Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Inggris (2)


Program camp di Kampung Inggris setiap malam menurutku lumayan seru. Hari selasa, tiga orang speaker wajib presentasi di camp masing-masing. Topiknya bebas, yang penting dalam bahasa Inggris. Rabu, kita berkumpul di camp pusat, gabung laki-laki dan perempuan, untuk debat. Selain debat, hari rabu adalah hari hukuman buat pelanggar aturan terbanyak di camp. Yang melanggar wajib speaking, dan harus di depan gerombolan camp lawan jenisnya. Pelanggar terbesar wajib speaking di tengah-tengah aula dengan microphone. Hari kamis adalah hari wajib baca yasin, dan salah satu murid dipilih untuk pidato dalam bahasa Indonesia di depan teman-teman.
Aku selalu bersemangat mengikuti semua program camp, hitung-hitung sambil belajar. Alhamdulillah selama di pare, ada aja kesempatan untuk mencoba semua program camp. Aku kebagian tugas presentasi hari selasa, dalam dua kali sesi debate pun aku menjadi speaker. Di dalam beberapa kesempatan, aku mencoba jadi peserta yang paling aktif dan menonjol, walaupun bahasa inggris masih belepotan. Soalnya kupikir, udah jauh-jauh ke Pare, sayang banget kalau aku nggak memanfaatkan setiap kesempatan sebaik-baiknya, apalagi waktu yang kupunya cuma dua minggu. Yah, sejujurnya nggak semua speech atau debate yang kujalani berjalan sukses, tapi at least aku sudah berani mencoba :)
Camila dan beberapa anak di camp mendapat tugas sebagai Miss Punishment. Tugasnya, mencatat setiap pelanggaran bahasa yang dilakukan oleh anak-anak, dan menuliskannya di papan punishment beserta jumlah denda-nya. Yang membuatku terkadang terheran-heran, nominal denda-ku di papan punishment setiap hari bertambah. Kok mereka tau ya kalau aku diam-diam suka ngobrol pake bahasa Indonesia?
Apa Camila yang ngelaporin? Huahahaha tidaak mungkiin. Soalnya, aku biasanya seenaknya ngobrol bahasa Indonesia di kamar bareng Camila dan Liv. Dengan pintu tertutup tentunya, takut Miss Punishment yang lain denger. Kita berdua sudah kongkalingkong, Camila nggak akan melaporkan aku dan aku nggak akan melaporkan Camila (nepotisme ceritanya, hahaha). Buat Camila, ancaman itu lebih menakutkan karena jika Miss Punishment melanggar, denda mereka dua kali lipat.
Hari demi hari, tumpukan denda kita semakin bertambah. Iya, karena mungkin banyak yang nge-gap kita ngobrol pakai bahasa Indonesia. Puncaknya di Rabu berikutnya, aku, Camila, dan Liv terpilih jadi terhukum yang wajib speaking saat agenda camp bersama.
Aku dibawa oleh mentor camp ke sebuah sudut, dan ia menyuruhku speech di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok. Mereka menyorakiku, mungkin kegirangan ada bahan untuk diledekin. Perasaan grogi merambatiku, maklum aja, speaking di depan cewek aja terkadang aku masih grogi, apalagi di depan gerombolan cowok-cowok yang memasang wajah iseng ini.
Aku mulai membuka mulut, memaparkan speech-ku yang berisi kampanye untuk tidak Golput dalam pemilihan presiden. Dalam bahasa Inggris, tentunya. Muka-muka iseng tadi berubah menjadi bengong, setengah menganga.
Rasain, nggak ngerti kan gue ngomong apa. Makanya jangan main-main sama anak hukum. Batinku.
Setelah speech, berlangsung tanya jawab antara aku dan audiens-ku. Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan kosakata yang masih pas-pas-an. Setelah selesai, buru-buru aku hengkang dari hadapan mereka sebelum diledekin lagi.
Selama di Pare, aku, Camila, dan Liv memutuskan untuk menjadi anak yang ambisius. Ya iyalah, Cuma dua minggu ini, nanggung kalau nggak ambi, pikirku. Setiap malam setelah selesai acara camp, kita mencari cafe-cafe untuk latihan soal-soal TOEFL sambil makan malam. Begitu juga di setiap waktu luang, kita menyempatkan untuk belajar bersama. Keambisiusan kita membawa hasil, setidaknya nilai TOEFL kita lumayan bagus. Aku mencapai nilai TOEFL tertinggi 600, Camila 500-an, Liv 400-an (yang sebenarnya gede banget, mengingat Liv baru lulus SMP). Kita ambi dan kita bangga!
Oh iya, ada satu hal yang sangat kucinta dari Kampung Inggris. Apa itu? Makanan di sini murah-murah banget suer nggak bohong. Suatu ketika, aku menyantap menu ayam penyet + nasi + telur + minuman, harganya Cuma sepuluh ribu. Mungkin murah atau mahal itu relatif buat semua orang, namun buatku yang tinggal di Jakarta dan biasa makan di kantin FH yang sekali makan bisa 20 ribuan, harga segitu benar-benar bikin terharu. Setiap malam, kita makan di tempat yang berbeda-beda, namun nggak ada yang menguras kantong. Jajan paling hedon aja cuma abis 15 ribu. Menu favoritku di Pare adalah ayam penyet, tempe penyet, dan telur penyet, pokoknya segala sesuatu yang dipenyet deh. Hidup makanan Pare yang murah dan enak!
Oh iya, cuaca di Pare sangat nggak enak, khususnya buat perempuan. Pertama, mataharinya terik sepanjang waktu. Jadi yang nggak mau item, sedia aja alat-alat pelindung dari matahari kayak sunblock, masker, sarung tangan, dan topi lebar. Jangan khawatir, di Pare banyak yang jual barang-barang tersebut dengan harga terjangkau. Selain itu, udaranya kering dan berpasir. Seringkali, kita cewek-cewek harus sering keramas karena rambut jadi lepek karena udara yang kering dan berpasir itu.  
Overall, selama di Pare, banyak pengalaman yang meningkatkan skill bahasa Inggris-ku. Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, “Fah, belajar bahasa Inggris di Pare ngaruh nggak sih?”, gue akan jawab, “Bagi gue, sangat ngaruh.” Setidaknya walaupun aku belajar di Pare Cuma dua minggu, atmosfir berbahasa Inggris yang dibangun berhasil membuat gue berani untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dulu, cuma ngeliat baris-baris tulisan berbahasa inggris aja aku udah alergi duluan, nggak sanggup bacanya. Sekarang, aku bahkan bisa melahap novel-novel dan buku berbahasa Inggris. Dulu, kalau denger listening bahasa Inggris atau orang bule ngomong, rasanya kayak denger orang kumur-kumur. Sekarang, aku bisa menonton puluhan series HIMYM tanpa subtitle.
Sejujurnya, masih ada satu kekuranganku, yaitu aku masih kagok speaking dalam bahasa Inggris. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan ke Kampung Inggris lagi untuk meningkatkan skill speaking-ku. Pare, wait for me! :)

