Kamis, 19 Maret 2015

Kompetisi



Assalamualaikum...

Halo blog, sudah lama aku tidak berbagi cerita. Kali ini, aku ingin bercerita tentang kompetisi Olimpiade Ekonomi Syariah yang kuikuti beberapa hari yang lalu.

Suatu hari, aku melihat info tentang lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Second FEUI. Karena tertarik, aku bersama Asya dan Rico, junior-junior yang kukenal di Serambi, bertekad untuk mendaftar. Kami berdiskusi, merumuskan ide dan membuat paper sebagai syarat perlombaan. Namun karena saat itu di akhir tahun 2014 kami memiliki kesibukan lain, akhirnya paper itu terbengkalai. Aku sedang persiapan untuk mengikuti GUIM (Gerakan UI Mengajar), Asya sedang menjadi panitia Pemilu FHUI, dan Rico maju sebagai calon anggota independen BPM FHUI. Akhirnya, kami memutuskan untuk merelakan lomba itu, dan tidak mengirimkannya karena khawatir hasilnya kurang maksimal.

Namun, ketika satu pintu tertutup, Allah ternyata membukakan pintu lainnya.

Bulan Januari, kami melihat pengumuman mengenai lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Universitas Gunadarma, tetangga sebelah kami. Melihat tema perlombaan yang serupa dengan tema esai kami, aku mengajak Asya dan Rico untuk menyelesaikan dan mengirimkan esai kami ke perlombaan itu. Aku ingat, Olimpiade ini adalah lomba yang juga ingin kuikuti tahun lalu, namun aku tidak lolos penyisihan. Yang lolos adalah Camila, Mbak Gusva, dan Mbak Rana. Mereka bahkan mendapatkan juara dua dalam lomba tahun lalu.

Akhirnya kami mengirimkan esai tersebut. Sambil menunggu hari perlombaan, sesekali kami berkumpul dan berlatih soal-soal ekonomi Syariah. Selain mengirimkan esai, seleksi penyisihan juga dilakukan dengan tes tertulis online. Kami hanya memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan soal-soal pilihan ganda dalam tes online.

Hari-H tes online, kami berkumpul di kampus, di S n T yang wi-finya kencang. Aku berlari dari balairung sehabis melakukan Simulasi Mengajar Pendidik Rumah Belajar BEM UI. Untunglah aku tiba tepat waktu. Bersama Asya dan Rico, kami bertiga mengerjakan soal-soal tersebut dengan dibantu tumpukan buku-buku ekonomi syariah yang kami pinjam dari perpustakaan.

Beberapa hari berlalu setelah tes. Kami harap-harap cemas menanti pengumuman.
Pada jam 10 malam aku membuka website GSENT, dan membaca dengan hati berdebar.

Nama kami ada dalam daftar 15 tim yang lolos penyisihan. Alhamdulillah. Rasanya tidak percaya. Apalagi menurut cerita Fitra, temanku yang juga panitia GSENT, dari UI ada tiga tim dari Fakultas Ekonomi UI yang juga mendaftar, namun hanya tim kami yang menjadi perwakilan dari UI. Padahal kami dari Fakultas Hukum.

Bismillah.
Kami memutuskan untuk melanjutkan kompetisi dengan modal nekat. Di sela-sela jadwal kuliah Asya dan Rico yang padat, dan kesibukanku berlatih untuk tes TOEFL dan mengerjakan skripsi, kami meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah.

Sehari sebelum perlombaan, semua tim berkumpul di Universitas Gunadarman dan mengikuti Technical Meeting. Karena Asya dan Rico masih kuliah, aku datang sebagai perwakilan tim. Aku berkenalan dengan tim-tim lain yang berasal dari berbagai Universitas: ada yang dari Universitas Brawijaya, SEBI, Tazkia, UGM, namun sebagian besar tim berasal dari institusi UIN, yang di Jakarta, Malang, Bandung, dan Yogyakarta.

"Kalian dari KSEI juga?" tanya salah satu tim kepadaku.
Aku menggeleng. "Bahkan aku belum pernah dengar. KSEI itu apa?"
"Loh, setau aku FEUI punya KSEI juga deh. Yang kemarin buat lomba Olimpiade Ekonomi Syariah juga kan?"
Aku mulai ragu. "Mungkin mereka punya KSEI. Tapi kita bukan anak Fakultas Ekonomi. Kita dari Fakultas Hukum."
"Loh, kok anak Hukum bisa ikut lomba Olimpiade Ekonomi?" Ia terlihat terkejut.
Mana aku tahu, batinku cemas. Mungkin panitianya melakukan kesalahan dan salah memasukkan nama finalis?

Ternyata, kebanyakan dari mereka sudah sering mengikuti Olimpiade Ekonomi Syariah. Bahkan, semua tim yang bertanding --kecuali kami--merupakan anggota KSEI (komunitas Ekonomi Syariah di Universitas-Universitas seluruh Indonesia). Beberapa tim merupakan langganan juara Olimpiade Ekonomi Syariah. Kabarnya, beberapa hari yang lalu mereka baru saja mengikuti seleksi Olimpiade Ekonomi Syariah tingkat Regional yang baru diadakan antar KSEI se-Indonesia.

Mendengar cerita mereka, seketika nyaliku ciut. Bagi tim kami, ini pertama kalinya kami ikut Olimpiade Ekonomi Syariah. Apalagi kami tidak memiliki background core competence Fakultas Ekonomi, berbeda dengan tim lain yang berasal dari Fakultas Ekonomi atau jurusan Ekonomi Syariah. 

Menurut Camila, lomba GSENT tahun lalu adalah cerdas-cermat soal olimpiade per tim dan case study. Sementara babak finalnya adalah mempresentasikan esai yang kita buat. Oleh karena itu, tim kami mengatur strategi. Panitia memberikan kisi-kisi 12 materi yang akan keluar dalam soal. Kami membagi tugas: masing-masing orang bertugas mempelajari 4 BAB dari materi tersebut. Dengan begitu saat olimpiade, kami hanya perlu menjawab bagian yang kami pelajari. Setiap orang bertanggungjawab untuk menguasai materi yang menjadi kewajibannya. Dengan cara ini, kami bisa saling melengkapi dalam menjawab soal.

Namun rencana kami rusak karena ternyata peraturan telah berubah.
Babak Semifinal mencakup babak Tes Tertulis, Mini Council, dan Mini Presentation. Dalam tes tertulis, kami akan menghadapi 80 soal Pilihan Ganda dan 20 soal TTS yang harus dikerjakan secara terpisah. Setelah itu nilai dari setiap anggota tim akan dikumulasikan. Dalam sesi mini council, kami akan menghadapi case study. Di sesi mini presentation, kami harus mempresentasikan esai kami. Sementara untuk babak final, kami akan mendapatkan case study lagi dan diberi waktu 1,5 hari untuk membuat presentasi dan mempresentasikan jawaban kami.

