Selasa, 07 Juli 2015

Review Buku "How To Win Friends And Influence People" -- Dale Carnegie

Gimana sih caranya berkomunikasi yang baik?

Bagi saya yang seorang introvert dan pemalu dari kecil, ternyata sesulit itu berkomunikasi dengan orang lain. Seringkali, saya hanya diam seribu bahasa apabila bertemu dengan orang lain, bukan karena saya nggak ramah atau sombong, tetapi sesimpel karena saya nggak tahu apa yang harus dikatakan. Ada ketakutan bahwa apa yang keluar dari mulut saya akan menyakiti perasaan orang lain, atau membuat orang lain bosan atau menganggap saya garing. Ketakutan-ketakutan itu yang akhirnya membuat mulut saya semakin rapat mengatup dan sulit membuka diri kepada orang baru. Padahal, kalau orang sudah mengenal saya, saya akan sangat terbuka dan amat sangat cerewet.

Terkadang saya merasa iri sama teman-teman yang bisa dengan mudahnya bercakap-cakap dengan orang yang baru ditemuinya di jalan. Saya bertanya-tanya, kok bisa ya seseorang memiliki bakat alam untuk menjadi begitu menyenangkan. Camila, sahabat saya adalah contoh nyatanya. Camila memiliki sifat periang, antusias, dan enak diajak berbincang-bincang. Lebih jauh lagi, Camila selalu tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik; gimana caranya membuat seseorang terbuka kepadanya, gimana menyampaikan pendapat dengan jelas, gimana melakukan kritik tanpa menyakiti orang lain, dan hal-hal lain yang membuat saya takjub. Bahkan, Camila memiliki bakat untuk memikat ibu-ibu dan bapak-bapak yang dikenalnya sehingga mereka merasa sayang kepada Camila dan percaya dengannya. Bakat ini sangat berguna dalam kehidupannya, terutama kalau Camila bertemu calon mertua, hehehe.

Untungnya, saya kemudian membaca sebuah buku karangan Dale Carnegie yang berjudul “How to Win Friends and Influence People”. Super nyesel kenapa saya nggak baca buku ini dari dulu. Buku ini membahas semua cara komunikasi yang dapat digunakan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam berkomunikasi. Lebih jauh lagi, kemampuan komunikasi yang kita punya dapat digunakan sebagai modal untuk memperlancar kehidupan sehari-hari, mulai dari pergaulan sampai pekerjaan. Semua yang ada di buku ini rasa-rasanya sudah dipraktekkin sama Camila. No wonder Camila supel dan banyak teman. Pokoknya, buku ini recommended banget untuk orang-orang yang ingin memperbaiki cara berkomunikasi dan ingin punya banyak teman.

Apa aja sih yang dibahas dalam buku ini?

-How to Handle People
1. Don’t critize people, condemn, or complain
Intinya adalah, apapun yang terjadi jangan pernah kritik orang lain. Nggak ada orang yang suka dikritik, dan sometimes kritik yang kita berikan tidak membuat orang jadi lebih baik, tapi malah membuat orang kesal dengan kita dan melakukan pembenaran terhadap tindakan mereka, lebih jauh lagi menghindari orang yang mengkritiknya. (If only I know this earlier...). Nah terus kalau kita kesal sama orang lain harus gimana? Salah satu saran yang diberikan supaya kita lega adalah tulis aja uneg-uneg kita kepada seseorang di surat, tapi suratnya jangan pernah dikirimin, kalau perlu disobek-sobek hehe. Intinya, jangan pernah mengkritik seseorang.

2. Give honest dan sincere appreciation
Untuk menggantikan kritik, justru sebaliknya kita harus memberikan seseorang apresiasi. Setiap orang butuh apresiasi, tapi sedikit banget orang-orang yang memberikan apresiasi. Jadi daripada mengkritik seseorang karena kerja dia jelek, lebih baik kita mengapresiasi pekerjaan yang sudah dia lakukan, supaya dia semakin semangat bekerja. Tentu saja, apresiasi ini harus honest and sincere, jangan sampai yang kita berikan ini pujian palsu.

3. Arouse in other person an eager want
Intinya adalah, manusia lebih semangat melakukan sesuatu kalau berdasarkan panggilan hatinya sendiri. Jadi kalau kita punya ide brilian yang kita ingin dijalankan oleh orang lain, daripada membuat orang berfikir, “Gue melaksanakan idenya iffah nih.” Lebih baik membuat mereka merasa ide itu berasal dari mereka sendiri. Jadi kita seolah-olah hanya mensuggesti dia untuk melakukannya, selanjutnya terserah kepada ide dari dia.

-Ways to make people like you
1. Became genuinely interested in other people
Setiap orang suka diperhatikan dan menjadi pusat perhatian. Karena itu, kalau kita ingin diingat oleh seseorang, kita harus tertarik kepadanya, mulai dari hobinya, cita-citanya, apa yang jadi favoritnya, dan lain-lain. Minimal banget, kita harus ingat nama dan muka seseorang. Lebih bagus lagi kalau kita ingat hal-hal kecil tentang dia, misalnya hari ulang tahunnya ataupun minatnya.

2. Smile!
Selalu tersenyum setiap ketemu sama orang!

3. Remember: a person’s name
Kesalahan fatal  yang sering kita lakukan adalah kita lupa nama atau muka seseorang. Inget nggak, kita suka merasa kesal kalau ada yang lupa nama atau muka kita, kesannya kita nggak penting dan remeh sampai dilupakan. Begitu juga yang orang lain rasakan. Tipsnya, setiap ketemu orang baru, selalu hubungkan nama dan karakteristik yang dimiliki seseorang. Misalnya, temen gue Andi terkenal dengan kumis yang dia punya. Atau kalaupun kita beneran lupa nama orang yang pernah kita temui, minimal jangan sampai ketahuan kalau kita lupa hehe. Sambil ngobrol, cari-cari cara untuk mengingat siapa namanya.

4. Be a good listener. Encourage others to talk about themself
Ingat, setiap orang suka diperhatikan, apalagi didengarkan. Ketika ngobrol  dengan seseorang, dengarkan dengan penuh perhatian, lihat matanya jangan lihat yang lain (apalagi hape, nggak sopan banget kalau diajak ngobrol malah mainin hape). Dengarkan omongannya sampai dengan selesai, jangan disela di tengah-tengah. Lalu untuk menggali dia lebih dalam, berikan pertanyaan-pertanyaan yang bikin dia nyaman menjawabnya (artinya, nggak offensive). Biarkan dia bercerita lah pokoknya.