Senin, 14 Juli 2014

Kampung Inggris (1)


Halo everybadeh! Aku akan bercerita pengalamanku jalan-jalan ke Jawa untuk menuntut ilmu di kampung Inggris (lebay deh padahal cuma dua minggu).
Seumur ini, aku belum bisa fasih berbicara bahasa inggris. Padahal, diam-diam (kalo diceritain kayaknya bukan diam-diam, tapi yasudahlah) aku menyimpan cita-cita untuk ambil S2 di eropa. Dan syarat beasiswa sekarang menuntut nilai TOEFL yang besar, kira-kira 550. Sementara aku sama sekali belum pernah ikut tes TOEFL dan nggak tau sebesar apa kapasitasku dalam berbahasa Inggris sekarang. Hal ini diperparah dengan tugas-tugas kuliah yang mewajibkan mahasiswa untuk mengambil referensi dari jurnal berbahasa inggris. Belum lagi ujian Kontrak Dagang dan ujian TJP full bahasa Inggris. Dengan skill bahasa inggris selevel google translate yang kumiliki, bisa kebayang nggak apa yang harus kutulis di lembar jawaban?
Sadar bahwa diri ini masih perlu banyak belajar (ciee), aku memutuskan untuk mengambil course bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal sebagai Kampung Inggris. Pare terkenal sebagai Kampung Inggris karena disana buanyaak banget tempat kursus bahasa Inggris. Jadi ibaratnya udah spesialisasi Pare sebagai tempat belajar bahasa inggris, dan konon percakapan di sana sehari-hari juga biasanya pake bahasa inggris (benarkah? We’ll see)
Awalnya, aku berencana untuk ke Pare sendiri, tapi ternyata Muthi mau ikut ke Pare lagi untuk belajar (menurutku Muthi nggak perlu belajar lagi, dia sih bahasa inggrisnya udah level dewa). Ditengah-tengah aku dan Muthi nyusun rencana untuk ke Pare, ternyata Camila juga bilang dia mau ikut ke Pare. Yippie! Three Idiots goes to Java!
Sebelumnya, Camila sama Muthi juga udah pernah ke Pare, jadi mereka tau kurang lebih ngapain aja di sana. Tapi Camila udah jelasin dari awal bahwa jangan berekspektasi terlalu tinggi untuk Kampung Inggris, soalnya Pare emang tempat orang-orang belajar. Artinya, orang yang udah jago bahasa Inggris bisa jadi akan sangat bosan di Pare karena belajarnya nggak selevel. Tapi buat aku sih nggak apa-apa kakak, berhubung my english is poor. VERY POOR.
Jadi kita susun rencana untuk ke Kampung Inggris bersama-sama, nggak sabar menanti-nanti UAS berakhir dan segera cabut ke Jawa. Tiket udah dibeli, rencananya tanggal 8 Juni kita mau naik kereta Brantas dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Kediri. Tiketnya murah banget cuma Rp55 ribu, yah itu juga yang ekonomi AC sih. Tapi nggak apa-apalah yang penting bisa sampai ke Kediri dengan cepat murah dan selamat :)
Seminggu sebelum keberangkatan, Muthi membawa berita buruk. Ternyata dia nggak bisa ikut ke Kampung Inggris karena harus nemenin belajar Nisa. Nisa, adek Muthi, akan menghadapi ujian SBMPTN dan SIMAK UI tanggal 17 dan 22 Juni. Dia butuh dukungan materil dan moriil untuk menghadapi ujian yang deketan tanggalnya, jadi Muthi sebagai kakak yang baik harus menemani Nisa. Sadar bahwa Muthi emang diperluin untuk nemenin Nisa belajar, akhirnya kita merelakan Muthi untuk nggak ikut. Rencana diubah, jadinya cuma aku dan Camila yang berangkat.
Minggu tanggal 8 Juni, aku dan Camila janjian bertemu di stasiun Pasar Senen. Muthi datang juga untuk mengantar kita berdua. Setelah dadah-dadahan, kita pun menaiki kereta Brantas jurusan Stasiun Kediri. Kereta berangkat jam 16.00 hari minggu dan sampai di Kediri jam 04.00 pagi hari seninnya. Bisa dibayangkan gimana keadaan badan kita, selama 12 jam duduk di kursi kereta yang keras itu. Turun di stasiun kediri, kita langsung sholat subuh. Di stasiun Kediri, kita bertemu banyak anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang juga mau belajar di Kampung Inggris. Di luar stasiun, sudah ada travel yang menjemput kita dari eureka. Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Pare alias Kampung Inggris! *jengjeng*
Kampung Inggris sebenarnya nggak gede-gede banget, kira-kira Cuma beberapa blok rumah-rumah warga. Tapi yang bikin Pare terkenal dengan Kampung Inggrisnya karena di setiap jalan berjejer tempat-tempat les, dari bahasa inggris, bahasa arab, sampai bahasa korea ada. Cuma mayoritas tempat les yang ada emang spesialisasinya bahasa inggris. Sebaiknya kalau mau ke Pare googling dulu tempat les apa yang bagus, karena tempat les punya spesialisasinya masing-masing bagus di bidang apa. Misalnya, untuk Speaking, tempat les yang terkenal bagus adalah Mr Bob dan Daffodil.