Peraturan yang berubah cukup mengejutkan kami. Ini tidak seperti yang kami rencanakan. Aku, Asya, dan Rico bertatapan dengan campuran antara perasaan bingung, pasrah, dan jiper menghadapi lawan-lawan kami. Kami tidak siap.

“Yaudah teman-teman, kita pasrah aja ya. Nothing to loose. Kalaupun kita nggak lolos, toh ini bisa jadi pelajaran untuk anak-anak Serambi ikut lomba ini tahun depan.”

Kami memanfaatkan sisa waktu malam itu untuk mempelajari soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah. Kami tanya jawab soal di lobby penginapan, dengan tumpukan buku-buku di hadapan kami. Aku baru berhenti belajar jam 12 malam. Ikhtiar sudah maksimal, sisanya dipasrahkan saja kepada Allah, pikirku.

Pagi hari sebelum lomba, kami berkumpul untuk berdoa. Kami meluruskan niat, agar kami semata-mata mengikuti lomba ini untuk mengharumkan nama baik Serambi, LDF kami. Kami memohon doa agar dimudahkan oleh Allah dalam kompetisi ini.

Sesi tes tertulis tidak seperti yang kuharapkan. Walaupun aku sudah banyak belajar materinya, tetap saja aku kagok menjawab soal-soalnya yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Inggris. Aku bahkan sempat tertidur di tengah tes berlangsung. Kulirik Asya yang duduk beberapa meter di sebelahku, ia hanya tertawa pasrah.

Sesi presentasi lebih buruk lagi. Kami memaparkan ide kami, yang kami buat susah payah, namun juri tidak bertanya pertanyaan yang kami harapkan. Juri tidak menanyakan hal-hal yang substansial dari ide kami. Selain itu kami baru tahu bahwa juri tidak membaca esai yang telah kami buat dengan susah payah. Jadi, juri hanya menilai kami berdasarkan presentasi.

Sementara di sesi mini council, kami duduk melingkar menghadapi lima tim lainnya. Kami mendapatkan case study dan harus membantah atau mendukung jawaban tim lain. Tim lain mendapatkan case study mengenai LKMS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah), Baitul Maal, dan lain-lain yang aku merasa kami tidak dapat menjawabnya apabila dapat soal itu. Alhamdulillah, kami mendapatkan soal tentang Ekonomi Kreatif, yang sudah kami kuasai karena kami bahas dalam Essai dan pernah kami diskusikan sebelumnya. Baru pada sesi inilah kami dapat menunjukkan taring kami. Apalagi Asya sebagai anak yang sudah biasa debat, ia terlihat sangat menguasai ruangan.

Sesi semifinal selesai sudah. Seluruh tim dikumpulkan dalam satu ruangan. Panitia akan mengumumkan nama-nama empat tim yang lolos ke babak final berdasarkan kumulasi nilai-nilai seleksi semifinal.

Aku dan Asya berpegangan tangan, menanti dengan hati berdebar. Sejujurnya kami sudah pasrah, namun melihat performance tim kami saat mini council, secercah harapan muncul. Mungkinkah?

“Tim pertama yang lolos ke babak semifinal adalah....” panitia memperlambat tempo bicara, menikmati ketegangan yang muncul di wajah-wajah peserta.
“Universitas Brawijaya.”
Tim dari Universitas Brawijaya bersorak. Aku menyelamati Rita, anak Unbraw yang kukenal sejak awal bertanding. Wajah Rita terlihat campuran perasaan tidak percaya dan terharu.
“Universitas Gajah Mada.”
Aku menggenggam tangan Asya semakin erat sambil berdzikir.
“Universitas Indonesia.”
Kami bertatapan dengan wajah tak percaya. Tim-tim lain menyalami kami, memberikan selamat. Wajah Rico kulihat sama bingungnya, namun terlihat gembira.
Panitia mengumumkan UIN Sunan Kalijaga sebagai finalis keempat. Hasil tabulasi nilai muncul di layar depan. Ternyata kami tidak seburuk yang kami bayangkan, nilai kami berada di urutan kedua dari empat finalis.
“Selamat untuk para finalis, persiapkan diri kalian untuk final hari Jum’at nanti.” Panitia menutup acara.

Setelah para peserta bubar untuk kembali ke penginapan, kami bertiga, aku, asya, Rico, berkumpul dengan perasaan tidak percaya.
“Guys... kita udah sejauh ini. Kita udah nggak bisa mundur lagi. Nggak ada pilihan lain, kita harus menang. Gue percaya kok, kita sampai final pasti bukan karena kebetulan atau keberuntungan, tapi karena udah ditakdirkan Allah.”
Kamipun menyusun strategi untuk final. Namun sampai malam itu, soal untuk babak final belum juga diberikan. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Baru saat keesokan harinya kami mendapatkan case study yang harus dipecahkan saat final. Inti dari pertanyaan yang diberikan kepada kami adalah, “Apa langkah-langkah yang harus ditempuh agar Bank Syariah dapat bertahan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015?”
Kami menghembuskan nafas lega. Soal ini bukan tentang materi yang kami sama sekali tidak mengerti.
Tidak terasa waktu sehari berjalan cepat. Sehari kami lewatkan dengan lebih banyak diskusi, pembuatan PPT pun kami lakukan dengan terburu-buru dan seadanya. Asya sebagai perwakilan yang mempresentasikan hanya sempat latihan beberapa menit sebelum kami tampil. Apakah kami bisa tampil maksimal?

Kami terhenyak melihat deretan antrian mahasiswa yang berbaris, akan memasuki aula besar tempat kami akan presentasi.
“Mbak, itu orang-orangnya pada mau kemana? Bukan nonton kita, kan?” Asya memastikan pada panitia lomba yang berjaga.
“Mereka datang untuk menonton presentasi kalian. Selain para juri, kalian akan ditonton oleh 300 orang peserta seminar ini. Jadi dalam seminar ini, kalian jadi pembicara.” Panitia menjelaskan.
Kami terbengong-bengong. Tiga ratus orang? Dan mereka mau menonton kami, yang notabene masih mahasiswa ini, berbicara di depan? Wah, kami merasa tersanjung.

Kami mendapat urutan kedua dalam presentasi. Asya maju dan berbicara di podium. Harus kuakui, Asya memiliki public speaking yang amat bagus. Kami juga dapat menjawab pertanyaan dari juri maupun penonton dengan memuaskan. Namun kami agak khawatir, sebab tim lain memberikan solusi konkrit berupa program atau model, sementara solusi yang kami berikan adalah langkah-langkah, yang bahasannya luas dan tidak terfokus.

