Selasa, 01 April 2014

Menentukan Arah

Insya Allah:
2015 lulus kuliah
2015-2017 Kerja
2017 S2 ke Eropa atau Jepang

Halo blog yang sudah lama tidak kusapa, boleh aku sejenak bercerita?

Sejak kecil, keluarga besarku selalu menetapkan segala sesuatu dengan parameter "standar"
Harus berprestasi di kelas, tapi ga perlu lah itu juara Olimpiade atau ikut kompetisi segala macam
Harus masuk sekolah negeri, tapi nggak perlu lah jauh-jauh, yang deket rumah aja
Harus masuk UI, tapi ga perlu lah itu ikut organisasi sampai pulang malem dll

Ya, aku sejak kecil dididik untuk mengikuti alur hidup manusia normal: Sekolah-Kuliah-Lulus-Kerja-Nikah. Tanpa ada pencapaian atau gebrakan yang bisa membuat diri berkembang. Aku sesungguhnya membenci kondisi ini, namun kuakui memang ada beberapa faktor yang pada akhirnya membuatku merasa seolah terhambat untuk berkembang.
Namun, pertemuanku dengan kawan-kawan yang menginspirasiku perlahan-lahan mengubah itu semua. Aku tidak mau menjadi robot yang mengikuti arus hidup "normal", harus ada jejak yang membedakanku dengan robot-robot ciptaan orangtua itu.
Usiaku sekarang 21 tahun hampir 22, memasuki tahun-tahun terakhir kuliah. Sudah terlalu tua untuk mengikuti organisasi atau menciptakan prestasi, pikirku dulu.
Namun, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan yang menggugah di http://ceritadarikotahujan.wordpress.com/2012/12/30/catatan-akhir-tahun-2012/
Tulisan ini menyadarkanku, bahwa setiap orang akan menemukan titik balik dalam kehidupannya masing-masing. Setiap orang bisa mencapai impiannya selama ia berani untuk memimpikannya.
Aku, yang biasa memiliki target "standar" pun memberanikan diri untuk bermimpi. Ya, aku yang bahasa inggris saja tidak lancar ini memasang satu target baru (yang sebelumnya kupikir mustahil): aku ingin menempuh S2 di Eropa, tidak lama setelah aku lulus kuliah S1.
Dan demi mencapai mimpiku ini, aku akan menempuh segala cara. Doakan semoga aku berhasil mengejarnya, ya :)
Belum terlambat untuk menentukan arah, bukan?

Senin, 17 Februari 2014

Dead(th)line


“Kita semua tau betapa nggak enaknya ngerasain deadline, tapi kenapa kita nggak pernah kapok jadi deadliner?” – Quote by Camila Bani Alawia

Ya, deadliner. Kebiasaan orang yang suka menunda-nunda, mengerjakan mepet tenggat waktu... lalu kelabakan sendiri. Baru-baru ini, aku mengalami deadline yang merenggut waktu dan kebebasanku, dan membuatku membatin... “Ya Allah. Ampuni segala dosa-dosa hamba. Jangan beri hamba cobaan seberat ini :’( “

Begini ceritanya...

Baru-baru ini, aku, Muthi, sama Camila iseng-iseng berhadiah mencoba ikut Lomba yang diadakan oleh Mahkamah Agung. Lomba itu menganalisis putusan-putusan MA yang pernah ada. Dan hadiahnya guedeee banget. Alhasil, banyak banget anak FHUI 2011 yang ikut lombanya. Hari-hari kita mulai diwarnai curiga dan insecure. Setiap kali ngeliat ada anak-anak yang lagi berkumpul dan mengerjakan sesuatu, di otak terbayang perasaan was-was: “Mereka saingan! Kita harus berhati-hati.”