Sebelum berangkat ke Pare, aku dan camila udah reservasi paket di tempat les Global English. Kita pilih paket camp 2 minggu dan dua program di Global English. Aku ambil kelas TOEFL dan Speaking. Kelas Speaking di Global English ada beberapa tingkatan, mulai dari Pre-Speaking sampai Speaking 5. Untuk tahu kita akan ditempatkan di kelas yang mana, akan ada tes lisan sama tutor sebelum masuk kelas. Sementara Camila, karena emang bahasa Inggris dia lebih jago daripada aku, dia mengambil kelas TOEFL dan Job Interview. Selain di Global English, aku mengambil kelas tambahan pronounciation di Mr Bob, dan Camila mengambil kelas Writing Academic di TEST.
Habis daftar, kita tes lisan sama tutor Global English. Aku dan Camila masing-masing berhadapan dengan seorang tutor. Pertama-tama, tutor itu menanyakan hal-hal dasar tentang aku, misalnya asalnya darimana, hobinya apa, dan lain-lain. In english, off course.
“Miss Iffah, I want to asking you, what’s your opinion about death penal for corruptor?” Mister yang mewawancaraiku bertanya.
Awalnya aku terbengong-bengong, tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘Death Penal’. Setelah Mister-nya mengisyaratkan potong leher, barulah aku menangkap apa yang dia maksud.
“Well, as we know, some countries using death penal as a punishment for corruptor. For example China, and in China, that punishment can be implied effectively. But I think, we can’t use death penal for corruptor in Indonesia. Why? Because, in Indonesia, sometimes the person which is being accused as a corruptor actually isn’t an actor intelectual, but they just help the real corruptor. Or maybe, the corruptor doing corrupt because their party ask them to gathering money. Corruption is a system, someone can’t corrupt by themself. So, I think, death penal can’t be used effectively as punishment for corruptor in Indonesia.” Jawabku dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dan grammar yang berantakan.
Setelah wawancara, Mister memutuskan aku untuk mengikuti kelas Speaking 2. Alhamdulillah, bukan pre-Speaking, batinku. Lalu kami diberikan jadwal oleh petugas office Global English, dan diberikan peta yang menunjukkan letak kelas-kelas di Global English, yang letaknya tersebar di rumah-rumah penduduk. Kami juga diinformasikan bahwa camp kami terletak di Bakery Danish. Setelah itu, aku dan camila diantar dengan koper masing-masing ke camp kita. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor pusat GE. Aku dan camila sekamar dengan 2 orang lain tetanggaku, yaitu Miss Gita dan Miss Anna.
Oh iya, karena letak tempat-tempat di Pare lumayan jaraknya, untuk transportasi sehari-hari kita menggunakan sepeda. Rental sepeda ada dimana-mana, harga sewanya 80 ribu untuk sebulan. Tapi karena kita di Pare cuma 2 minggu, kita menawar harganya jadi 40 ribu. Sebagai jaminan, setiap peminjam sepeda wajib menitipkan KTPnya. Sepeda kita dikasih kunci, karena katanya sering ada yang kehilangan sepeda.
Di camp, banyak aturan yang dibuat supaya kita bisa lancar berbahasa Inggris. Di camp, kita wajib berbicara full english. Kalau ada yang ketahuan ngomong bahasa Indonesia, didenda seribu per kata. Waduh. Terus gimana kalau mau ngomong tapi nggak tau kata dalam bahasa inggrisnya? Ada magic word, kita bisa pakai kata “how to say”. Misalnya kita mau ngomong “I want take a bath.”, tapi kita nggak tahu bahasa Inggrisnya mandi. Jadi kita bisa bilang, “I want—how to say—mandi.” Nah, kata “how to say” Cuma berlaku untuk satu kata. Jadi kalo banyak kata-kata yang kita nggak tahu, kita harus ngomong “how to say” per kata. Nah loh.
Camp GE mewajibkan program camp setiap pagi dan setiap malam. Jadi, kita wajib bangun jam 4 pagi, sholat shubuh, lalu menghapalkan expression dan menyetorkan hapalan kita ke tutor di camp. Setelah kegiatan camp, kita dikasih waktu bebas untuk semua aktivitas kita termasuk kursus. Malamnya, kegiatan camp dimulai lagi jam setengah 7 sampai jam 8, lalu habis itu waktu bebas.
Kurang lebih, beginilah jadwalku sehari-hari selama di Pare:
04.00-05.30 Program Camp
05.30-07.00 Istirahat (biasanya aku mandi dan sarapan)
07.00-08.30 Speaking
08.30-11.30 TOEFL
11.30-12.30 Istirahat
12.30-14.00 Pronounciation
14.00-14.30 Istirahat
14.30-16.00 TOEFL
16.30-17.30 Kelas tambahan Speaking
17.30-18.30 Istirahat
18.30-20.00 Program Camp
20.00-21.30 Istirahat
          21.30             Tidur