Semua peserta telah mempresentasikan jawabannya. Juri meminta waktu untuk berunding di ruangan lain. Tidak lama kemudian, para juri kembali memasuki ruangan.
 Juri siap untuk mengumumkan pemenang lomba ini.

Kami berdiri berjajar di depan panggung. Aku dan Asya bergenggaman tangan erat. Lomba ini hanya memiliki dua juara, juara satu dan dua. Itu artinya, dua tim dari kami tidak akan mendapatkan apa-apa.
“Juara keempat jatuh kepada...” Juri mulai membaca. “UIN Sunan Kalijaga.”
Genggaman tanganku dan Asya semakin erat. Sedikit lagi.
“Juara tiga jatuh kepada......” hening sejenak. “Universitas Gadjah Mada.”
Jantungku berdegup kencang. Kami bisa juara dua, atau juara satu. Tidak ada yang tahu.
“Dan juara satu, jatuh kepada....” aku memejamkan mata. “Universitas Brawijaya.”
Aku dan Asya berpelukan. Kami juara dua! Walaupun agak kecewa karena tidak mendapat juara satu, tetap saja kami bersyukur. Juara dua, bagi mahasiswa Hukum, diantara saingan-saingan kami yang berasal dari Fakultas Ekonomi, adalah sebuah pencapaian yang bagus.

Kami maju ke depan dan mengangkat piala itu. Disaat itulah, aku merasa bangga, karena pada tahun terakhirku di Universitas ini, ternyata aku bisa juga membantu mengharumkan nama baik Serambi.


Alhamdulillah.

Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan ikhtiar dan doa, segalanya jadi mungkin. Kami telah membuktikan hal itu. Entah mengapa, jalan kami dalam kompetisi ini sepertinya dimudahkan. Kami mendapatkan soal-soal yang kami kuasai. Kami bisa bertanding dengan baik, walaupun hasilnya belum maksimal.

Kompetisi ini membuatku merasa bersyukur mengenal junior seperti Asya dan Rico yang memiliki passion di bidang keilmuan. Aku belajar banyak sekali dari mereka, karena mereka cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas. Selain itu, pertemuan dengan mahasiswa penggiat ekonomi syariah dari seluruh Indonesia membuat tekadku semakin kuat untuk menjadi ahli di bidang Ekonomi Syariah.  

Kompetisi ini hanya salah satu jalan pembuka bagiku. Masih banyak jalan terbentang di depan mata yang harus ditempuh untuk mencapai cita-citaku.
Semangat!

Selasa, 17 Februari 2015

Be a Muslim Jurist


Sungguh tidak mudah menjadi mahasiswa Hukum. Apalagi di Indonesia, negara dimana hukum tidak memiliki supremasi apa-apa. Hukum rasanya sangat mudah diperjualbelikan, dipermainkan demi kepentingan politik semata. Ketika hukum dipermainkan oleh orang-orang yang berkuasa, banyak pihak yang terdzalimi bahkan oleh keberadaan hukum itu sendiri. Hukum, yang seharusnya dapat memberikan keadilan dan ketertiban, malah menimbulkan kekacauan baru.

Masih hangat dalam ingatan, kemarin vonis telah dijatuhkan dalam proses praperadilan calon Kapolri Budi Gunawan yang menjadi tersangka KPK. Hakim Sarpin memutus bahwa penetapan status Budi Gunawan sebagai tersangka KPK tidak sah, padahal bukanlah kewenangan Hakim dalam praperadilan untuk memutuskan sah atau tidaknya penetapan status tersangka. Hakim Sarpin, entah sadar atau tidak, telah menjatuhkan putusan yang melebihi wewenangnya. Tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun sayangnya, putusan praperadilan berkekuatan hukum tetap sehingga tidak dapat diganggu gugat. Sehingga, resmilah calon Kapolri Indonesia (yang notabene adalah unsur penegakan hukum tertinggi di Indonesia) adalah (mantan) tersangka koruptor.

Vonis ini menambah kekecewaan dalam dada mahasiswa hukum, termasuk aku dan kawan-kawanku. Tidak sedikit dari kami yang menitikkan air mata. Entah sudah berapa kali kami dikecewakan dengan putusan penegak hukum yang kami—mahasiswa hukum—tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kami pelajari tentang hukum. Sungguh sesak rasanya jadi mahasiswa hukum, karena apa yang diajarkan di ruang-ruang kelas bertentangan dengan realita penegakan hukum yang terjadi. Das sollen tidak sesuai dengan das sein. Tidak sedikit dari kami bertanya-tanya, untuk apa kami belajar hukum. Karena pada prakteknya, apa yang kami pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam kenyataan. Hukum di Indonesia sudah sedemikian mengkhawatirkannya.

Memang tidak mudah jadi mahasiswa hukum. Apalagi di Indonesia, dimana hukum sudah tidak dipercaya.

Tidak terhitung beberapa kali aku dalam perjalanan, seketika ditatap dengan wajah tidak ramah, ketika aku mengaku sebagai mahasiswa jurusan Hukum. Tatapan sinis itu disusul dengan racauan kemarahan entah ditujukan untuk siapa. Mengutuk penegakan hukum di Indonesia yang sedemikian bobroknya. Aku yang mendengarnya hanya bisa menunduk dalam-dalam. Mungkin tidak semua orang mengerti bahwa aku dan teman-temanku mempelajari hukum bukan untuk menjadi bagian dari penegakan hukum yang menyimpang. Kami belajar, agar kami tidak mudah dibodohi seperti orang-orang lain yang tidak mengerti hukum. Agar kami dapat meneriakkan keadilan ketika kami tahu hukum dipermainkan. Untuk itu kami menjadi mahasiswa hukum. Namun aku mencoba memaklumi, karena mereka pun geram dan prihatin dengan penegakan hukum di Indonesia yang asal-asalan. Seperti kami.

Memang tidak jarang muncul keinginan untuk menyerah. Menyerah saja pada keadaan penegakan hukum di Indonesia. Dan mulai realistis untuk mencari profesi lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, begitu besar harga yang dibayar untuk masuk ke dunia hukum. Pilihan pertama adalah menjadi terseret dalam sistem penegakan hukum yang buruk, ikut menjadi penegak hukum yang sewenang-wenang dan tidak adil. Ganjarannya adalah neraka, bila kamu percaya Tuhan itu ada. Pilihan kedua adalah menjadi penegak hukum yang bersih dan berintegritas, walau ganjarannya adalah gaji yang tidak seberapa, atau terkadang ancaman terhadap keluarga dan nyawa. Tentu saja, manusia yang rasional lebih memilih untuk tidak masuk dunia hukum daripada dihadapkan pada dilema seberat itu.