5. Talk in terms of other people interest
Ajak seseorang untuk ngobrolin hal-hal yang memang membuat dia tertarik. Bahkan kalau  perlu, sebelum berkenalan dengan seseorang, kita cari tahu dulu apa hal-hal yang dia suka supaya kita siap dan “nyambung” dalam pembicaraan. Misalnya saya tahu Camila itu sangat concern di isu-isu perlindungan perempuan, sebelum ketemu Camila saya baca berita yang lagi hot di masyarakat tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dan sebagainya.


Nah, itu cuma sebagian dari banyaak hal yang diajarkan dalam buku ini. Penasaran? Mendingan langsung baca bukunya, saya jamin buku ini sangat berguna. Kalo mau baca, bisa download ebooknya di How to Win Friends and Influence People – Dale Carnegie. Selamat membaca!

Minggu, 05 Juli 2015

Kaledioskop Mahasiswa Tingkat Akhir


Assalamualaikum blog!

Long time no see! Huhuhu maafkan.. kalau di dunia nyata lagi ngetrend penelantaran anak, ini saya juga melakukan penelantaran pada blog yang udah setia menemani dari jaman saya masih SMA labil sampai sekarang yang (alhamdulillah) udah jadi Sarjana Hukum. Kehectican di tingkat akhir membuat saya jadi amat sangat jarang nengokin blog atau sekedar mengepost tulisan. Padahal, sebenarnya banyak banget cerita, tawa, dan airmata yang mau dibagi ke blog ini.

Karena itu, saya mau menuangkan segala momen-momen mahasiswa tingkat akhir yang sudah saya lalui dan tidak sempat terekam di blog ke tulisan pendek ini.
Here we go!

Kaledioskop Mahasiswa Tingkat Akhir

Menjadi mahasiswa tingkat akhir bukan hal yang mudah, kita dilenakan dengan keluangan waktu karena sudah nggak ada mata kuliah yang harus diambil, tapi dituntut untuk bertanggungjawab dengan selesainya tugas akhir mulia sebagai mahasiswa yaitu... skripsi.

Alhamdulillah, momen tingkat akhir saya sebagai mahasiswa tidak terbuang sia-sia. Bahkan, saya merasa amat sangat bersyukur karena sepanjang tahun 2014-2015 ini sudah diberikan banyak anugerah dari Allah untuk mencoba berbagai kesempatan.

Liburan panjang semester 6 tahun 2014 kemarin saya habiskan untuk dua kegiatan produktif.
Pertama, saya dan Muthi ikut Sekolah HAM selama dua minggu yang diadakan oleh LBH Masyarakat, sebuah lembaga bantuan hukum publik. LBH Masyarakat yang letaknya di Tebet, dekat rumah saya itu mengadakan Sekolah Hak Asasi Manusia yang ditujukan bagi mahasiswa-mahasiswa. Materi yang dipelajari juga menarik, misalnya kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hak hidup, dan lain-lain.  Yang seru dari kegiatan ini adalah selain kita didatangkan pembicara kompeten untuk mengajarkan materi seputar Hak Asasi Manusia, kita juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke lembaga-lembaga yang bergerak di isu seputar HAM. Kita mengunjungi Kontras, Komnas HAM, KIP, ELSAM, Wahid Institute, mendengar pengalaman hidup mantan pengguna narkotika dan penderita AIDS, dan berkunjung ke komunitas LGBT yang ada di Tebet. Oke, walaupun materinya terdengar bukan gue banget, tetapi pengalaman dua minggu ini malah semakin membuat keyakinan saya kuat bahwa apa yang saya yakini benar adalah benar, dan saya tetap menghormati orang yang berbeda keyakinan dengan saya.

Lesson learned: Jangan pernah takut untuk mempelajari sesuatu yang terdengar “mengerikan”, karena mungkin saja dari sana kita malah bisa belajar banyak. Jangan pernah berpikiran sempit dan menjudge sesuatu sebelum kita benar-benar mengerti mengenai sesuatu itu.

Di bulan yang sama, memasuki bulan Ramadhan, saya ikut magang di PAHAM. PAHAM adalah lembaga bantuan hukum (serupa LBHM) yang letaknya di Pasar Rebo. Hanya saja, PAHAM berbeda concern dengan LBHM. LBHM lebih fokus melakukan advokasi terhadap kasus-kasus pengguna narkotika, LGBT, dan lain-lain. Sementara PAHAM melakukan advokasi kepada isu-isu keislaman di masyarakat. PAHAM sebagai lembaga bantuan hukum juga menerima klien-klien yang datang. Selama saya magang di sana, saya bertemu klien yang mempunyai masalah yang berbeda-beda: seorang mahasiswa hidup susah karena uang pensiun ayahnya bertahun-tahun tidak cair, dan ia mencoba memperjuangkannya; kasus guru-guru di sekolah swasta yang diberikan kontrak kerja yang sewenang-wenang; dan kasus human trafficking dimana seorang remaja diberangkatkan ke Malaysia dengan tujuan jadi TKI, tapi sesampainya di sana malah dipekerjakan sebagai wanita penghibur di panti pijat plus-plus.

Selama saya magang di sana, saya semakin merasa ilmu yang dipelajari di kampus tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan masalah yang dihadapi di dunia nyata. Saya yang mahasiswa peminatan hukum perdata, harus bisa menangani masalah buruh, masalah human trafficking, masalah pidana (that’s why, kita nggak boleh jadi mahasiswa hukum yang cuma ngerti masalah peminatan hukum kita aja). Saya juga merasa bersyukur bisa ikut magang di PAHAM karena bisa ikut bertemu klien, mendengarkan permasalahan yang ada, dan melihat langsung bagaimana advokat-advokat senior menangani kasus-kasus hukum yang ada. Yang hebatnya, setiap pengacara yang ada di sana tidak menerima bayaran dari klien. Namanya juga lembaga bantuan hukum, bayaran yang diberikan oleh klien tergantung kemampuan klien. Kadang kalau beruntung, klien membawakan makanan sebagai ucapan terima kasih. Tentu saja lembaga bantuan hukum berbeda dengan Lawfirm yang corporate lawyer-nya gajinya dihitung per jam waktu konsultasi. Bapak-bapak dan mbak-mbak yang ada di PAHAM ikhlas melakukan pekerjaannya dengan gaji yang tidak seberapa.