         (To be continued)

Selasa, 01 April 2014

Menentukan Arah

Insya Allah:
2015 lulus kuliah
2015-2017 Kerja
2017 S2 ke Eropa atau Jepang

Halo blog yang sudah lama tidak kusapa, boleh aku sejenak bercerita?

Sejak kecil, keluarga besarku selalu menetapkan segala sesuatu dengan parameter "standar"
Harus berprestasi di kelas, tapi ga perlu lah itu juara Olimpiade atau ikut kompetisi segala macam
Harus masuk sekolah negeri, tapi nggak perlu lah jauh-jauh, yang deket rumah aja
Harus masuk UI, tapi ga perlu lah itu ikut organisasi sampai pulang malem dll

Ya, aku sejak kecil dididik untuk mengikuti alur hidup manusia normal: Sekolah-Kuliah-Lulus-Kerja-Nikah. Tanpa ada pencapaian atau gebrakan yang bisa membuat diri berkembang. Aku sesungguhnya membenci kondisi ini, namun kuakui memang ada beberapa faktor yang pada akhirnya membuatku merasa seolah terhambat untuk berkembang.
Namun, pertemuanku dengan kawan-kawan yang menginspirasiku perlahan-lahan mengubah itu semua. Aku tidak mau menjadi robot yang mengikuti arus hidup "normal", harus ada jejak yang membedakanku dengan robot-robot ciptaan orangtua itu.
Usiaku sekarang 21 tahun hampir 22, memasuki tahun-tahun terakhir kuliah. Sudah terlalu tua untuk mengikuti organisasi atau menciptakan prestasi, pikirku dulu.
Namun, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan yang menggugah di http://ceritadarikotahujan.wordpress.com/2012/12/30/catatan-akhir-tahun-2012/
Tulisan ini menyadarkanku, bahwa setiap orang akan menemukan titik balik dalam kehidupannya masing-masing. Setiap orang bisa mencapai impiannya selama ia berani untuk memimpikannya.
Aku, yang biasa memiliki target "standar" pun memberanikan diri untuk bermimpi. Ya, aku yang bahasa inggris saja tidak lancar ini memasang satu target baru (yang sebelumnya kupikir mustahil): aku ingin menempuh S2 di Eropa, tidak lama setelah aku lulus kuliah S1.
Dan demi mencapai mimpiku ini, aku akan menempuh segala cara. Doakan semoga aku berhasil mengejarnya, ya :)
Belum terlambat untuk menentukan arah, bukan?