Namun tahukan kawan? Apabila semua orang bersih dan jujur menolak untuk masuk ke dunia hukum yang kotor, maka dunia penegakan hukum akan terus diisi oleh orang-orang yang tidak jujur dan tidak kompeten. Maka suka atau tidak, pilihannya adalah masuk ke dunia hukum dan menjadi bagian dari perubahan sistem.

Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku, Muthi dan Camila, merenung dalam. Berkeluh kesah tentang masa depan dunia hukum di Indonesia. Dan masa depan kami, mahasiswa hukum yang insya Allah suatu saat akan menjadi Juris atau penegak hukum di Indonesia.

“Kalian kebayang nggak sih, putusan Hakim Sarpin ini menghancurkan harapan mahasiswa-mahasiswa yang mau membangun hukum. Di otak mereka sekarang pasti muncul pikiran, ‘Astaga, gue kecil banget dibandingkan dengan orang-orang yang mau membunuh keadilan.’” Camila, satu dari sedikit mahasiswa FHUI di angkatanku yang bercita-cita menjadi hakim, menyuarakan kegalauannya. “Nggak kebayang, gue harus sekuat apa ketika gue jadi hakim kelak. Suami gue harus super kuat untuk menopang gue yang sebenarnya sok kuat ini. Gue diteror dikit pasti nangis...”

“Gue jadi inget cerita Ibunya Ishmah yang advokat di PAHAM.. beliau pernah cerita ke gue bahwa dia lagi insecure dan terus memantau anak-anaknya. Soalnya keluarganya diancam sama orang yang dia kalahkan di pengadilan.” Aku menghela nafas. “Emang kayaknya jalan hidup penegak hukum akan seperti itu. Tapi insya Allah berkah.”

“Ibunya Ishmah tau banget pasti, dunia hukum ini ladang jihad yang besar. Makanya dia tetap stay di sana. Someday, kita semua yang akan ada di posisi seperti itu, guys..” ucap Camila. “Di tempat dimana kita bisa berjuang, dengan cara masing-masing..”

“Karena kasus ini gue justru jadi semangat untuk masuk pemerintahan. Karena kita perlu seseorang yang memperbaiki hukum dari dalam sistemnya.” Muthi, sahabatku yang bercita-cita menjadi politisi memiliki perspektif lain. Dia bertekad untuk menjadi anggota DPR agar hukum-hukum yang dibuat legislatif tidak lagi sewenang-wenang. “Insya Allah gue akan masuk pemerintahan atau parlemen.”

Aku yang memang lebih tertarik pada dunia pendidikan memiliki cita-cita berbeda. “Gue udah punya visi masa depan.. gue akan bikin buku atau tutorial pelajaran law for dummies. Supaya orang-orang paham tentang hukum dan nggak gampang dibodohin penegak hukum yang ngaco.” 

Kami bertiga terdiam, mengaminkan cita-cita itu dengan kesungguhan. Berharap di masa depan kami bisa menjadi juris yang jujur. Tidak seperti penegak hukum yang telah banyak mengecewakan kami.

“Di umur sekarang, kita bertiga cuma saling mengingatkan di hal-hal ‘remeh’ seperti jaga hati dan jaga diri.. Di masa depan, materi ‘saling mengingatkan’ kita akan naik level. Untuk nggak keluar dari jalan perjuangan, dan tetap membela yang benar.” Camila membuatku tertegun. “Karena ketika kita udah berprofesi nanti, godaan juga akan semakin besar.”

Kami terdiam cukup lama. Meresapi kata-kata itu di benak masing-masing. Membuat janji dan cita-cita, yang kami tahu sangat berat, namun akan berusaha kami tepati. Menjadi jurist yang bersih dan jujur. Menjadi Muslim Jurist, jurist yang selalu membawa nilai-nilai Islam dalam dunia hukum kelak. Dan untuk menjadi sahabat yang saling mengingatkan dalam perjuangan menegakkan hukum di Indonesia.

Semoga.


Tulisan ini dibuat dengan segala kecemasan dan harap yang berkecamuk di hati. Ya Allah, lindungi Indonesia. Dan mudahkan jalan kami untuk menjadi pembangun peradaban Indonesia.

Rabu, 11 Februari 2015

Rumah Putih Besar Part 3


“Kalian ngapain sih di sana? Malam-malam pergi dari rumah, nggak bilang-bilang ke Ayah dan Ibu, terus malah menyelinap ke rumah kosong. Kalian tau nggak betapa khawatirnya Ibu pas Pak Usep bilang kalian menjerit dari rumah kosong?”

Suasana di meja makan pagi ini terasa sedikit suram. Ibu dan Ayah masih mengomel karena kejadian semalam, sementara aku dan Rara tidak berani membela diri. Kejadian semalam masih membekas di pikiran kami. Pak Usep, satpam komplek yang kebetulan lewat, mendengar jeritan kami dan bergegas menerobos rumah kosong itu. Menarik kami yang masih menggigil ketakutan, tak mampu bergerak di ruang bawah tanah rumah putih besar itu. Untung saja jeritan kami belum membuat ricuh satu komplek. Pak Usep mengantarkan kami pulang, sambil mengomel karena kami nekat malam-malam menerobos rumah kosong.

“Cuma.. Cuma penasaran kok bu..” Aku menjawab takut-takut. Bagaimanapun, aku yang bertanggungjawab karena telah mengajak Riri.

“Sebenarnya apa yang kalian lakukan di rumah bekas keluarga Matteo?” kali ini Ayah yang bersuara.
“Keluarga Matteo?” Aku dan Rara berpandangan.

“Ayah, sebenarnya rumah itu... rumah itu kenapa?” Rara tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Rara lihat, di rumah itu ada bekas-bekas darah.. dan berantakan.. seperti habis ada perkelahian, atau perampokan.”

Gantian Ayah dan Ibu berpandangan. Sepertinya mereka sedang menimbang-nimbang. Ibu menghela nafas, kemudian mengangguk kecil kepada Ayah, seperti mempersilahkan.

*** 

Malam yang cerah, tidak ada tanda-tanda akan terjadi suatu peristiwa mencekam di rumah keluarga Matteo. Seperti malam-malam sebelumnya, Tuan Matteo berkumpul di ruang makan bersama Tatiana, istrinya dan Adelia, Adriana, dan Agnes, anak perempuannya yang cantik-cantik. Nyonya Tatiana sudah menyiapkan Lasagna, masakan andalannya yang merupakan kegemaran Tuan Matteo. Gelak tawa bahagia menambah keceriaan malam itu. Kebahagiaan mereka bertambah tatkala mendengar kabar bahwa Tuan Matteo baru saja ditugaskan oleh atasannya untuk mutasi kerja ke Italia. Itu artinya, mereka akhirnya akan kembali ke negara asal setelah sekian lama mereka tinggal di Indonesia.