FYI, motivasi kita bertiga untuk mengikuti lomba ini berbeda-beda namun tetap satu:
-                 Mau upgrading diri
-                 Mencoba produktif
-                 Hadiahnya besar, lumayan
-                 Mau menyibukkan diri dengan kegiatan, daripada galau mikirin yang orang yang nggak seharusnya dipikirin *curcol*
-                 Mau membuat seseorang merasa menyesal karena telah meninggalkannya *lahh ini apa?*
Note: Satu orang bisa memiliki 3 alasan sekaligus

Setelah diwarnai perdebatan seru, kita mulai mengerjakan lombanya. Kita mulai ngerancang ini dari jaman liburan, kira2 ada sebulan sebelum deadline. Nyatanya? Ngerjainnya mepet-mepet deadline juga sih *merunduk malu*
Oh iya, selain lomba ini, gue sama camila juga ikut lomba lain namun dengan kelompok yg berbeda. Gue sama Adlul Ghaida, Camila sama Mbak Rana dan Mbak Gusva. Dan bayangkan saudara-saudara, dua lomba ini memiliki deadline yang cuma berbeda satu hari. Kalau dipikir-pikir nekat juga ya kita, berani mengambil dua lomba yang deadlinenya deketan. Tau sendiri orang Indonesia deadliner.

Alhasil, selama dua hari kemarin, Iffah begadang di kampus sampai malem dan nginep di rumah Camila. Kira-kira beginilah kronologis kejadian yang merenggut kebebasanku...

Jum’at
Pukul 23.59 adalah deadline essay buat penyisihan olimpiade. Pukul 16.00, Iffah masih ngotak-ngatik essay. Nunggu bahan dari Ghaida sama adlul. Nggak tahu topik essay mau dibawa kemana.
Pukul 18.00, Iffah bertemu kak Jihan. Lalu sempat labil untuk mengganti topik essay. Sayang deadline tidak memungkinkan.
Pukul 19.00, Iffah berkumpul dengan Camila dan Muthi di lobby untuk lomba putusan. Otak masih berusaha berfokus, pindah dari topik ekonomi syariah ke hukum perusahaan. Diskusi hebat, selesai pukul 22.00
Pukul 22.00 malam pulang ke rumah Camilla. Nunggu bahan essay dari adlul. Belum dikirim. Agak-agak hopeless
Pukul 23.40 Adlul mengirimkan bahan. Iffah berusaha mengcompile dengan sekuat tenaga
Pukul 23.59, Yahoo lemot. INNALILLAHI (part 1)

Sabtu
Pukul 00.02, essay baru terkirim.
Setelah hopeless bahwa essay nggak akan diterima, mendadak aku teringat bahwa ada cobaan lebih besar yang sedang menanti. Ya, deadline putusan hari ini.
Pukul 08.00, dapat konfirmasi dari panitia bahwa soal babak penyisihan olimpiade udah dikirim. Waktu deadline pengumpulan soal jam 21.00. Seneng karena essay diterima, insecure karena nanti malam adalah deadline putusan.
Lupa pukul berapa, ngerjain soal penyisihan olimpiade bareng Adlul Ghaida di kampus sampai jam 6. Memutuskan untuk multitasking ngerjain soal olim karena harus ngumpul bareng Muthi Camila
Pukul 19.00, makan dulu. Masih santai.
Pukul 20.00, masih bisa ketawa-tawa. Mushola Alfath kita jadikan basecamp
Pukul 20.40, baru inget bahwa deadline soal Olim jam 9. Kirain jam 23.59. Mengebut mengerjakan soal.
Pukul 20.59, soal olimp sent.
Pukul 21.30, masih tertawa-tawa, tapi tawa sudah berganti dengan tawa stress. Camila sama Muthi bajak-bajakan di facebook
Pukul 22.00, mulai panik
Pukul 23.30, mulai berantem
Pukul 23.40, listrik di FH mati termasuk wi-fi. INNALILLAHI (part 2)
Pukul 23.50, panik menjalar. Nggak ada wi-fi, akhirnya tethering dari HP camila.
Pukul 23.55, batre laptop camila yang menyimpan semua berkas udah low. Dan listrik masih mati. INNALILLAHI (part 3)
Pukul 23.58, berhasil mengejar deadline. Sent.