Senin, 17 Februari 2014

Dead(th)line


“Kita semua tau betapa nggak enaknya ngerasain deadline, tapi kenapa kita nggak pernah kapok jadi deadliner?” – Quote by Camila Bani Alawia

Ya, deadliner. Kebiasaan orang yang suka menunda-nunda, mengerjakan mepet tenggat waktu... lalu kelabakan sendiri. Baru-baru ini, aku mengalami deadline yang merenggut waktu dan kebebasanku, dan membuatku membatin... “Ya Allah. Ampuni segala dosa-dosa hamba. Jangan beri hamba cobaan seberat ini :’( “

Begini ceritanya...

Baru-baru ini, aku, Muthi, sama Camila iseng-iseng berhadiah mencoba ikut Lomba yang diadakan oleh Mahkamah Agung. Lomba itu menganalisis putusan-putusan MA yang pernah ada. Dan hadiahnya guedeee banget. Alhasil, banyak banget anak FHUI 2011 yang ikut lombanya. Hari-hari kita mulai diwarnai curiga dan insecure. Setiap kali ngeliat ada anak-anak yang lagi berkumpul dan mengerjakan sesuatu, di otak terbayang perasaan was-was: “Mereka saingan! Kita harus berhati-hati.”

FYI, motivasi kita bertiga untuk mengikuti lomba ini berbeda-beda namun tetap satu:
-                 Mau upgrading diri
-                 Mencoba produktif
-                 Hadiahnya besar, lumayan
-                 Mau menyibukkan diri dengan kegiatan, daripada galau mikirin yang orang yang nggak seharusnya dipikirin *curcol*
-                 Mau membuat seseorang merasa menyesal karena telah meninggalkannya *lahh ini apa?*
Note: Satu orang bisa memiliki 3 alasan sekaligus

Setelah diwarnai perdebatan seru, kita mulai mengerjakan lombanya. Kita mulai ngerancang ini dari jaman liburan, kira2 ada sebulan sebelum deadline. Nyatanya? Ngerjainnya mepet-mepet deadline juga sih *merunduk malu*
Oh iya, selain lomba ini, gue sama camila juga ikut lomba lain namun dengan kelompok yg berbeda. Gue sama Adlul Ghaida, Camila sama Mbak Rana dan Mbak Gusva. Dan bayangkan saudara-saudara, dua lomba ini memiliki deadline yang cuma berbeda satu hari. Kalau dipikir-pikir nekat juga ya kita, berani mengambil dua lomba yang deadlinenya deketan. Tau sendiri orang Indonesia deadliner.

Alhasil, selama dua hari kemarin, Iffah begadang di kampus sampai malem dan nginep di rumah Camila. Kira-kira beginilah kronologis kejadian yang merenggut kebebasanku...

Jum’at
Pukul 23.59 adalah deadline essay buat penyisihan olimpiade. Pukul 16.00, Iffah masih ngotak-ngatik essay. Nunggu bahan dari Ghaida sama adlul. Nggak tahu topik essay mau dibawa kemana.
Pukul 18.00, Iffah bertemu kak Jihan. Lalu sempat labil untuk mengganti topik essay. Sayang deadline tidak memungkinkan.
Pukul 19.00, Iffah berkumpul dengan Camila dan Muthi di lobby untuk lomba putusan. Otak masih berusaha berfokus, pindah dari topik ekonomi syariah ke hukum perusahaan. Diskusi hebat, selesai pukul 22.00
Pukul 22.00 malam pulang ke rumah Camilla. Nunggu bahan essay dari adlul. Belum dikirim. Agak-agak hopeless
Pukul 23.40 Adlul mengirimkan bahan. Iffah berusaha mengcompile dengan sekuat tenaga
Pukul 23.59, Yahoo lemot. INNALILLAHI (part 1)