Selesai liburan, saya memasuki semester 7. Di semester ini saya memfokuskan kegiatan kemahasiswaan pada bidang yang menjadi passion saya sejak dulu: pendidikan.

Kalau di semester sebelumnya saya jadi pendidik Rumah Belajar BEM UI, kali ini saya memutuskan untuk menjadi panitia pengurus Rumbel BEM UI. Saya bergabung dengan Rumah Belajar BEM UI sebagai Wakil Kepala Divisi Akademik. Divisi akademik adalah divisi yang melakukan pelatihan dan memanajemen pendidik-pendidik volunteer Rumbel. Divisi ini juga mengatur kegiatan belajar mengajar setiap sabtunya di Rumbel BEM UI. Dan tentu saja, saya setiap sabtu merasakan sweet escape karena bisa ketemu adik-adik Rumbel yang unyu-unyu, sambil sesekali mengajar.
KBM di Rumbel BEM UI: Walaupun beralaskan karpet beratapkan langit, tetap semangat belajar!

Anugerah lain yang saya dapatkan adalah bergabung dengan keluarga Gerakan UI Mengajar. Gerakan UI Mengajar (GUIM) terinspirasi dari Indonesia Mengajar yang mengirim pendidik ke pelosok Indonesia untuk mengajar selama satu tahun. Bedanya, GUIM mengirim mahasiswa UI untuk mengajar di daerah yang kurang akses pendidikannya di Jawa Barat hanya selama tiga minggu. Setelah dua tahun kemarin ikut seleksi pengajar GUIM dan belum berhasil lolos, alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk menjadi pengajar GUIM 4. Saya berkenalan dengan panitia dan pengajar GUIM lain yang keren-keren dan menginspirasi.
Pengajar GUIM 4 di Titik Satu, dari kiri ke kanan: Gugum, Risky, Melati, Iffah, Ela, Maul

Selama tiga minggu, saya dan teman-teman di Titik Satu, SD Puncakmanggu Kabupaten Sukabumi, saling mengenal satu sama lain seperti keluarga sendiri. Saya juga belajar banyak dari anak-anak kelas 3 Ceria yang saya ajar. 
Bu Iffah dan Anak-anak Kelas 3 Ceria

Di Sukabumi, setiap hari yang ada hanya keceriaan walaupun setiap harinya kita harus naik-turun melewati bukit berbatu untuk mengajar di sekolah dan mengunjungi rumah murid-murid. Saat itu juga, saya harus berjuang keras melawan diri sendiri karena beberapa hari menghadapi homesick, dan belajar bahasa sunda dari nol di tengah lingkungan yang memaksa untuk bisa berbahasa sunda. Tapi dari pengalaman selama di GUIM ini, saya belajar amat sangat banyak. Menjadi bagian dari GUIM 4 adalah anugerah tiada terkira yang saya syukuri.

Di semester 7, saya juga menggiatkan diri bersama teman-teman mengikuti beberapa lomba karya tulis. Walaupun tidak semua karya dari lomba yang saya ikuti mendapatkan juara, tentu saja. Tetapi, pengalaman saat mengikuti lomba-lomba itu memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya sebagai sarana upgrading diri. Kalau dihitung-hitung, ada 10 karya tulis yang saya hasilkan selama tahun 2014-2015 kemarin. Alhamdulillah, berhasil menunaikan resolusi awal tahun untuk mengikuti banyak lomba. Dan beberapa dari karya tulis itu memberikan hadiah, misalnya memenangkan juara Program Kreativitas Mahasiswa di Fakultas, dan memenangkan juara 2 saat kompetisi di Gunadarma.

Semester 8 adalah saat ketika saya harus fokus hanya kepada satu hal: Skripsi!

Setelah menunda-nunda untuk sama sekali tidak memikirkan skripsi selama semester 7, di semester ini saya “dipaksa” untuk mulai memusingkan skripsi. Biasanya, ketika ada yang nanya ke saya, “Iffah, gimana skripsinya? Udah bab berapa?”, jawaban cuek saya adalah, “Masih bab niat-rencana-persiapan-pembuatan-proposal.”

Tapi, sejujurnya saya menyesal nggak mempersiapkan skripsi dari jauh-jauh hari. Beberapa teman saya, misalnya Muthi, Athun, dan Ghozi, sudah mempersiapkan skripsinya dari semester 7. Bahkan sekitar setengah dari mahasiswa di peminatan hukum perdata, peminatan saya, sudah selesai di semester 7 dan lulus 3,5 tahun. Dulu saya cuek-cuek saja karena bagi saya lulus juga nggak perlu buru-buru. Tapi saya juga nggak mempersiapkan apa-apa, sehingga di semester 8 saya kelabakan menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, saya udah dapat tema skripsi, yaitu tentang Jaminan Produk Halal yang terinspirasi dari seminar yang diadakan oleh lembaga yang saya ikuti, Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam (LKIHI).

Saat-saat mengerjakan skripsi adalah momen krusial bagi seorang mahasiswa. Demi bisa menyelesaikan skripsi, saya fokus dan mengabaikan semua kesempatan yang datang. Setiap hari (literally) menghubungi pembimbing, menanyakan kapan bimbingan. Jadi kebal karena berkali-kali di PHP-in untuk bertemu dosen pembimbing. Tapi di saat yang sama jadi supersensitif, gampang emosi dan nangis kalau ada masalah sedikit, terutama masalah yang berhubungan dengan skripsi. Kafe-kafe, KFC, Seven Eleven, dan berbagai tempat nongkrong di sekitar rumah dan kampus menjadi saksi bisu perjuangan saya. Memasuki bulan Ramadhan, tempat ngerjain skripsi pindah ke Perpustakaan FH yang baru diresmikan, yang super pewe karena penuh sofa-sofa empuk, ber-AC, wifi kencang. Setiap saat saya dan teman-teman menggentayangi perpustakaan FH, dari pagi sampai menjelang sore.

Dan perjuangan panjang akan berbuah manis juga pada akhirnya.