Hikmah dari semua ini, aku belajar: Deadliner adalah salah satu kebiasaan yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, jadi deadliner nggak Cuma ngerugiin diri sendiri, tapi bisa ngerugiin banyak orang, apalagi kalau kamu bekerja dalam tim.
Intinya satu: Jangan sampe jadi deadliner lagi, faaah!

Eh, btw belum ngerjain tugas filhum buat dikumpul besok nih. Udah dulu yaa *plaaak*
Sekian dan terima kasih,
Wassalamualaikum wr. wb

Minggu, 02 Februari 2014

Comeback!

Assalamualaikum...

Halo dunia blogger! Here we go, Iffah kembali! *peluk*

Agak-agak miris melihat postingan terakhir gue di blog ini, terakhir ngepost Maret 2013. *Digeplak sama blog kesayangan*. Oke, beberapa waktu yang lalu, gue memang sempat beralih ke situs mikro-blogging populer yaitu Tumblr yang memang lagi eksis-eksisnya. Salah satu keuntungan Tumblr dibandingkan Blogspot: kita bisa nge-reblog postingan orang lain, istilahnya ngeRetweet kalau di dunia Twitter. Tapi sayangnya, fitur itulah yang membuat gue malas untuk menulis di Tumblr. Bukan apa-apa, kalau menemukan tulisan bagus punya orang lain, bawaannya mau nge-reblog terus. Sampai-sampai suatu hari gue menyadari, postingan di Tumblr gue yang mencapai 143 postingan itu sebagian besar nge-reblog tulisan orang lain, bukan tulisan gue sendiri. Ya, gue mengalami kemandekan dalam berkreativitas. Kenapa? Sebab, gue keburu minder melihat tulisan orang-orang keren di Tumblr, sebut saja Kak Muhammad Akhyar, Kak Azhar Nurun Ala, Okti, Fara, dan beberapa teman lain yang gue follow di Tumblr. Akibatnya, gue nggak jadi ngepost tulisan yang gue buat di Tumblr, sebab gue sadar kualitas tulisan gue jauuh di bawah mereka. Malu-maluin, pikir gue saat itu.

Namun, gue lupa tujuan gue sebenarnya untuk ngeblog. Gue membuat blog untuk menulis apa yang ingin gue tulis, bukan untuk menulis apa yang ingin orang-orang baca. Pikiran salah kaprah yang selama ini gue anut membuat kebanyakan tulisan gue berakhir hanya menjadi draft. Draft. Draft. Draft. Padahal, sejelek apapun tulisan yang kita buat, tulisan itu tetaplah karya orisinal kita. Menulis karena ingin menulis apa yang ingin orang-orang baca, pada akhirnya membuat tulisan kita menjadi kehilangan jiwa. Padahal, bagi gue, menulis adalah ungkapan perasaan.

Oleh karena ituu, gue memutuskan untuk kembali ngeblog aja. Lebih privat, dan gue tidak perlu khawatir terpengaruh dengan tulisan orang-orang lain karena gue nggak terlalu banyak mengikuti blog orang, berbeda dengan Tumblr gue. Mulai hari ini, Iffah berjanji akan mulai menulis lagi!

Tahun 2013 adalah tahun yang..... buat gue. Segala macam peristiwa gue alami.

Gue jadi BPH BEM di Fakultas Hukum, yang lumayan menguras waktu dan perhatian. Anyway, gue menjadi Wakil Kepala di Departemen Pendidikan dan Keilmuan, yang lumayan memberi banyak pengalaman. Gue kenal sama orang-orang keren se-UI. Intinya, gue belajar banyaak banget tentang amanah.

