawancara, tak disangka aku terpilih menjadi salah satu bagian dari pasukan langit—julukan bagi para pendidik di Rumbel BEM UI. Selain Pasukan Langit, ada juga Pasukan Awan, yaitu Panitia Rumbel yang mengurus semua kegiatan Rumbel secara keseluruhan.

         Sejujurnya, aku selalu kagum setiap melihat anak-anak Pasukan Langit dan Pasukan Awan Rumbel. Bagiku, mereka terlihat sangat sabar dan tangguh karena bisa menghadapi berbagai macam tingkah anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD dan SMP yang kami ajar sangat aktif berlari-lari dan menjerit-jerit. Jika tidak kuat menghadapi mereka, bisa-bisa stress sendiri.

        Di Rumbel, aku masih harus belajar banyak. Sebelumnya, aku biasa mengajar anak-anak SMA di Mabit Nurul Fikri. Jelas, berbeda sekali tantangannya mengajar anak-anak SMA dibandingkan mengajar anak-anak SD dan SMP yang nggak bisa diam. Belum apa-apa, sudah berkecamuk sejuta kecemasan di pikiranku. Duh, gimana ya kalo gue ngajarnya ngebosenin? Gimana cara menghadapi anak yang nakal? Gimana kalo nggak ada yang ngerti apa yang gue ajarin?

         Suatu ketika, aku mendapat tugas mengajar IPS untuk anak-anak kelas 3 dan 4 SD. Sebelumnya aku pernah mengajar, tapi yang kelas 1,2 SD dan 1,2 SMP. Mata ajar yang diberikan oleh Kak Rizky, wali kelasnya kelas 3 dan 4 kebetulan tentang Jual-Beli dan Alat Tukar. Otakku berputar mencari metode mengajar yang asyik buat anak SD. Tapi, sampai sehari sebelum waktu mengajar, belum ada ide apa-apa di benakku. Lalu aku teringat, waktu hari Rabu aku pulang ke Tangerang dan menemukan sebuah benda lucu di toko souvenir. Tau mesin penjual permen karet yang ada di luar negeri kan? Yap, mesin yang biasanya dimasukkin koin terus tuasnya diputar, untuk ngeluarin permen karet. Waktu ngeliat mesin seukuran mug itu, aku terpekik gemas dan bertekad, gue-nggak-akan-pulang-sebelum-beli-mainan-itu. Walaupun diledek oleh adik-adik dan kakak-kakakku, akhirnya aku beli juga mesin itu.

Unyu kan?

Apa hubungannya mesin permen sama Rumbel? Nah, rencananya, aku mau membuat games berhadiah permen. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang aku kasih, dapat kesempatan memutar tuas mesin itu sekali untuk mendapatkan permen sebagai reward. Namanya juga anak-anak, pasti mereka senang bisa main sambil belajar, pikirku.

        Hari sabtu, aku membeli dua bungkus permen cha-cha untuk mengisi mesin itu. Pertama-tama, aku harus mengajari anak-anak kelas 4 SD. Sesampainya di Rumbel, tepatnya di PKM lantai 2, ada beberapa anak yang sudah menunggu. Aku tersenyum dan mengajak mereka berkenalan satu-persatu. Kebanyakan murid-murid kelas 4 SD adalah perempuan, cuma satu orang laki-lakinya. Aku bernafas lega. Bukan apa-apa, kebanyakan anak cowok SD yang kukenal adalah trouble maker. *stereotipe banget sih fah*

         Aku menjelaskan kepada mereka tentang alat jual beli dan alat tukar yang ada di masyarakat dan ciri-cirinya. 
“Di sini siapa yang suka jajan?”
“Aku kak, aku kak!” Beberapa anak langsung mengangkat tangannya, beberapa lainnya masih malu-malu.
“Di mana biasanya kalian jajan?”
“Di Mall kaak.”
“Di warung.”
“Di Indomaret.”
“Coba, kakak mau denger kalian cerita satu-satu, kalian pernah jajan di mana, apa yang kalian beli? Terus, biasanya kalian bayar pakai uang receh, uang kertas, atau kartu kredit?”