Suara bel berbunyi. Serentak mereka menoleh ke arah ruang tamu.
“Papa, sepertinya ada tamu.” Agnes, anak bungsu mereka yang berumur 7 tahun, menunjuk ke arah pintu masuk.
“Aneh. Papa tidak ingat ada janji dengan orang.” Tuan Matteo mengerutkan keningnya.
“Biar Mama yang membukakan.” Dengan sigap Nyonya Tatiana bangkit dari duduknya. Ia sempat mengelap dengan sayang saus Lasagna yang masih tercecer di dagu Agnes, sebelum berlalu menuju pintu depan.
“Jadi, kita kembali ke Italia bulan depan? Horee! Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan nenek.” Senyum bahagia muncul di wajah Adelia.
Tuan Matteo tersenyum sambil mengangguk.

“Kyaaaa...!”
Terdengar suara jeritan tertahan dari ruang tamu, disusul suara ambruk. Serentak keluarga Matteo menghentikan aktivitas mereka di meja makan. Mereka melongok ke ruang tamu dengan ketakutan.

Apa yang terjadi selanjutnya sulit dibayangkan. Tiga orang berpakaian hitam dan bertopeng masuk menerobos ruang makan dengan membawa senjata tajam. Tuan Matteo, yang maju dan berusaha melindungi putri-putrinya, diserang terlebih dahulu dan tewas dengan kepala terpenggal. Sementara Tatiana, Adelia, Adriana, dan Agnes diseret ke ruang bawah tanah rumah mereka. Mereka diperkosa secara bergantian.  Setelah puas melampiaskan nafsu bejat mereka, kawanan perampok itu memenggal kepala mereka satu persatu dengan menggunakan pedang koleksi Tuan Matteo yang tersimpan di ruang bawah tanah. Kawanan perampok itu meninggalkan rumah keluarga Matteo dengan membawa seluruh harta mereka. Meninggalkan rumah keluarga Matteo dalam kondisi yang tragis.

***

“..sejak saat itu, tidak ada yang berani mendekati rumah keluarga Matteo. Rumah itu dibiarkan terlantar, dalam kondisi sama persis ketika mereka dirampok. Sudah dua tahun berlalu, sampai sekarang bahkan pemilik komplek ini pun tidak bisa menjual rumah bekas keluarga Matteo ke siapapun. Tentu saja, tidak ada yang mau membeli rumah tempat terjadi perampokan sadis.”

Ayah menatap aku dan Rara yang sedari tadi menahan nafas mendengar ceritanya, “Perampokan itu terjadi persis sebulan setelah kita tinggal di komplek ini. Ingat tidak? Seminggu sebelum hari ulang tahun kalian. Maka dari itu, Ayah dan Ibu selalu melarang kalian untuk bermain di sekitar rumah itu. Ayah dan Ibu khawatir.”

Rara menyikut pinggangku, takjub. “Siapa sangka Ri, rumah itu menyimpan cerita yang sangat seram? Kalau aku udah dengar cerita itu sebelumnya, biar dibayar juga aku nggak akan mau deh ke sana malam-malam.” Kata Rara setengah ngedumel.
Aku hanya mengangguk, masih bingung.

“Ayah.. Riri mau tanya..” aku ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Apakah keluarga Matteo punya anak laki-laki?”
Ayah terlihat terkejut. “Setau ayah tidak, kenapa Ri?”
“Tidak punya? Tapi... aneh..” Tentu saja, aku tidak berani menceritakan isi mimpiku kepada Ayah dan Ibu. Bisa-bisa mereka menganggapku gila, berkhayal mengenai rumah keluarga Matteo tempat tragedi itu terjadi.

Lalu siapa sebenarnya Carlo?


Senin, 22 Desember 2014

Kepada Malaikat Tanpa Sayap, tentang Yang Tak Terucap


Malam, Ummi. Di sela-sela tugas kuliah dan organisasiku yang menumpuk, aku memutuskan menghentikan diri sejenak. Mengambil pena dan selembar kertas, mulai merangkai kata.

Hahaha, sebenarnya ini sangat lucu. Kita bertemu setiap hari, berbincang setiap hari, bahkan saat aku menulis ini, kamar tempatmu sedang terlelap terletak tidak jauh beberapa meter dari pintu kamarku. Tapi entah mengapa, lidahku kelu, sekedar mengucap “Aku sayang Ummi” sambil memelukmu pun aku tak mampu. Tapi, tahukah kau Ummi? Terkadang perasaan yang begitu dalam memang tidak bisa diungkapkan dalam untaian kata. Cukup dirasakan saja.

Umi ingat kan, secara genetis, keluarga kita terbagi menjadi beberapa golongan. Abi membawa gen putih-gemuk-pendek, sementara Ummi membawa gen kulit gelap-tinggi-kurus. Akibatnya, anak-anak Ummi dan Abi pun memiliki gen campuran itu, ada yang putih-pendek-gemuk, ada yang putih-tinggi-kurus (beruntung sekali dia), kulit gelap-pendek-gemuk (pukpuk) atau seperti aku, kulit gelap-tinggi-kurus. Ummi tahu kan, waktu kecil aku sering sekali diledek oleh Imah, Nana, Iti. Aku dibilang anak angkat karena mukaku berbeda dengan Imah, Nana, Iti, bahkan Una dan Ica, karena mereka cantik dan berkulit putih. Selain Ajam dan Imam, anak laki-laki Ummi yang memang suka bermain panas-panasan, cuma aku saja yang berkulit gelap di rumah. Dulu aku selalu menangis setiap mereka meledekku begitu, bahkan diam-diam aku percaya bahwa aku anak angkat.

Namun semua orang bilang, justru akulah anak Ummi yang paling mirip Ummi. Setelah aku lumayan besar, aku baru sadar akan hal itu. Bahkan pernah, suatu hari aku bertemu teman Ummi yang langsung mengenaliku sebagai anak Ummi karena hal simpel, “Muka kamu mirip Ummi kamu.” Lalu aku sadar, ternyata aku memang anak Ummi.

Sekarang aku bisa menegakkan kepalaku dengan angkuh dan membalas ledekan saudara-saudara yang lain, “Nggak ada yang mukanya mirip sama Umi selain Ipah. Justru kalian yang anak angkat.  Week!”