Sabtu
Pukul 00.02, essay baru terkirim.
Setelah hopeless bahwa essay nggak akan diterima, mendadak aku teringat bahwa ada cobaan lebih besar yang sedang menanti. Ya, deadline putusan hari ini.
Pukul 08.00, dapat konfirmasi dari panitia bahwa soal babak penyisihan olimpiade udah dikirim. Waktu deadline pengumpulan soal jam 21.00. Seneng karena essay diterima, insecure karena nanti malam adalah deadline putusan.
Lupa pukul berapa, ngerjain soal penyisihan olimpiade bareng Adlul Ghaida di kampus sampai jam 6. Memutuskan untuk multitasking ngerjain soal olim karena harus ngumpul bareng Muthi Camila
Pukul 19.00, makan dulu. Masih santai.
Pukul 20.00, masih bisa ketawa-tawa. Mushola Alfath kita jadikan basecamp
Pukul 20.40, baru inget bahwa deadline soal Olim jam 9. Kirain jam 23.59. Mengebut mengerjakan soal.
Pukul 20.59, soal olimp sent.
Pukul 21.30, masih tertawa-tawa, tapi tawa sudah berganti dengan tawa stress. Camila sama Muthi bajak-bajakan di facebook
Pukul 22.00, mulai panik
Pukul 23.30, mulai berantem
Pukul 23.40, listrik di FH mati termasuk wi-fi. INNALILLAHI (part 2)
Pukul 23.50, panik menjalar. Nggak ada wi-fi, akhirnya tethering dari HP camila.
Pukul 23.55, batre laptop camila yang menyimpan semua berkas udah low. Dan listrik masih mati. INNALILLAHI (part 3)
Pukul 23.58, berhasil mengejar deadline. Sent.

Hikmah dari semua ini, aku belajar: Deadliner adalah salah satu kebiasaan yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, jadi deadliner nggak Cuma ngerugiin diri sendiri, tapi bisa ngerugiin banyak orang, apalagi kalau kamu bekerja dalam tim.
Intinya satu: Jangan sampe jadi deadliner lagi, faaah!

Eh, btw belum ngerjain tugas filhum buat dikumpul besok nih. Udah dulu yaa *plaaak*
Sekian dan terima kasih,
Wassalamualaikum wr. wb

Minggu, 02 Februari 2014

Comeback!

Assalamualaikum...

Halo dunia blogger! Here we go, Iffah kembali! *peluk*

Agak-agak miris melihat postingan terakhir gue di blog ini, terakhir ngepost Maret 2013. *Digeplak sama blog kesayangan*. Oke, beberapa waktu yang lalu, gue memang sempat beralih ke situs mikro-blogging populer yaitu Tumblr yang memang lagi eksis-eksisnya. Salah satu keuntungan Tumblr dibandingkan Blogspot: kita bisa nge-reblog postingan orang lain, istilahnya ngeRetweet kalau di dunia Twitter. Tapi sayangnya, fitur itulah yang membuat gue malas untuk menulis di Tumblr. Bukan apa-apa, kalau menemukan tulisan bagus punya orang lain, bawaannya mau nge-reblog terus. Sampai-sampai suatu hari gue menyadari, postingan di Tumblr gue yang mencapai 143 postingan itu sebagian besar nge-reblog tulisan orang lain, bukan tulisan gue sendiri. Ya, gue mengalami kemandekan dalam berkreativitas. Kenapa? Sebab, gue keburu minder melihat tulisan orang-orang keren di Tumblr, sebut saja Kak Muhammad Akhyar, Kak Azhar Nurun Ala, Okti, Fara, dan beberapa teman lain yang gue follow di Tumblr. Akibatnya, gue nggak jadi ngepost tulisan yang gue buat di Tumblr, sebab gue sadar kualitas tulisan gue jauuh di bawah mereka. Malu-maluin, pikir gue saat itu.

Namun, gue lupa tujuan gue sebenarnya untuk ngeblog. Gue membuat blog untuk menulis apa yang ingin gue tulis, bukan untuk menulis apa yang ingin orang-orang baca. Pikiran salah kaprah yang selama ini gue anut membuat kebanyakan tulisan gue berakhir hanya menjadi draft. Draft. Draft. Draft. Padahal, sejelek apapun tulisan yang kita buat, tulisan itu tetaplah karya orisinal kita. Menulis karena ingin menulis apa yang ingin orang-orang baca, pada akhirnya membuat tulisan kita menjadi kehilangan jiwa. Padahal, bagi gue, menulis adalah ungkapan perasaan.

Oleh karena ituu, gue memutuskan untuk kembali ngeblog aja. Lebih privat, dan gue tidak perlu khawatir terpengaruh dengan tulisan orang-orang lain karena gue nggak terlalu banyak mengikuti blog orang, berbeda dengan Tumblr gue. Mulai hari ini, Iffah berjanji akan mulai menulis lagi!

Tahun 2013 adalah tahun yang..... buat gue. Segala macam peristiwa gue alami.