Sarjana Hukum sekarang melekat pada akhir nama saya.

Tak hentinya rasa syukur terucap. Rasa terima kasih yang tak terhitung, kepada orangtua saya yang tak hentinya mendoakan saya. Kepada sahabat-sahabat yang selalu ada untuk membantu saya, dan menemani saya selama empat tahun kuliah.

Tapi, seperti yang Tita, sahabat saya, bilang, Sarjana itu hanya titel. Masih sangaaat panjang jalan yang menanti di depan. Masih banyak mimpi yang membayang-bayang di kepala. Menjadi asisten dosen. Menikah. Menempuh S2 jurusan Ekonomi Syariah di Durham University, Inggris. Menjadi dosen di Universitas Indonesia. Membuat buku. Dan masih banyak lagi.


What’s next?

Kamis, 19 Maret 2015

Kompetisi



Assalamualaikum...

Halo blog, sudah lama aku tidak berbagi cerita. Kali ini, aku ingin bercerita tentang kompetisi Olimpiade Ekonomi Syariah yang kuikuti beberapa hari yang lalu.

Suatu hari, aku melihat info tentang lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Second FEUI. Karena tertarik, aku bersama Asya dan Rico, junior-junior yang kukenal di Serambi, bertekad untuk mendaftar. Kami berdiskusi, merumuskan ide dan membuat paper sebagai syarat perlombaan. Namun karena saat itu di akhir tahun 2014 kami memiliki kesibukan lain, akhirnya paper itu terbengkalai. Aku sedang persiapan untuk mengikuti GUIM (Gerakan UI Mengajar), Asya sedang menjadi panitia Pemilu FHUI, dan Rico maju sebagai calon anggota independen BPM FHUI. Akhirnya, kami memutuskan untuk merelakan lomba itu, dan tidak mengirimkannya karena khawatir hasilnya kurang maksimal.

Namun, ketika satu pintu tertutup, Allah ternyata membukakan pintu lainnya.

Bulan Januari, kami melihat pengumuman mengenai lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Universitas Gunadarma, tetangga sebelah kami. Melihat tema perlombaan yang serupa dengan tema esai kami, aku mengajak Asya dan Rico untuk menyelesaikan dan mengirimkan esai kami ke perlombaan itu. Aku ingat, Olimpiade ini adalah lomba yang juga ingin kuikuti tahun lalu, namun aku tidak lolos penyisihan. Yang lolos adalah Camila, Mbak Gusva, dan Mbak Rana. Mereka bahkan mendapatkan juara dua dalam lomba tahun lalu.

Akhirnya kami mengirimkan esai tersebut. Sambil menunggu hari perlombaan, sesekali kami berkumpul dan berlatih soal-soal ekonomi Syariah. Selain mengirimkan esai, seleksi penyisihan juga dilakukan dengan tes tertulis online. Kami hanya memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan soal-soal pilihan ganda dalam tes online.

Hari-H tes online, kami berkumpul di kampus, di S n T yang wi-finya kencang. Aku berlari dari balairung sehabis melakukan Simulasi Mengajar Pendidik Rumah Belajar BEM UI. Untunglah aku tiba tepat waktu. Bersama Asya dan Rico, kami bertiga mengerjakan soal-soal tersebut dengan dibantu tumpukan buku-buku ekonomi syariah yang kami pinjam dari perpustakaan.

Beberapa hari berlalu setelah tes. Kami harap-harap cemas menanti pengumuman.
Pada jam 10 malam aku membuka website GSENT, dan membaca dengan hati berdebar.

Nama kami ada dalam daftar 15 tim yang lolos penyisihan. Alhamdulillah. Rasanya tidak percaya. Apalagi menurut cerita Fitra, temanku yang juga panitia GSENT, dari UI ada tiga tim dari Fakultas Ekonomi UI yang juga mendaftar, namun hanya tim kami yang menjadi perwakilan dari UI. Padahal kami dari Fakultas Hukum.

Bismillah.
Kami memutuskan untuk melanjutkan kompetisi dengan modal nekat. Di sela-sela jadwal kuliah Asya dan Rico yang padat, dan kesibukanku berlatih untuk tes TOEFL dan mengerjakan skripsi, kami meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah.

Sehari sebelum perlombaan, semua tim berkumpul di Universitas Gunadarman dan mengikuti Technical Meeting. Karena Asya dan Rico masih kuliah, aku datang sebagai perwakilan tim. Aku berkenalan dengan tim-tim lain yang berasal dari berbagai Universitas: ada yang dari Universitas Brawijaya, SEBI, Tazkia, UGM, namun sebagian besar tim berasal dari institusi UIN, yang di Jakarta, Malang, Bandung, dan Yogyakarta.

"Kalian dari KSEI juga?" tanya salah satu tim kepadaku.
Aku menggeleng. "Bahkan aku belum pernah dengar. KSEI itu apa?"
"Loh, setau aku FEUI punya KSEI juga deh. Yang kemarin buat lomba Olimpiade Ekonomi Syariah juga kan?"
Aku mulai ragu. "Mungkin mereka punya KSEI. Tapi kita bukan anak Fakultas Ekonomi. Kita dari Fakultas Hukum."
"Loh, kok anak Hukum bisa ikut lomba Olimpiade Ekonomi?" Ia terlihat terkejut.
Mana aku tahu, batinku cemas. Mungkin panitianya melakukan kesalahan dan salah memasukkan nama finalis?

Ternyata, kebanyakan dari mereka sudah sering mengikuti Olimpiade Ekonomi Syariah. Bahkan, semua tim yang bertanding --kecuali kami--merupakan anggota KSEI (komunitas Ekonomi Syariah di Universitas-Universitas seluruh Indonesia). Beberapa tim merupakan langganan juara Olimpiade Ekonomi Syariah. Kabarnya, beberapa hari yang lalu mereka baru saja mengikuti seleksi Olimpiade Ekonomi Syariah tingkat Regional yang baru diadakan antar KSEI se-Indonesia.

Mendengar cerita mereka, seketika nyaliku ciut. Bagi tim kami, ini pertama kalinya kami ikut Olimpiade Ekonomi Syariah. Apalagi kami tidak memiliki background core competence Fakultas Ekonomi, berbeda dengan tim lain yang berasal dari Fakultas Ekonomi atau jurusan Ekonomi Syariah. 