Bagiku, Ummi adalah malaikat tanpa sayap. Bukan, aku memanggil Ummi malaikat bukan karena Ummi sempurna. Ummi suka mengomel seperti Ibu-ibu pada umumnya. Terutama bila aku bangun kesiangan, aku belum sholat, atau belum mandi.

Ummi seperti malaikat karena Ummi selalu menjaga dan melindungi anak-anaknya, terkadang bahkan Ummi bisa overprotective. Aku ingat dalam sehari Ummi bisa meneleponku lebih dari lima kali untuk bertanya, “kamu dimana?”, “gimana ujiannya?”, “Iffah kok belum pulang?”. Hebatnya, Ummi melakukan kebiasaan itu tidak hanya kepadaku, tetapi kepada delapan orang anak-anaknya. Tak jarang aku bertanya-tanya, berapa kira-kira tagihan pulsa Ummi dalam sehari, ya?

Terkadang kebiasaan Ummi menelepon itu membuatku bete sendiri karena beberapa dari telepon itu menggangguku di sela-sela kuliah atau rapat. Namun ternyata aku baru menyadari, aku lebih sedih bila seharian handphoneku sepi tanpa satupun telepon dari Ummi.

Sifat protektif Ummi terkadang membuatku kesal. Suatu saat teman-temanku mengajakku naik gunung. Aku memohon-mohon kepada Ummi untuk diizinkan naik gunung, tapi Ummi malah berkata, “Kamu boleh naik gunung, asal yang ada villanya.” Jujur hal ini masih membuatku kesal sampai sekarang. Rasanya aku ingin memprotes, Ummi, aku sudah besar sekarang. Aku mau melihat dunia. Tapi aku tahu, sesungguhnya Ummi khawatir hal-hal terburuk terjadi pada anaknya.

Ummi ingat tidak, waktu tahun 2013 aku mengikuti studi banding ke Universitas-Universitas Negeri di pulau Jawa? Ummi sempat tidak membolehkanku karena perjalanan itu memakan waktu empat hari dan menggunakan Bis. Apalagi, beberapa hari sebelumnya salah seorang kawanku meninggal karena kecelakaan bis saat acara Universitas. Namun aku tetap bersikukuh memaksa berangkat. Akhirnya dengan berat hati, Ummi melepasku dengan syarat, “Satu jam sekali, kamu harus SMS ngabarin Ummi, kamu udah sampai dimana. Kalau nggak ngabarin, langsung Ummi telepon!”

Akhirnya aku melaksanakan tugas itu dengan patuh, walau harus jungkir balik mencari sinyal dan mengemis-ngemis power bank milik teman-temanku demi mengisi ulang baterai handphone selama empat hari perjalanan. Ini semua kulakukan agar Ummi setidaknya merasa aman.

Ketika liburan kuliah semester 6, aku memberanikan diri untuk pergi liburan ke pulau Jawa bersama Camila. Bagiku ini hal baru, karena Ummi hampir tidak pernah memperbolehkanku pergi jauh-jauh dari rumah. Namun aku berusaha keras membujuk Ummi, meyakinkan Ummi bahwa ini semua demi aku bisa belajar bahasa Inggris di Pare. Akhirnya Ummi melepasku pergi selama dua minggu dengan berat. Ummi bahkan memasakkan beberapa makanan kering untuk kubawa, karena takut aku nanti kelaparan di sana. Namun sepertinya Ummi menyadari, bahwa aku sudah dewasa. Sudah saatnya aku sedikit berkelana.

Aku juga terkadang kesal ketika Ummi lebih sering menyuruh-nyuruhku untuk melakukan pekerjaan rumah dibanding Imah, Nana, iti, Ajam, Una, Ica, atau Imam. Perasaan dongkol sering membuatku memprotes, “Kok aku doang yang disuruh? Yang lain dong!” Begitu pula dalam hal ibadah atau pelajaran, aku dituntut harus melakukannya dengan sempurna, sementara adik atau kakakku yang lain dibiarkan saja.

Suatu hari seorang sahabat menasihatiku, “Itu artinya, Ummi kamu lebih menaruh harapan yang besar ke kamu. Mungkin sama kakak atau adik kamu dia udah menyerah, tapi ke kamu, dia masih punya harapan kamu akan jadi anak berbakti.” Atau seseorang yang lain pernah berkata, “Mungkin itu karena kamu mirip dia. Jadi dalam diri kamu, Ummi melihat ada cerminan dirinya, yang diharapkan bisa berakhlak lebih sempurna.” Benarkah begitu, Ummi?

Namun tentu saja semua kesal yang kutumpahkan tidak beralasan. Aku tahu Ummi melakukan segalanya untuk anak-anak Ummi, begitu banyak hal dalam hidup yang telah Ummi korbankan.

Aku ingat waktu kecil, setiap Ummi pulang bawa makanan, kami anak-anak Ummi berebutan makanan sampai-sampai Ummi tidak kebagian. Ummi selalu menolak jatah Ummi dengan alasan, “Ummi nggak laper, tadi Ummi udah makan.” Dengan gembira, kami melahap jatah makanan Ummi. Bodohnya, dulu aku percaya bahwa Ummi benar-benar sudah kenyang. Aku yang masih kecil ini tidak tahu, bahwa seorang Ibu akan rela kelaparan demi membuat anak-anaknya kenyang.

Waktu kecil, aku selalu memprotes Ummi, kenapa Ummi jarang di rumah. Kenapa disaat anak-anak lain dimasakkan makan siang oleh Ibunya, aku hanya bisa makan makanan katering atau buatan pembantu rumah tangga. Kenapa disaat anak-anak lain ditemani Ibunya membuat PR, aku harus mengerjakan PR-ku sendiri atau meminta bantuan dari kakak-kakak yang sama sekali tidak membantu. Aku sering bertanya-tanya mengapa keluargaku tidak seperti figur-figur keluarga di buku PPkn, dimana Ibu selalu ada di rumah. Namun dibalik protesku itu, mana aku tahu bahwa Ummi adalah wanita yang bekerja? Mana aku tahu bahwa ternyata, Ummi setiap hari berangkat naik kereta berdesak-desakkan dengan arus penumpang commuter dari Depok ke Jakarta. Belum lagi, kereta zaman dulu belum dilengkapi AC. Sekarang, ketika aku melihat arus commuter people yang tergencet-gencet menaiki kereta, tak urung aku bertanya-tanya dengan pilu, kondisi seperti inikah yang harus Ummi hadapi dulu?