Gue jadi BPH BEM di Fakultas Hukum, yang lumayan menguras waktu dan perhatian. Anyway, gue menjadi Wakil Kepala di Departemen Pendidikan dan Keilmuan, yang lumayan memberi banyak pengalaman. Gue kenal sama orang-orang keren se-UI. Intinya, gue belajar banyaak banget tentang amanah.

Kuliah gue di tahun 2013, terutama di Semester 5 (yang terasa seperti neraka) mengingatkan gue bahwa kuliah itu serius, bukan untuk main-main. Nilai-nilai gue yang lempeng (nggak jelek, tapi nggak bagus juga sih) mengingatkan gue bahwa usaha berbanding lurus dengan hasil. Nggak ada lagi tuh cerita belajar seenaknya lantas dapat nilai-nilai bagus seperti semester-semester sebelumnya. Yaah, pokoknya, ini menjadi cambuk buat gue agar lebih meningkatkan effort untuk mendapat nilai bagus. Apalagi, gue udah berjanji sama Nana, kakak gue, untuk menjadi salah satu wisudawan cumlaude (Amiiin ya Allah. Masih ngarep loh :"). 

Masalah cinta.. (mari kita skip bagian ini. Sepakat? Okesip)

Di tahun 2013, gue juga untuk pertama kalinya mencoba belajar politik dengan menjadi Tim Sukses 
pemenangan salah satu temen gue, Andi.Walaupun pada akhirnya Andi nggak menang (kalah 32 suara, FYI yang menang itu sahabat gue juga, Fara jadi Wakabem FH. Jadi ga nyesek2 amat sih kikiki), gue belajar banyaaak banget dari tim pemenangan Melangkah Nyata. Yup, seperti kata pepatah, nggak ada sesuatu yang sia-sia. Gue belajar banyak walaupun dampaknya adalah waktu tidur gue hancur-hancuran di semester 5. (Mungkin gue akan ceritakan pengalaman itu di postingan selanjutnya :)).

Oh iya, keluarga gue juga mendapat sebuah anugerah luarbiasa di tahun 2013. Yup, kakak gue melahirkan seorang anak yang lucu dan cantik bernama Meyna Alika Wrestimurti. Mungkin di postingan lain, gue akan berbagi foto-foto si anak lucu berpipi tembem. Yup, Alika mewarisi pipi tembem dan kulit putih dari Mama-Papanya. Walau begitu, gue suka mengaku-ngaku Alika mirip gue karena dia terlahir dengan sepasang alis yang bagus, dagunya belah, dan memiliki lesung pipi (tolong yang baca jangan muntah). Di sela-sela Badai Bulan November alias bulan Pemilu, gue selalu menyempatkan menjenguk Alika sepulang kampus, di tengah kelelahan gue. Melihat wajah Alika selalu memberikan energi baru buat gue untuk menghadapi matahari esok pagi (agak hiperbola ya).

Honestly, 2013 menjadi tahun yang berat buat gue. Banyak tangis. Ada kecewa. Ada marah. Ada janji. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada banyak kejadian yang memberi tamparan dan cambukan. Namun, ada yang selalu ada dalam setiap kejadian di tahun 2013: Hikmah.

Semoga, kejadian-kejadian di 2013 membuat gue menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sekian saja mungkin postingan dari gue, gue akan posting cerita-cerita selanjutnya. See ya! :)

Jumat, 29 Maret 2013

Rabithah



“Ketika kau merasa dikecewakan atau disakiti oleh sahabatmu,

sampai pada satu titik kau ingin meninggalkannya;

memutus tali silaturahmi dengannya,

coba pikirkan ini:

Mungkin, sudah sejak lama ia juga merasa banyak dikecewakan dan tersakiti dengan sikapmu.

Namun, ia memilih untuk tetap bertahan;

ia memilih untuk tetap disisimu, menemanimu.”

-Anonymous



Aku pernah berkata, sahabat adalah jodoh yang dipilihkan Allah untuk kita. Baru kusadari, sama halnya dengan cinta, persahabatan adalah sesuatu yang tidak akan didapatkan dengan mudahnya. Perlu perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan untuk mempertahankan persahabatan karena begitu banyak cobaannya. 


Ada hari-hari ketika kita bercanda tawa, seolah hidup tanpa beban. Ada hari-hari dimana kita saling menyemangati satu sama lain walaupun jalan kita masing-masing berbeda. Ada suatu hari dimana kita saling beradu argumen, berdiri angkuh diatas ego yang tidak mau kalah. Ada malam-malam ketika kita mengelus dada, dengan airmata yang menetes, menahan sabar yang terasa semakin berat.

Namun, selalu ada doa rabithah yang terucap, terkirim ke langit. Berharap ikatan ini bisa terus dieratkan oleh-Nya.