Menurut Camila, lomba GSENT tahun lalu adalah cerdas-cermat soal olimpiade per tim dan case study. Sementara babak finalnya adalah mempresentasikan esai yang kita buat. Oleh karena itu, tim kami mengatur strategi. Panitia memberikan kisi-kisi 12 materi yang akan keluar dalam soal. Kami membagi tugas: masing-masing orang bertugas mempelajari 4 BAB dari materi tersebut. Dengan begitu saat olimpiade, kami hanya perlu menjawab bagian yang kami pelajari. Setiap orang bertanggungjawab untuk menguasai materi yang menjadi kewajibannya. Dengan cara ini, kami bisa saling melengkapi dalam menjawab soal.

Namun rencana kami rusak karena ternyata peraturan telah berubah.
Babak Semifinal mencakup babak Tes Tertulis, Mini Council, dan Mini Presentation. Dalam tes tertulis, kami akan menghadapi 80 soal Pilihan Ganda dan 20 soal TTS yang harus dikerjakan secara terpisah. Setelah itu nilai dari setiap anggota tim akan dikumulasikan. Dalam sesi mini council, kami akan menghadapi case study. Di sesi mini presentation, kami harus mempresentasikan esai kami. Sementara untuk babak final, kami akan mendapatkan case study lagi dan diberi waktu 1,5 hari untuk membuat presentasi dan mempresentasikan jawaban kami.

Peraturan yang berubah cukup mengejutkan kami. Ini tidak seperti yang kami rencanakan. Aku, Asya, dan Rico bertatapan dengan campuran antara perasaan bingung, pasrah, dan jiper menghadapi lawan-lawan kami. Kami tidak siap.

“Yaudah teman-teman, kita pasrah aja ya. Nothing to loose. Kalaupun kita nggak lolos, toh ini bisa jadi pelajaran untuk anak-anak Serambi ikut lomba ini tahun depan.”

Kami memanfaatkan sisa waktu malam itu untuk mempelajari soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah. Kami tanya jawab soal di lobby penginapan, dengan tumpukan buku-buku di hadapan kami. Aku baru berhenti belajar jam 12 malam. Ikhtiar sudah maksimal, sisanya dipasrahkan saja kepada Allah, pikirku.

Pagi hari sebelum lomba, kami berkumpul untuk berdoa. Kami meluruskan niat, agar kami semata-mata mengikuti lomba ini untuk mengharumkan nama baik Serambi, LDF kami. Kami memohon doa agar dimudahkan oleh Allah dalam kompetisi ini.

Sesi tes tertulis tidak seperti yang kuharapkan. Walaupun aku sudah banyak belajar materinya, tetap saja aku kagok menjawab soal-soalnya yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Inggris. Aku bahkan sempat tertidur di tengah tes berlangsung. Kulirik Asya yang duduk beberapa meter di sebelahku, ia hanya tertawa pasrah.

Sesi presentasi lebih buruk lagi. Kami memaparkan ide kami, yang kami buat susah payah, namun juri tidak bertanya pertanyaan yang kami harapkan. Juri tidak menanyakan hal-hal yang substansial dari ide kami. Selain itu kami baru tahu bahwa juri tidak membaca esai yang telah kami buat dengan susah payah. Jadi, juri hanya menilai kami berdasarkan presentasi.

Sementara di sesi mini council, kami duduk melingkar menghadapi lima tim lainnya. Kami mendapatkan case study dan harus membantah atau mendukung jawaban tim lain. Tim lain mendapatkan case study mengenai LKMS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah), Baitul Maal, dan lain-lain yang aku merasa kami tidak dapat menjawabnya apabila dapat soal itu. Alhamdulillah, kami mendapatkan soal tentang Ekonomi Kreatif, yang sudah kami kuasai karena kami bahas dalam Essai dan pernah kami diskusikan sebelumnya. Baru pada sesi inilah kami dapat menunjukkan taring kami. Apalagi Asya sebagai anak yang sudah biasa debat, ia terlihat sangat menguasai ruangan.

Sesi semifinal selesai sudah. Seluruh tim dikumpulkan dalam satu ruangan. Panitia akan mengumumkan nama-nama empat tim yang lolos ke babak final berdasarkan kumulasi nilai-nilai seleksi semifinal.

Aku dan Asya berpegangan tangan, menanti dengan hati berdebar. Sejujurnya kami sudah pasrah, namun melihat performance tim kami saat mini council, secercah harapan muncul. Mungkinkah?

“Tim pertama yang lolos ke babak semifinal adalah....” panitia memperlambat tempo bicara, menikmati ketegangan yang muncul di wajah-wajah peserta.
“Universitas Brawijaya.”
Tim dari Universitas Brawijaya bersorak. Aku menyelamati Rita, anak Unbraw yang kukenal sejak awal bertanding. Wajah Rita terlihat campuran perasaan tidak percaya dan terharu.
“Universitas Gajah Mada.”
Aku menggenggam tangan Asya semakin erat sambil berdzikir.
“Universitas Indonesia.”
Kami bertatapan dengan wajah tak percaya. Tim-tim lain menyalami kami, memberikan selamat. Wajah Rico kulihat sama bingungnya, namun terlihat gembira.
Panitia mengumumkan UIN Sunan Kalijaga sebagai finalis keempat. Hasil tabulasi nilai muncul di layar depan. Ternyata kami tidak seburuk yang kami bayangkan, nilai kami berada di urutan kedua dari empat finalis.
“Selamat untuk para finalis, persiapkan diri kalian untuk final hari Jum’at nanti.” Panitia menutup acara.

Setelah para peserta bubar untuk kembali ke penginapan, kami bertiga, aku, asya, Rico, berkumpul dengan perasaan tidak percaya.
“Guys... kita udah sejauh ini. Kita udah nggak bisa mundur lagi. Nggak ada pilihan lain, kita harus menang. Gue percaya kok, kita sampai final pasti bukan karena kebetulan atau keberuntungan, tapi karena udah ditakdirkan Allah.”
Kamipun menyusun strategi untuk final. Namun sampai malam itu, soal untuk babak final belum juga diberikan. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Baru saat keesokan harinya kami mendapatkan case study yang harus dipecahkan saat final. Inti dari pertanyaan yang diberikan kepada kami adalah, “Apa langkah-langkah yang harus ditempuh agar Bank Syariah dapat bertahan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015?”
Kami menghembuskan nafas lega. Soal ini bukan tentang materi yang kami sama sekali tidak mengerti.
Tidak terasa waktu sehari berjalan cepat. Sehari kami lewatkan dengan lebih banyak diskusi, pembuatan PPT pun kami lakukan dengan terburu-buru dan seadanya. Asya sebagai perwakilan yang mempresentasikan hanya sempat latihan beberapa menit sebelum kami tampil. Apakah kami bisa tampil maksimal?