Kuliah gue di tahun 2013, terutama di Semester 5 (yang terasa seperti neraka) mengingatkan gue bahwa kuliah itu serius, bukan untuk main-main. Nilai-nilai gue yang lempeng (nggak jelek, tapi nggak bagus juga sih) mengingatkan gue bahwa usaha berbanding lurus dengan hasil. Nggak ada lagi tuh cerita belajar seenaknya lantas dapat nilai-nilai bagus seperti semester-semester sebelumnya. Yaah, pokoknya, ini menjadi cambuk buat gue agar lebih meningkatkan effort untuk mendapat nilai bagus. Apalagi, gue udah berjanji sama Nana, kakak gue, untuk menjadi salah satu wisudawan cumlaude (Amiiin ya Allah. Masih ngarep loh :"). 

Masalah cinta.. (mari kita skip bagian ini. Sepakat? Okesip)

Di tahun 2013, gue juga untuk pertama kalinya mencoba belajar politik dengan menjadi Tim Sukses 
pemenangan salah satu temen gue, Andi.Walaupun pada akhirnya Andi nggak menang (kalah 32 suara, FYI yang menang itu sahabat gue juga, Fara jadi Wakabem FH. Jadi ga nyesek2 amat sih kikiki), gue belajar banyaaak banget dari tim pemenangan Melangkah Nyata. Yup, seperti kata pepatah, nggak ada sesuatu yang sia-sia. Gue belajar banyak walaupun dampaknya adalah waktu tidur gue hancur-hancuran di semester 5. (Mungkin gue akan ceritakan pengalaman itu di postingan selanjutnya :)).

Oh iya, keluarga gue juga mendapat sebuah anugerah luarbiasa di tahun 2013. Yup, kakak gue melahirkan seorang anak yang lucu dan cantik bernama Meyna Alika Wrestimurti. Mungkin di postingan lain, gue akan berbagi foto-foto si anak lucu berpipi tembem. Yup, Alika mewarisi pipi tembem dan kulit putih dari Mama-Papanya. Walau begitu, gue suka mengaku-ngaku Alika mirip gue karena dia terlahir dengan sepasang alis yang bagus, dagunya belah, dan memiliki lesung pipi (tolong yang baca jangan muntah). Di sela-sela Badai Bulan November alias bulan Pemilu, gue selalu menyempatkan menjenguk Alika sepulang kampus, di tengah kelelahan gue. Melihat wajah Alika selalu memberikan energi baru buat gue untuk menghadapi matahari esok pagi (agak hiperbola ya).

Honestly, 2013 menjadi tahun yang berat buat gue. Banyak tangis. Ada kecewa. Ada marah. Ada janji. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada banyak kejadian yang memberi tamparan dan cambukan. Namun, ada yang selalu ada dalam setiap kejadian di tahun 2013: Hikmah.

Semoga, kejadian-kejadian di 2013 membuat gue menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sekian saja mungkin postingan dari gue, gue akan posting cerita-cerita selanjutnya. See ya! :)

Jumat, 29 Maret 2013

Rabithah



“Ketika kau merasa dikecewakan atau disakiti oleh sahabatmu,

sampai pada satu titik kau ingin meninggalkannya;

memutus tali silaturahmi dengannya,

coba pikirkan ini:

Mungkin, sudah sejak lama ia juga merasa banyak dikecewakan dan tersakiti dengan sikapmu.

Namun, ia memilih untuk tetap bertahan;

ia memilih untuk tetap disisimu, menemanimu.”

-Anonymous



Aku pernah berkata, sahabat adalah jodoh yang dipilihkan Allah untuk kita. Baru kusadari, sama halnya dengan cinta, persahabatan adalah sesuatu yang tidak akan didapatkan dengan mudahnya. Perlu perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan untuk mempertahankan persahabatan karena begitu banyak cobaannya. 