Begitu pula saat aku beranjak dewasa, aku masih saja menyusahkan Ummi. Kebiasaanku pulang malam selalu membuat Ummi cemas. Tentunya Ummi khawatir, aku akan mengalami hal-hal buruk saat pulang larut malam. Terkadang Ummi meneleponku berkali-kali untuk memastikan aku sudah pulang atau belum. Aku semakin menambah kepanikan Ummi bila ternyata handphone-ku mati. Tak jarang, ketika aku pulang Ummi masih menungguiku di sofa ruang tamu, kadang-kadang ketiduran. Ummi, maaf ya? Aku selalu saja membuat Ummi cemas.

Bagiku, Ummi adalah panutan karena Ummi adalah wanita yang tangguh. Disela-sela masalah yang rasanya setiap hari selalu berdatangan, Ummi selalu bersabar. Aku tahu, Ummi mengalami tekanan dan masalah dari berbagai arah. Dari suami, dari keluarga, bahkan sampai kami anak-anak Ummi yang terkadang suka bandel. Namun Ummi tetap bersabar, tetap tersenyum tanpa membalas. Terkadang aku terbangun di tengah malam, kulihat Ummi sedang berdoa sambil sesenggukan. Mungkin, hanya kepada Allah-lah Ummi bisa mengadukan semua masalahnya, ketika orang-orang yang diharapkan bisa menopangnya ternyata tidak bisa membantu.

Ummi, aku menyayangimu. Walaupun perasaan ini tak mungkin kuungkapkan dengan kata-kata, namun selalu kutuangkan dalam doa di sepertiga malam. Kepada Allah, aku selalu meminta agar Ummi diberi kekuatan. Aku bahkan pernah berdoa agar semua pahalaku dipindahkan ke Ummi, walaupun sejujurnya aku tidak tahu apakah pahalaku cukup banyak untuk mengantarkan Ummi ke surga. Aku tidak menyesal walaupun misalnya pahalaku dimulai dari nol lagi, yang penting aku ingin Ummi mendapatkan tempat terbaik di Surga nanti. Aku ingin semua pengorbanan Ummi diganjar dengan hadiah tertinggi.

Ummi, aku belajar banyak dari kemandirianmu, dari ketabahanmu, dari ketangguhanmu menghadapi dunia. Dalam penutup doaku, aku selalu berharap...

Semoga suatu hari nanti, aku bisa menjadi wanita setangguh Ummi.







       



          -Postingan ini sebenarnya sudah lama aku buat, cuma baru selesai bertepatan dengan hari Ibu. Selamat Hari Ibu, Ummi! :)

Jumat, 12 Desember 2014

Rumah Putih Besar Part 2


“Ri, kamu kenapa? Muka kamu kok pucat banget?” Seperti biasa, Rara selalu menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan dalam air mukaku.
“Ada yang aneh Ra.. Ada yang salah sama Rumah Putih Besar itu, aku yakin!” bibirku gemetar saat mengucapkan kata-kata itu di kelas. Aku bahkan belum sempat menaruh tas di kursiku yang bersebelahan dengan Rara.
Rara mengerutkan keningnya. “Rumah yang mana maksud kamu, Ri?”
“Rumah yang di persimpangan jalan itu Ra, yang catnya warna putih, berlantai tiga. Yang tempo hari kita lewatin waktu naik sepeda!” Aku menarik nafas sejenak lalu kembali melanjutkan, “Kemarin kamu bilang kan kalau rumah itu nggak ada penghuninya. Tapi tadi pagi aku ngeliat anak laki-laki mengintip dari jendela!”
Rara terperanjat, “Masa’ sih Ri? Aku yakin banget rumah itu nggak ada yang nempatin. Udah cukup lama rumah itu kosong.”

Aku menghela nafas sesaat lalu duduk di kursi, meletakkan tasku. Sejuta pikiran berkecamuk di benakku. Mungkin ketakutanku berlebihan. Mungkin juga, aku hanya berhalusinasi membayangkan melihat orang di jendela Rumah itu. Dari sudut mataku, kulihat Rara sedang berpikir keras.

“Ri..” Rara kembali membuka mulutnya. “Kamu inget nggak? Dulu waktu pertama kali kita tinggal di komplek ini, waktu dulu kamu masih sering naik sepeda, kita sering sepedaan di sekitar rumah itu. Tapi suatu hari, Ayah dan Ibu tiba-tiba melarang kita untuk melewati daerah di sekitar rumah itu.”
Aku mencerna sejenak kata-kata Rara. Terakhir kali aku rutin bersepeda bersama Rara adalah dua tahun yang lalu. “Oh iya ya, aku baru inget... Tiba-tiba Ayah dan Ibu bilang kita nggak boleh main ke daerah itu, tapi mereka nggak mau menjelaskan alasannya.”
“Kenapa ya Ayah sama Ibu melarang? Sebenarnya apa yang salah dengan Rumah itu?”

***

“Ri, kamu yakin?” Rara menatap wajahku cemas.
“Ra, cuma ini jalan satu-satunya supaya kita nggak penasaran lagi.” Aku menatap pagar putih bergaya minimalis yang membentang melindungi halaman Rumah Putih Besar itu. Matahari sudah lama terbenam, jalan di sekitar Rumah Putih Besar itu sudah sepi, tidak ada kendaraan maupun orang yang melintas. Syukurlah, tepat seperti yang aku dan Rara inginkan.

Beberapa jam sudah kami habiskan untuk menyusun rencana. Rara sempat menolak mentah-mentah usulku untuk menyelidiki Rumah Putih Besar itu, namun aku membujuknya, demi menghilangkan rasa penasaran kami. Akhirnya Rara setuju juga. Kami membawa beberapa peralatan dalam ransel kecilku untuk berjaga-jaga, seperti tali rafia, pisau lipat, dan senter.

Di malam hari, Rumah Putih Besar itu jauh lebih menakutkan daripada di siang hari. Lampu-lampunya mati, halaman rumah itu ditumbuhi rumput-rumput liar dan sampah daun yang berserakan. Rara mengguncangkan pagar putih itu, namun kami menyadari bahwa di balik penampilan luar pagarnya yang terlihat mulai karatan, pagar itu masih kokoh berdiri. Tidak goyah sekalipun karena guncangan dari Rara.
“Sepertinya kita memang harus memanjat masuk, ra..” Aku memutuskan.

Kami mengeluarkan gulungan tali rafia dan mulai merajutnya menjadi tangga tali. Syukurlah, ternyata keterampilan membuat simpul yang kami pelajari saat Pramuka dulu berguna juga. Ujung simpul dari tangga tali tersebut kami ikat pada gagang pisau kecil, yang kemudian kami tancapkan ke permukaan tanah. Setelah memastikan tangga tali tersebut cukup kokoh untuk dipanjat, aku mulai memanjat tangga tali itu pelan-pelan. Rara mengawasi sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat kami memasuki rumah itu.