Kami terhenyak melihat deretan antrian mahasiswa yang berbaris, akan memasuki aula besar tempat kami akan presentasi.
“Mbak, itu orang-orangnya pada mau kemana? Bukan nonton kita, kan?” Asya memastikan pada panitia lomba yang berjaga.
“Mereka datang untuk menonton presentasi kalian. Selain para juri, kalian akan ditonton oleh 300 orang peserta seminar ini. Jadi dalam seminar ini, kalian jadi pembicara.” Panitia menjelaskan.
Kami terbengong-bengong. Tiga ratus orang? Dan mereka mau menonton kami, yang notabene masih mahasiswa ini, berbicara di depan? Wah, kami merasa tersanjung.

Kami mendapat urutan kedua dalam presentasi. Asya maju dan berbicara di podium. Harus kuakui, Asya memiliki public speaking yang amat bagus. Kami juga dapat menjawab pertanyaan dari juri maupun penonton dengan memuaskan. Namun kami agak khawatir, sebab tim lain memberikan solusi konkrit berupa program atau model, sementara solusi yang kami berikan adalah langkah-langkah, yang bahasannya luas dan tidak terfokus.

Semua peserta telah mempresentasikan jawabannya. Juri meminta waktu untuk berunding di ruangan lain. Tidak lama kemudian, para juri kembali memasuki ruangan.
 Juri siap untuk mengumumkan pemenang lomba ini.

Kami berdiri berjajar di depan panggung. Aku dan Asya bergenggaman tangan erat. Lomba ini hanya memiliki dua juara, juara satu dan dua. Itu artinya, dua tim dari kami tidak akan mendapatkan apa-apa.
“Juara keempat jatuh kepada...” Juri mulai membaca. “UIN Sunan Kalijaga.”
Genggaman tanganku dan Asya semakin erat. Sedikit lagi.
“Juara tiga jatuh kepada......” hening sejenak. “Universitas Gadjah Mada.”
Jantungku berdegup kencang. Kami bisa juara dua, atau juara satu. Tidak ada yang tahu.
“Dan juara satu, jatuh kepada....” aku memejamkan mata. “Universitas Brawijaya.”
Aku dan Asya berpelukan. Kami juara dua! Walaupun agak kecewa karena tidak mendapat juara satu, tetap saja kami bersyukur. Juara dua, bagi mahasiswa Hukum, diantara saingan-saingan kami yang berasal dari Fakultas Ekonomi, adalah sebuah pencapaian yang bagus.

Kami maju ke depan dan mengangkat piala itu. Disaat itulah, aku merasa bangga, karena pada tahun terakhirku di Universitas ini, ternyata aku bisa juga membantu mengharumkan nama baik Serambi.


Alhamdulillah.

Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan ikhtiar dan doa, segalanya jadi mungkin. Kami telah membuktikan hal itu. Entah mengapa, jalan kami dalam kompetisi ini sepertinya dimudahkan. Kami mendapatkan soal-soal yang kami kuasai. Kami bisa bertanding dengan baik, walaupun hasilnya belum maksimal.

Kompetisi ini membuatku merasa bersyukur mengenal junior seperti Asya dan Rico yang memiliki passion di bidang keilmuan. Aku belajar banyak sekali dari mereka, karena mereka cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas. Selain itu, pertemuan dengan mahasiswa penggiat ekonomi syariah dari seluruh Indonesia membuat tekadku semakin kuat untuk menjadi ahli di bidang Ekonomi Syariah.  

Kompetisi ini hanya salah satu jalan pembuka bagiku. Masih banyak jalan terbentang di depan mata yang harus ditempuh untuk mencapai cita-citaku.
Semangat!

Selasa, 17 Februari 2015

Be a Muslim Jurist


Sungguh tidak mudah menjadi mahasiswa Hukum. Apalagi di Indonesia, negara dimana hukum tidak memiliki supremasi apa-apa. Hukum rasanya sangat mudah diperjualbelikan, dipermainkan demi kepentingan politik semata. Ketika hukum dipermainkan oleh orang-orang yang berkuasa, banyak pihak yang terdzalimi bahkan oleh keberadaan hukum itu sendiri. Hukum, yang seharusnya dapat memberikan keadilan dan ketertiban, malah menimbulkan kekacauan baru.

Masih hangat dalam ingatan, kemarin vonis telah dijatuhkan dalam proses praperadilan calon Kapolri Budi Gunawan yang menjadi tersangka KPK. Hakim Sarpin memutus bahwa penetapan status Budi Gunawan sebagai tersangka KPK tidak sah, padahal bukanlah kewenangan Hakim dalam praperadilan untuk memutuskan sah atau tidaknya penetapan status tersangka. Hakim Sarpin, entah sadar atau tidak, telah menjatuhkan putusan yang melebihi wewenangnya. Tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun sayangnya, putusan praperadilan berkekuatan hukum tetap sehingga tidak dapat diganggu gugat. Sehingga, resmilah calon Kapolri Indonesia (yang notabene adalah unsur penegakan hukum tertinggi di Indonesia) adalah (mantan) tersangka koruptor.

Vonis ini menambah kekecewaan dalam dada mahasiswa hukum, termasuk aku dan kawan-kawanku. Tidak sedikit dari kami yang menitikkan air mata. Entah sudah berapa kali kami dikecewakan dengan putusan penegak hukum yang kami—mahasiswa hukum—tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kami pelajari tentang hukum. Sungguh sesak rasanya jadi mahasiswa hukum, karena apa yang diajarkan di ruang-ruang kelas bertentangan dengan realita penegakan hukum yang terjadi. Das sollen tidak sesuai dengan das sein. Tidak sedikit dari kami bertanya-tanya, untuk apa kami belajar hukum. Karena pada prakteknya, apa yang kami pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam kenyataan. Hukum di Indonesia sudah sedemikian mengkhawatirkannya.