Ada hari-hari ketika kita bercanda tawa, seolah hidup tanpa beban. Ada hari-hari dimana kita saling menyemangati satu sama lain walaupun jalan kita masing-masing berbeda. Ada suatu hari dimana kita saling beradu argumen, berdiri angkuh diatas ego yang tidak mau kalah. Ada malam-malam ketika kita mengelus dada, dengan airmata yang menetes, menahan sabar yang terasa semakin berat.

Namun, selalu ada doa rabithah yang terucap, terkirim ke langit. Berharap ikatan ini bisa terus dieratkan oleh-Nya.



Ada rahasia-rahasia yang tidak pernah diungkapkan satu sama lain. Ada prasangka yang tidak pernah dipastikan kebenarannya. Ada kecewa di hati yang tidak terucapkan, dipendam saja. Tidak pernah diungkapkan, namun semakin lama semakin menumpuk. Banyak orang yang berprasangka buruk kepada sahabatnya, tapi tidak pernah mau memastikan kebenarannya. Namun, apa kabar nurani kita, jika berprasangka sedemikian buruk kepada sahabat kita sendiri? Banyak orang yang ketika disakiti oleh sahabatnya, menolak mengungkapkannya terus terang, dengan alasan tidak mau menyakiti sahabatnya. Namun, sahabat macam apa kita, jika kita mengetahui sahabat kita melakukan kesalahan tetapi membiarkannya saja?

Sesulit itukah mencoba jujur, bahkan kepada sahabat kita sendiri?


The moment of truth... Does that always hurt?



Lalu, dalam kebimbangan seperti ini, marilah kita kembali kepada niat. Apa niat kita untuk membangun persahabatan ini? Jika kita membangun persahabatan hanya untuk keuntungan sendiri, lupakan sajalah. Persahabatan tidak berjalan satu arah, harus selalu ada take and give. Walaupun seringkali ada saja yang harus ikhlas karena ia selalu memberi namun tidak pernah menerima. Jika kita membangun persahabatan hanya untuk bersenang-senang, dan memilih untuk pergi tak tahu diri ketika sahabat kita dalam kesulitan, lupakan sajalah. Namun jika kita membangun persahabatan dengan niat ikhlas, untuk saling menguatkan, untuk saling berjuang bersama menyebarkan kebaikan, aku yakin persahabatan ini akan diridhai Allah sebagai persahabatan dunia-akhirat. Aku yakin kita akan terus kembali bersama, sejauh apapun kita melangkah.



Ada kecewa, ada sakit hati, ada prasangka, ada dendam, ada tangis. Namun, akan selalu ada Cinta, Doa, Kesabaran, Harapan, Kesetiaan, Perjuangan, Janji, dan Keterikatan untuk selalu bersama di jalan ini.

Semoga.


"Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Ya Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Ya Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka."
-Doa Rabithah- 



Senin, 11 Maret 2013

Kembali

Hari ini, kuberanikan jemari ini menulis lagi. Walaupun sesungguhnya jari-jariku menggantung ragu-ragu di atas tuts keyboard Laptop Putih-ku, mencari kata demi kata yang kurasa pas untuk mengungkapkan isi hati ini.
Aku kehilangan. Aku kehilangan "warna" yang kumiliki sebelumnya. Aku memudar. Aku bukan lagi aku. Mengapa? Ah, tidak mau aku menyalahkan siapapun, mungkin orang yang paling tepat untuk kusalahkan adalah aku sendiri.
Waktu, begitu cepat berlalu. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang berubah. Dan aku malah bergelung nyaman di Comfort Zone, dengan bodohnya menolak keluar. Kebodohan yang membuatku tidak bisa berkembang. Belajar dan bergaul dengan yang itu-itu saja, mempersempit ruang gerakku. Aku yang dulu tidak begini...

Ada satu kisah tentang harapan, satu pengharapan yang tidak kunjung usai. Melelahkan, menyita banyak waktu, menghabiskan sebagian besar ruang di kepala dan di hati. Aku lelah memikirkannya terus menerus, dan pada akhirnya aku sampai pada satu titik dimana aku memutuskan untuk melupakannya. Ya, masih banyak mimpi yang harus kukejar, dan kau tidak termasuk diantaranya.
 