Ada rahasia-rahasia yang tidak pernah diungkapkan satu sama lain. Ada prasangka yang tidak pernah dipastikan kebenarannya. Ada kecewa di hati yang tidak terucapkan, dipendam saja. Tidak pernah diungkapkan, namun semakin lama semakin menumpuk. Banyak orang yang berprasangka buruk kepada sahabatnya, tapi tidak pernah mau memastikan kebenarannya. Namun, apa kabar nurani kita, jika berprasangka sedemikian buruk kepada sahabat kita sendiri? Banyak orang yang ketika disakiti oleh sahabatnya, menolak mengungkapkannya terus terang, dengan alasan tidak mau menyakiti sahabatnya. Namun, sahabat macam apa kita, jika kita mengetahui sahabat kita melakukan kesalahan tetapi membiarkannya saja?

Sesulit itukah mencoba jujur, bahkan kepada sahabat kita sendiri?


The moment of truth... Does that always hurt?



Lalu, dalam kebimbangan seperti ini, marilah kita kembali kepada niat. Apa niat kita untuk membangun persahabatan ini? Jika kita membangun persahabatan hanya untuk keuntungan sendiri, lupakan sajalah. Persahabatan tidak berjalan satu arah, harus selalu ada take and give. Walaupun seringkali ada saja yang harus ikhlas karena ia selalu memberi namun tidak pernah menerima. Jika kita membangun persahabatan hanya untuk bersenang-senang, dan memilih untuk pergi tak tahu diri ketika sahabat kita dalam kesulitan, lupakan sajalah. Namun jika kita membangun persahabatan dengan niat ikhlas, untuk saling menguatkan, untuk saling berjuang bersama menyebarkan kebaikan, aku yakin persahabatan ini akan diridhai Allah sebagai persahabatan dunia-akhirat. Aku yakin kita akan terus kembali bersama, sejauh apapun kita melangkah.



Ada kecewa, ada sakit hati, ada prasangka, ada dendam, ada tangis. Namun, akan selalu ada Cinta, Doa, Kesabaran, Harapan, Kesetiaan, Perjuangan, Janji, dan Keterikatan untuk selalu bersama di jalan ini.

Semoga.


"Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu. Ya Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Ya Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka."
-Doa Rabithah- 



Senin, 11 Maret 2013

Kembali

Hari ini, kuberanikan jemari ini menulis lagi. Walaupun sesungguhnya jari-jariku menggantung ragu-ragu di atas tuts keyboard Laptop Putih-ku, mencari kata demi kata yang kurasa pas untuk mengungkapkan isi hati ini.
Aku kehilangan. Aku kehilangan "warna" yang kumiliki sebelumnya. Aku memudar. Aku bukan lagi aku. Mengapa? Ah, tidak mau aku menyalahkan siapapun, mungkin orang yang paling tepat untuk kusalahkan adalah aku sendiri.
Waktu, begitu cepat berlalu. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang berubah. Dan aku malah bergelung nyaman di Comfort Zone, dengan bodohnya menolak keluar. Kebodohan yang membuatku tidak bisa berkembang. Belajar dan bergaul dengan yang itu-itu saja, mempersempit ruang gerakku. Aku yang dulu tidak begini...

Ada satu kisah tentang harapan, satu pengharapan yang tidak kunjung usai. Melelahkan, menyita banyak waktu, menghabiskan sebagian besar ruang di kepala dan di hati. Aku lelah memikirkannya terus menerus, dan pada akhirnya aku sampai pada satu titik dimana aku memutuskan untuk melupakannya. Ya, masih banyak mimpi yang harus kukejar, dan kau tidak termasuk diantaranya.
 

Pada akhirnya, aku sudah tahu kemana seharusnya aku kembali. Hanya kepada Allah tempatku harus mengadu, ketika dunia terasa demikian sesak bagiku. Ketika semua mimpi terasa goyah. Ketika semua pekerjaan yang kucintai, yang seharusnya menyenangkan malah serasa memberikan tekanan. Harusnya aku tahu, ada yang salah dengan hatiku. Benarlah kata pepatah, "Ketika Hati rusak, rusaklah seluruh tubuh manusia". Benarlah kata pepatah, "Ilmu adalah Cahaya, dan Cahaya Allah tidak akan menghampiri orang yang bermaksiat". Ketika ada yang salah dengan niatku, dengan pikiranku, aku bukan lagi aku.
Ya Allah, aku ingin kembali seperti dulu. Menjadi hamba-Mu yang berpikiran lurus, tidak terganggu masalah politik atau apapun. Ketika hanya ada satu hal yang kucintai di dunia ini: belajar dan terus belajar.
Dan yang terpenting, aku ingin kembali kepada Mu....