Memang tidak mudah jadi mahasiswa hukum. Apalagi di Indonesia, dimana hukum sudah tidak dipercaya.

Tidak terhitung beberapa kali aku dalam perjalanan, seketika ditatap dengan wajah tidak ramah, ketika aku mengaku sebagai mahasiswa jurusan Hukum. Tatapan sinis itu disusul dengan racauan kemarahan entah ditujukan untuk siapa. Mengutuk penegakan hukum di Indonesia yang sedemikian bobroknya. Aku yang mendengarnya hanya bisa menunduk dalam-dalam. Mungkin tidak semua orang mengerti bahwa aku dan teman-temanku mempelajari hukum bukan untuk menjadi bagian dari penegakan hukum yang menyimpang. Kami belajar, agar kami tidak mudah dibodohi seperti orang-orang lain yang tidak mengerti hukum. Agar kami dapat meneriakkan keadilan ketika kami tahu hukum dipermainkan. Untuk itu kami menjadi mahasiswa hukum. Namun aku mencoba memaklumi, karena mereka pun geram dan prihatin dengan penegakan hukum di Indonesia yang asal-asalan. Seperti kami.

Memang tidak jarang muncul keinginan untuk menyerah. Menyerah saja pada keadaan penegakan hukum di Indonesia. Dan mulai realistis untuk mencari profesi lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, begitu besar harga yang dibayar untuk masuk ke dunia hukum. Pilihan pertama adalah menjadi terseret dalam sistem penegakan hukum yang buruk, ikut menjadi penegak hukum yang sewenang-wenang dan tidak adil. Ganjarannya adalah neraka, bila kamu percaya Tuhan itu ada. Pilihan kedua adalah menjadi penegak hukum yang bersih dan berintegritas, walau ganjarannya adalah gaji yang tidak seberapa, atau terkadang ancaman terhadap keluarga dan nyawa. Tentu saja, manusia yang rasional lebih memilih untuk tidak masuk dunia hukum daripada dihadapkan pada dilema seberat itu.

Namun tahukan kawan? Apabila semua orang bersih dan jujur menolak untuk masuk ke dunia hukum yang kotor, maka dunia penegakan hukum akan terus diisi oleh orang-orang yang tidak jujur dan tidak kompeten. Maka suka atau tidak, pilihannya adalah masuk ke dunia hukum dan menjadi bagian dari perubahan sistem.

Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku, Muthi dan Camila, merenung dalam. Berkeluh kesah tentang masa depan dunia hukum di Indonesia. Dan masa depan kami, mahasiswa hukum yang insya Allah suatu saat akan menjadi Juris atau penegak hukum di Indonesia.

“Kalian kebayang nggak sih, putusan Hakim Sarpin ini menghancurkan harapan mahasiswa-mahasiswa yang mau membangun hukum. Di otak mereka sekarang pasti muncul pikiran, ‘Astaga, gue kecil banget dibandingkan dengan orang-orang yang mau membunuh keadilan.’” Camila, satu dari sedikit mahasiswa FHUI di angkatanku yang bercita-cita menjadi hakim, menyuarakan kegalauannya. “Nggak kebayang, gue harus sekuat apa ketika gue jadi hakim kelak. Suami gue harus super kuat untuk menopang gue yang sebenarnya sok kuat ini. Gue diteror dikit pasti nangis...”

“Gue jadi inget cerita Ibunya Ishmah yang advokat di PAHAM.. beliau pernah cerita ke gue bahwa dia lagi insecure dan terus memantau anak-anaknya. Soalnya keluarganya diancam sama orang yang dia kalahkan di pengadilan.” Aku menghela nafas. “Emang kayaknya jalan hidup penegak hukum akan seperti itu. Tapi insya Allah berkah.”

“Ibunya Ishmah tau banget pasti, dunia hukum ini ladang jihad yang besar. Makanya dia tetap stay di sana. Someday, kita semua yang akan ada di posisi seperti itu, guys..” ucap Camila. “Di tempat dimana kita bisa berjuang, dengan cara masing-masing..”

“Karena kasus ini gue justru jadi semangat untuk masuk pemerintahan. Karena kita perlu seseorang yang memperbaiki hukum dari dalam sistemnya.” Muthi, sahabatku yang bercita-cita menjadi politisi memiliki perspektif lain. Dia bertekad untuk menjadi anggota DPR agar hukum-hukum yang dibuat legislatif tidak lagi sewenang-wenang. “Insya Allah gue akan masuk pemerintahan atau parlemen.”

Aku yang memang lebih tertarik pada dunia pendidikan memiliki cita-cita berbeda. “Gue udah punya visi masa depan.. gue akan bikin buku atau tutorial pelajaran law for dummies. Supaya orang-orang paham tentang hukum dan nggak gampang dibodohin penegak hukum yang ngaco.” 

Kami bertiga terdiam, mengaminkan cita-cita itu dengan kesungguhan. Berharap di masa depan kami bisa menjadi juris yang jujur. Tidak seperti penegak hukum yang telah banyak mengecewakan kami.

“Di umur sekarang, kita bertiga cuma saling mengingatkan di hal-hal ‘remeh’ seperti jaga hati dan jaga diri.. Di masa depan, materi ‘saling mengingatkan’ kita akan naik level. Untuk nggak keluar dari jalan perjuangan, dan tetap membela yang benar.” Camila membuatku tertegun. “Karena ketika kita udah berprofesi nanti, godaan juga akan semakin besar.”

Kami terdiam cukup lama. Meresapi kata-kata itu di benak masing-masing. Membuat janji dan cita-cita, yang kami tahu sangat berat, namun akan berusaha kami tepati. Menjadi jurist yang bersih dan jujur. Menjadi Muslim Jurist, jurist yang selalu membawa nilai-nilai Islam dalam dunia hukum kelak. Dan untuk menjadi sahabat yang saling mengingatkan dalam perjuangan menegakkan hukum di Indonesia.

Semoga.


Tulisan ini dibuat dengan segala kecemasan dan harap yang berkecamuk di hati. Ya Allah, lindungi Indonesia. Dan mudahkan jalan kami untuk menjadi pembangun peradaban Indonesia.