Pada akhirnya, aku sudah tahu kemana seharusnya aku kembali. Hanya kepada Allah tempatku harus mengadu, ketika dunia terasa demikian sesak bagiku. Ketika semua mimpi terasa goyah. Ketika semua pekerjaan yang kucintai, yang seharusnya menyenangkan malah serasa memberikan tekanan. Harusnya aku tahu, ada yang salah dengan hatiku. Benarlah kata pepatah, "Ketika Hati rusak, rusaklah seluruh tubuh manusia". Benarlah kata pepatah, "Ilmu adalah Cahaya, dan Cahaya Allah tidak akan menghampiri orang yang bermaksiat". Ketika ada yang salah dengan niatku, dengan pikiranku, aku bukan lagi aku.
Ya Allah, aku ingin kembali seperti dulu. Menjadi hamba-Mu yang berpikiran lurus, tidak terganggu masalah politik atau apapun. Ketika hanya ada satu hal yang kucintai di dunia ini: belajar dan terus belajar.
Dan yang terpenting, aku ingin kembali kepada Mu....

Senin, 28 Januari 2013

Pucil



Assalamualaikum Jekardaaah! *ala artis mancanegara*

Kali ini, aku akan menceritakan kisah pertemuanku dengan Pucil. Jeng jeng jeng.
Ketika Aqua (netbook lamaku) pergi (alias rusak), aku kelimpungan mencari penggantinya karena dompet tipis. Sejak hari itu hari-hariku menjadi hampa karena tidak bisa melaksanakan kegiatan favoritku yaitu menulis. Setiap saat aku menulis colongan lewat notes ataupun notes di HP. Sadar bahwa aku benar-benar butuh laptop, aku menunggu sampai uang bulanan dan beasiswaku turun, sibuk browsing-browsing harga laptop yang kubutuhkan tapi harganya terjangkau. Tadinya aku mau ke Glodok supaya dapat laptop harga miring, namun temanku Haris menyarankan untuk mencarinya di sekitar kampus Gunadarma Kelapa Dua yang harganya nggak kalah murah. Akhirnya setelah sekian lama mengitari toko-toko di Kelapa Dua bersama Haris, hatiku dan pilihanku (ehem) jatuh kepada sebuah laptop Asus Eee PC 1025C berwarna putih. Aku menamainya Pucil, singkatan dari... Putih dan Kecil. Nggak kreatif ya?

Pucil, mulai sekarang kamu akan menemani langkahku. Muah.

Lupa


Kusadari, aku memang orang yang pelupa.
Mulai dari hal-hal kecil, seperti lupa dimana aku meletakkan buku-bukuku, lupa hari atau tanggal penting, sampai hal-hal besar seperti melupakan orang yang pernah singgah di hidupku.
Aku sadar, mungkin sebagian besar lupa yang kualami karena kusengaja. Ya, aku sengaja melupakan. Aku tidak ingin mengingat hal-hal pahit yang sudah berlalu. Aku tidak ingin mengingat sakit yang pernah muncul di hati, takut ia mewujud jadi dendam. Aku memilih untuk berpura-pura semua rasa menyakitkan itu tidak pernah ada, sampai aku benar-benar lupa terhadap semua sakit yang pernah kurasa. Sampai aku merasa bahwa semua perasaan itu sesungguhnya tidak pernah terlintas.
Namun, sampailah aku pada satu titik dimana kupikir melupakan itu akan menghilangkan satu bagian dari mozaik hidupku. Dan membuat hidupku tidak lengkap karena bagian-bagian yang hilang. Ada yang kurang.
Ya, kenangan itu memang terkadang pahit, tapi darinya lah kita berguru. Seharusnya kita tidak takut mengingat, bukan malah memilih untuk menjadi seorang pelupa.
Aku tidak mau jadi orang yang pelupa, lagi.