          Beberapa anak  menjawab pertanyaanku dengan antusias. Ada satu anak dengan rambut dikuncir dua yang super antusias (sayangnya aku lupa namanya. Aku memang bukan pengingat yang baik, hiks.) sampai-sampai suara beberapa anak yang lain menjadi teredam. Anak-anak seperti ini selalu membuatku merasa gembira, jarang-jarang loh ada anak SD yang berani seperti dia. Namun aku juga memperhatikan ada seorang anak berkacamata yang pendiam dan jarang menjawab, makanya kucoba memberikan kesempatan lebih baginya untuk menjawab.

        Tiba saatnya kuis. Di papan tulis, aku menggambar panel 10x10 yang berisi huruf-huruf yang sekilas terlihat acak dan tidak berarti apa-apa.
“Nah ade-ade, coba cari nama-nama tempat melakukan jual-beli. Yang duluan nemu angkat tangan, ceritain ke kakak apa yang kalian tahu tentang tempat jual beli itu. Yang bisa jawab,” aku mengangkat mesin permen dan menggoyang-goyangkannya di depan mereka. “Dapat kesempatan untuk memutar tuas mesin ini dan mengambil permennya!”
“Aku kak, aku kak!” Mata mereka berbinar-binar, siap untuk menjawab.
“Oke, siapa yang mau jawab pertama!”

        Tidak lama kemudian, aku sudah asyik bermain dengan anak-anak kelas 4 SD. Mereka pun sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab pertanyaan. Aku mengajak mereka membentuk kelompok untuk bergantian berdialog memperagakan proses transaksi jual-beli, dan kelompok lainnya kuminta untuk menebak tempat jual-beli dilakukan dan alat transaksi apa yang digunakan. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat. Mereka terpekik kegirangan saat mendapatkan kesempatan menggunakan mesin permen dan mengambil permen cha-cha di dalamnya.

Setelah selesai mengajar, aku bersiap-siap memberikan materi yang serupa di kelas 3 SD. Saat aku mengakhiri kelas, beberapa anak bertanya, “Kakak kapan lagi ngajar kita?” Sejujurnya, hatiku berbunga-bunga mendengar pertanyaan itu. Apakah ini artinya aku berhasil merebut hati mereka?

          Another class, another challange.
Waktu aku mendatangi kelas 3 yang letaknya di bawah pohon, situasi chaos sudah menyambutku. Beberapa anak laki-laki sedang kejar-kejaran dan guling-gulingan. Sementara di sudut sana, kulihat Kak Rizky sedang membujuk seorang anak perempuan berkerudung. Tak jauh dari anak berkerudung itu, seorang anak cantik berambut panjang sedang memunggunginya sambil cemberut. Tangannya disilangkan di depan dada.

         Kak Rizky menghampiriku, “Fah, ini di kelas 3 lagi ada yang berantem, Sita sama Siti. Kamu tolong bantu mereka buat berbaikan, ya?”
Aku mengangguk, walaupun aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mendamaikan mereka. Selama ini, kelas yang kuajar belum pernah ada dinamika di muridnya.

         “Kak, itu isinya permen ya? Mau dong!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk mesin permen yang kubawa.
“Boleh, tapi nanti ya abis jawab soal.” Aku memasukkan mesin permen itu ke dalam tas-ku.

        Aku mulai memberikan materi yang sama dengan materi kelas 4. Namun, berbeda dengan kelas sebelumnya, kali ini tidak ada yang memperhatikanku. Sita dan Siti bertengkar, duduk berjauhan dan saling memunggungi satu sama lain. Dua orang anak cowok saling memukul sambil berguling-guling. Dua orang yang lain berkejar-kejaran. Sisa anak yang ada perhatiannya teralihkan karena menonton anak-anak yang berkelahi. Suasana chaos.