Rabu, 11 Februari 2015

Rumah Putih Besar Part 3


“Kalian ngapain sih di sana? Malam-malam pergi dari rumah, nggak bilang-bilang ke Ayah dan Ibu, terus malah menyelinap ke rumah kosong. Kalian tau nggak betapa khawatirnya Ibu pas Pak Usep bilang kalian menjerit dari rumah kosong?”

Suasana di meja makan pagi ini terasa sedikit suram. Ibu dan Ayah masih mengomel karena kejadian semalam, sementara aku dan Rara tidak berani membela diri. Kejadian semalam masih membekas di pikiran kami. Pak Usep, satpam komplek yang kebetulan lewat, mendengar jeritan kami dan bergegas menerobos rumah kosong itu. Menarik kami yang masih menggigil ketakutan, tak mampu bergerak di ruang bawah tanah rumah putih besar itu. Untung saja jeritan kami belum membuat ricuh satu komplek. Pak Usep mengantarkan kami pulang, sambil mengomel karena kami nekat malam-malam menerobos rumah kosong.

“Cuma.. Cuma penasaran kok bu..” Aku menjawab takut-takut. Bagaimanapun, aku yang bertanggungjawab karena telah mengajak Riri.

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan di rumah bekas keluarga Matteo?” kali ini Ayah yang bersuara.
“Keluarga Matteo?” Aku dan Rara berpandangan.

“Ayah, sebenarnya rumah itu... rumah itu kenapa?” Rara tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Rara lihat, di rumah itu ada bekas-bekas darah.. dan berantakan.. seperti habis ada perkelahian, atau perampokan.”

Gantian Ayah dan Ibu berpandangan. Sepertinya mereka sedang menimbang-nimbang. Ibu menghela nafas, kemudian mengangguk kecil kepada Ayah, seperti mempersilahkan.

*** 

Malam yang cerah, tidak ada tanda-tanda akan terjadi suatu peristiwa mencekam di rumah keluarga Matteo. Seperti malam-malam sebelumnya, Tuan Matteo berkumpul di ruang makan bersama Tatiana, istrinya dan Adelia, Adriana, dan Agnes, anak perempuannya yang cantik-cantik. Nyonya Tatiana sudah menyiapkan Lasagna, masakan andalannya yang merupakan kegemaran Tuan Matteo. Gelak tawa bahagia menambah keceriaan malam itu. Kebahagiaan mereka bertambah tatkala mendengar kabar bahwa Tuan Matteo baru saja ditugaskan oleh atasannya untuk mutasi kerja ke Italia. Itu artinya, mereka akhirnya akan kembali ke negara asal setelah sekian lama mereka tinggal di Indonesia.

Suara bel berbunyi. Serentak mereka menoleh ke arah ruang tamu.
“Papa, sepertinya ada tamu.” Agnes, anak bungsu mereka yang berumur 7 tahun, menunjuk ke arah pintu masuk.
“Aneh. Papa tidak ingat ada janji dengan orang.” Tuan Matteo mengerutkan keningnya.
“Biar Mama yang membukakan.” Dengan sigap Nyonya Tatiana bangkit dari duduknya. Ia sempat mengelap dengan sayang saus Lasagna yang masih tercecer di dagu Agnes, sebelum berlalu menuju pintu depan.
“Jadi, kita kembali ke Italia bulan depan? Horee! Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan nenek.” Senyum bahagia muncul di wajah Adelia.
Tuan Matteo tersenyum sambil mengangguk.

“Kyaaaa...!”
Terdengar suara jeritan tertahan dari ruang tamu, disusul suara ambruk. Serentak keluarga Matteo menghentikan aktivitas mereka di meja makan. Mereka melongok ke ruang tamu dengan ketakutan.

Apa yang terjadi selanjutnya sulit dibayangkan. Tiga orang berpakaian hitam dan bertopeng masuk menerobos ruang makan dengan membawa senjata tajam. Tuan Matteo, yang maju dan berusaha melindungi putri-putrinya, diserang terlebih dahulu dan tewas dengan kepala terpenggal. Sementara Tatiana, Adelia, Adriana, dan Agnes diseret ke ruang bawah tanah rumah mereka. Mereka diperkosa secara bergantian.  Setelah puas melampiaskan nafsu bejat mereka, kawanan perampok itu memenggal kepala mereka satu persatu dengan menggunakan pedang koleksi Tuan Matteo yang tersimpan di ruang bawah tanah. Kawanan perampok itu meninggalkan rumah keluarga Matteo dengan membawa seluruh harta mereka. Meninggalkan rumah keluarga Matteo dalam kondisi yang tragis.

***

“..sejak saat itu, tidak ada yang berani mendekati rumah keluarga Matteo. Rumah itu dibiarkan terlantar, dalam kondisi sama persis ketika mereka dirampok. Sudah dua tahun berlalu, sampai sekarang bahkan pemilik komplek ini pun tidak bisa menjual rumah bekas keluarga Matteo ke siapapun. Tentu saja, tidak ada yang mau membeli rumah tempat terjadi perampokan sadis.”

Ayah menatap aku dan Rara yang sedari tadi menahan nafas mendengar ceritanya, “Perampokan itu terjadi persis sebulan setelah kita tinggal di komplek ini. Ingat tidak? Seminggu sebelum hari ulang tahun kalian. Maka dari itu, Ayah dan Ibu selalu melarang kalian untuk bermain di sekitar rumah itu. Ayah dan Ibu khawatir.”

Rara menyikut pinggangku, takjub. “Siapa sangka Ri, rumah itu menyimpan cerita yang sangat seram? Kalau aku udah dengar cerita itu sebelumnya, biar dibayar juga aku nggak akan mau deh ke sana malam-malam.” Kata Rara setengah ngedumel.
Aku hanya mengangguk, masih bingung.

“Ayah.. Riri mau tanya..” aku ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Apakah keluarga Matteo punya anak laki-laki?”
Ayah terlihat terkejut. “Setau ayah tidak, kenapa Ri?”
“Tidak punya? Tapi... aneh..” Tentu saja, aku tidak berani menceritakan isi mimpiku kepada Ayah dan Ibu. Bisa-bisa mereka menganggapku gila, berkhayal mengenai rumah keluarga Matteo tempat tragedi itu terjadi.

Lalu siapa sebenarnya Carlo?