“Krosak!” Rumput-rumput liar di halaman rumah bergemerisik saat aku mendaratkan kaki. Aku memandang ke sekeliling. Pintu masuk rumah tersebut letaknya agak ke pinggir, tidak terlihat jelas dari sela-sela pagar. Kami harus mendekatinya. Dari jauh, jantungku berdetak melihat pita kuning yang meliliti gagang pintu besar kokoh itu.

“Ra, kamu lihat itu?” Suaraku bergetar ketika menunjuk ke arah pintu masuk. Rara yang baru saja mendarat di sampingku membaca tulisan di garis kuning yang kutunjuk.
“Police..Line?” Suara Rara sama tak percayanya denganku. “Apa yang pernah terjadi di rumah ini?”

Tanpa suara, kami bersama-sama mendekati pintu masuk itu. Dengan tangan, kami berusaha melepaskan pita garis polisi yang meliliti gagang pintu kayu itu. Aku mendorong pintu. Aneh, pintunya tidak terkunci!
Pintu kayu itu berayun membuka dengan derit pelan dari engsel yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Sebuah kegelapan total dan bau apak menyambut kami.

“Senter, Ri! Senter!” Suara Rara setengah panik mengingatkan. Kami mengeluarkan senter masing-masing dari tas dan mulai menyalakan senter, perlahan memasuki rumah yang berbau apak itu.

Ruang pertama yang kami masuki sepertinya ruang tamu. Kami menyoroti sudut-sudut ruangan, ternganga kaget melihat kondisi rumah yang acak-acakan. Sofa-sofa dan meja tamu berada dalam posisi miring, bantal-bantal sofa jatuh ke lantai. Ada yang ganjil dengan beberapa susunan barang, sepertinya perabot dalam rumah ini tidak lengkap. Rumah ini sepertinya pernah mengalami...
“Mereka dirampok.” Rara tercekat, menyuarakan apa yang juga kupikirkan.

“Lewat sini, Ra.” Aku mengajak Rara ke ruangan sebelahnya. “Ini ruang makan.”
“Ri, bagaimana kamu tahu..?”
Aku terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaan Rara. Aku tahu begitu saja.
Jantungku berdebar-debar, karena aku merasa lebih mengenal sudut-sudut rumah ini daripada siapapun. Tapi kenapa...?

Suasana yang lebih mencekam menyambut kami di ruangan besar tersebut. Sebuah meja makan yang berukuran cukup besar terletak di depan kami. Bangku-bangku makan tidak tersusun rapi, beberapa jatuh terguling ke lantai. Begitu pula taplak meja putih yang beberapa bagiannya kotor terkena bercak-bercak hitam. Di lantai, kami melihat beberapa buah pisau, garpu, dan sesuatu yang sepertinya pecahan piring berserakan.

Aku menyorotkan senterku ke sudut kanan ruangan. Sebuah perapian besar yang sepertinya jarang digunakan menarik perhatianku, entah kenapa. Di atas perapian itu ada sebuah foto keluarga yang masih terpasang rapi. Aku mengusapkan tanganku ke permukaan kaca pigura, menyingkirkan sarang laba-laba dan debu tebal yang menutupi foto.

Jantungku berdegup semakin kencang.
Di depan mataku, wajah-wajah latin sedang berpose anggun dalam foto keluarga. Wajah mereka mirip Carlo.
Merekakah pemilik rumah ini?

Mataku berkelebat liar menelusuri foto keluarga itu, namun aku tidak menemukan wajah Carlo. Satu-satunya laki-laki dalam foto itu adalah seorang pria seumuran Ayah yang berkumis tebal, terlihat berwibawa, duduk memegang tongkat dan dikelilingi empat orang yang sepertinya anak perempuannya dan istrinya yang berwajah cantik, seperti pemain telenovela yang biasa ditonton Ibu. Mereka mirip Carlo, tapi tidak ada wajah Carlo.

“Riri...” Sebuah suara berbisik memanggilku, membuatku terlonjak.
“Ra, jangan bikin kaget dong!” Aku berbisik keras kepada Rara yang masih sibuk mengobrak-abrik rak buku yang terletak beberapa meter di sebelah kiriku, menyorotinya dengan senter.
“Apaan sih Ra? Aku dari tadi nggak ngapa-ngapain.” Rara membela diri dengan sedikit berbisik.
“Tadi kamu manggil-manggil aku kan?”
“Enggak! Sumpah.”
“Terus siapa yang manggil aku?”
Bulu kuduk kami berdua mulai berdiri.

“Kita harus cepat-cepat keluar, Ra.” Aku berbisik cemas. Rara mengangguk.
Kami menyoroti ruangan dengan liar, mencari-cari jalan keluar.
“Ke sini bukan, ya? Aku lupa.” Aku menggumam heran. Sepertinya ini jalan yang benar.
Senter yang kusorotkan bertumbukan dengan sebuah bayangan hitam di lantai. Kotoran apa ini? Aku mengikuti arah kotoran hitam yang membentuk jejak-jejak di lantai itu, sampai jejak hitam itu berhenti di sebuah pintu.

“Ri, kamu yakin ini arah yang benar?” Rara mencekal lenganku. Aku menepisnya, membuka pintu tersebut. Sebuah tangga ke bawah tanah menyambut kami.
“Ri, kamu mau kemana? Riri!”
Tanpa berpikir, aku mulai menuruni tangga tersebut, tidak menghiraukan panggilan lemah Rara yang melarangku. Akhirnya ia mengikutiku menuruni tangga, sepertinya takut kalau harus menunggu sendirian.

Kami sampai di dasar tangga. Aku menyorotkan senterku ke sudut-sudut ruangan yang tak terlalu besar itu.

Sebuah pemandangan luar biasa menyambut kami. Ruang bawah tanah itu penuh dengan bercak-bercak hitam yang memenuhi sampai ke tembok. Tali-temali berserakan di lantai. Sebuah pedang yang berkilat di lantai juga dipenuhi dengan bercak hitam itu.
Aku dan Rara berpandangan dengan air muka yang sama. Sepertinya kami sama-sama mengetahui, bahwa bercak-bercak hitam itu adalah....darah.

“Riri.” Kini suara itu memanggilku lebih keras.
Suara yang bukan berasal dari Rara.
Jeritan kami melengking merobek keheningan malam itu. 
***






PS: Maaf ternyata ga bisa konsisten 30 hari nulis blog huhuhuhu :') Tapi tunggu postingan Rumah Putih Besar selanjutnya. Penasaran kan? kan? kan? #ngeselin