         Aku berusaha menarik perhatian mereka, namun hanya sebagian anak yang memperhatikan materi yang kuberikan. Anak-anak lainnya sudah tidak fokus. Aku menghela nafas panjang, merasa pusing. Aku berusaha memanggil anak-anak yang sibuk sendiri, namun aku diacuhkan.

       Akhirnya aku menuliskan soal-soal untuk bermain kuis di papan tulis. Salah satu anak berusaha mengintip kunci jawabannya, sehingga aku menyingkir untuk menuliskan soal di papan tulis.
Saat aku berbalik, tak kusangka salah satu anak, sebut saja Aril, sudah membongkar tasku dan mengambil mesin permenku. Ia memutar mesinnya dan mengambil permen dari dalamnya.
Emosiku sudah tidak dapat dibendung lagi. Tidak sopan, dan aku merasa privasiku dilanggar karena tasku dibuka-buka sembarangan.
Aku bergegas menghampiri mereka dan mengambil mesin permen itu. “Oke, adik-adik.” Aku tak dapat menahan nada marah dalam suaraku, “Yang nggak mau belajar, nggak usah di sini. Kalian main ke lapangan aja, jangan ganggu teman-teman yang mau belajar!”
Semua anak terdiam. Tidak ada yang bersuara. Mungkin mereka kaget dengan reaksiku.
Aku merasa menyesal telah marah-marah kepada anak kecil. Suaraku melunak.  “Siapa yang masih mau belajar sama kakak? Kalau masih mau, duduk yang tenang. Kakak janji, abis ini kita main games. Yang masih mau belajar, angkat tangan.”
Semua anak mengangkat tangan. Aku merasa heran, mengapa mereka tiba-tiba jinak? Syukurlah.

         Akhirnya aku melanjutkan pelajaran dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak disangka, Aril yang membuatku marah-marah ternyata pintar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan. Mungkin ia merasa bersalah telah membuatku marah, dan bertekad menebusnya dengan mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Aku mengapresiasinya, dan tidak segan memujinya ketika ia menjawab dengan baik.

        Waktu belajar sudah selesai. Aku mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama. Satu persatu anak-anak berpamitan kepadaku, dan beberapa orang bertanya, “Kakak minggu depan ngajar kita lagi kan?”. Aku hanya tersenyum.

        Pengalamanku mengajar di kelas yang berisi anak-anak aktif dan sulit diatur sangat berkesan. Ternyata, untuk dapat mengendalikan anak-anak, kita harus meraih hati mereka terlebih dahulu. Jika mereka sudah menganggap kita sebagai teman, mereka akan percaya dengan kita dan menuruti nasehat kita.

       Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak kelas 3, mereka mengenaliku dan selalu menyalamiku. Terkadang saat aku sedang mengajar di kelas lain, mereka ikut bergabung karena ingin diajar olehku. Sungguh, aku terharu dengan tingkah mereka. Aku merasa menyesal pernah marah-marah kepada anak-anak lucu ini.

        Menjadi Pasukan Langit Rumbel BEM UI memberiku pengalaman tak terlupakan. Dulu kupikir, aku bisa memberikan banyak hal untuk anak-anak di Rumbel BEM UI. Namun ternyata, mereka memberiku lebih banyak dari yang kuberikan kepada mereka. Karena mereka, aku belajar bersabar. Aku belajar untuk mencoba memahami anak-anak. Aku belajar untuk menjadi teladan yang baik karena mendapat teguran dari celotehan polos mereka, misalnya “Kak Iffah kok minumnya sambil berdiri?”. Aku belajar untuk memberi tanpa mengharap balas jasa apapun, hanya senyum anak-anak itu yang membuat hilang rasa lelahku karena mengajar anak-anak aktif seharian.

Iffah bersama bocil-bocil


Pengalamanku menjadi Pasukan Langit yang berkesan kemudian membawaku menjadi Pasukan Awan.

Tapi, itu cerita yang lain :)